Setitik Cahaya dari Indonesia Timur Dalam Pemanfaatan Limbah Sayur Menjadi Biogas Sebagai Energi Alternatif di Tanah Intan Bulaeng

oleh -12 views
Ani Sulastri
bankntb

Oleh: Ani Sulastri (Mahasiswa Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

SUMBAWA BESAR, SR (26/03/2017)

amdal

Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia yang terus meningkat mengakibatkan jumlah sampah yang dihasilkan juga bertambah. Kondisi ini tidak bisa dipungkiri lagi karena akan menjadi masalah yang penting untuk pengelolaan sampah di Indonesia yang masih belum memadai. Sampah hanya dikumpul, diangkut lalu dibuang ke lokasi pemrosesan akhir (LPA). Pengelolaan sampah yang demikian berpotensi besar mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat yakni salah satunya adalah kesehatan.

Sampah terdiri dari sampah anorganik dan sampah organik. Contoh dari sampah organik adalah limbah rumah tangga yakni sisa sayuran. Sayur-sayuran merupakan bahan buangan yang biasanya dibuang secara open dumping tanpa pengelolaan lebih lanjut sehingga akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan bau tidak sedap serta mengganggu dari penglihatan karena keberadaan dari sampah tersebut. Limbah sayuran mempunyai kandungan gizi yang rendah, yaitu protein kasar sebesar 1-15% dan serat kasar 5-38% sehingga masyarakat lebih memilih untuk membuang daripada dikelola lebih lanjut. Apabila masyarakat mengembangkan sisa sampah tersebut untuk dijadikan biogas sebagai sumber energy maka akan berpotensi mengurangi jumlah sampah dan dapat membantu Indonesia dalam menyediakan energi alternative, karena kebutuhan akan energi terus melonjak naik seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya energi dan potensi sumber energi yang tinggi terutama energi baru terbarukan. Pertambahan jumlah penduduk yang meningkat mengakibatkan kebutuhan energi semakin meningkat. Energi memiliki peranan penting dan tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Terlebih, saat ini hampir semua aktivitas manusia sangat tergantung pada energi. Manusia telah terbiasa menggunakan energi listrik, energi minyak bumi dan gas, serta energi mineral dan batu bara untuk kebutuhan sehari-hari dan industri. Pada dasarnya, pemanfaatan energi tersebut oleh manusia memang sudah dilakukan sejak dahulu.

Harus disadari bahwa saat ini Indonesia telah mengimpor minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Hingga saat ini sumber energi minyak bumi masih menjadi sumber energi utama di dalam penggunaannya terutama dalam bidang kelistrikan, industri dan transportasi. Di tengah krisis energy saat ini timbul pemikiran untuk penganekaragaman energi (diversifikasi energi) dengan mengembangkan sumber energi lain sebagai energi alternatif untuk penyediaan konsumsi energi. Indonesia memiliki beranekaragam sumber daya energi, seperti  minyak dan gas bumi, panas bumi (geothermal), batubara, gambut, energi air, biogas, biomassa, matahari, angin, gelombang laut dan lain-lain. Potensi sumber daya energi tersebut tersebar di seluruh daerah di Indonesia baik menurut karekteristik dan kondisi geologinya.

Secara umum dalam pemakaian/konsumsi energi di Indonesia masih mengandalkan dan masih bergantung pada sumber daya energi minyak bumi. Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sumber daya energi minyak bumi akan habis dan memiliki keterbatasan baik persediaan dalam bentuk cadangannya. Di sisi lain permintaan sumber daya energi tersebut semakin meningkat menyebabkan harga minyak semakin tinggi sehingga mempunyai potensi pasar ekspor yang tinggi. Seharusnya minyak bumi dapat diandalkan sebagai sumber pemasukan bagi pendapatan negara dan hanya sebagai energi untuk keperluan tertentu yang secara teknologi harus menggunakan bahan bakar minyak.

Baca Juga  KKN PPM UTS Sukses Sulap Limbah Jagung Jadi Teh Celup, Jeli, Ensilasi dan Briket

Oleh sebab itu agar tidak bergantung pada minyak bumi yang semakin lama akan semakin habis maka perlu dibuat energi alternative dalam bentuk biogas salah satunya dari limbah sampah sayur. Biogas adalah campuran gas-gas dari biomassa (bahan-bahan organik) termasuk di antaranya kotoran manusia dan hewan, limbah organik (rumah tangga), sampah biodegradable yang mudah terbakar dan dihasilkan dengan mendayagunakan bakteri melalui proses fermentasi bahan organik dalam keadaan tanpa oksigen atau kedap udara (anaerob). Komponen biogas adalah metan sebesar ± 60 %, karbondioksida ± 38 %, dan ± 2 % N2, O2, H2, dan H2S. Biogas dapat dibakar seperti elpiji dan dalam skala besar biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik sehingga dapat dijadikan sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan terbarukan. Biogas sebenarnya adalah gas metana (CH4). Gas metana bersifat tidak berbau, tidak berwarna dan sangat mudah terbakar serta dalam pengapian berwarna biru. Biogas sudah banyak dikembangkan di Indonesia, namun masih belum banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Padahal potensi untuk menghasilkan biogas sebagai energi terbarukan sangat besar.

Sumbawa adalah salah satu kabupaten di Provinsi NTB dengan julukan “Tanah Intan Bulaeng” ini memiliki potensi yang bagus untuk menghasilkan energi. Sumbawa selain dikenal dengan susu kuda liar dan madunya ternyata memiliki potensi besar untuk menghasilkan biogas dari limbah sampah seperti sampah sayur dan sampah dari kotoran ternak. Bumi sejuta sapi julukan yang diberikan kepada Provinsi NTB ini sudah banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat dan pemerintah. Dan juga kotoran dari ternak ini sudah banyak dikembangkan menjadi biogas untuk menjadi sumber energi. Namun mayoritas dari penduduk Sumbawa adalah petani karena daerah ini adalah daerah agrararis yang hamparan persawahan sangat luas terbentang. Biogas dari kotoran ternak sudah menjadi hal yang biasa dan begitu banyak dikembangkan, sedangkan limbah dari sampah organik seperti sampah sayur masih belum banyak dikembangkan. Padahal limbah sampah sayur sangat banyak di masyarakat. Apabila itu dikelola dengan baik maka akan bermanfaat untuk mengurangi sampah di Sumbawa serta dapat membuat terobosan terbaru energi terbarukan dalam bentuk biogas dari limbah sayur di Sumbawa. Sehingga dapat membantu dalam hal penyediaan sumber energi.

Keuntungan dari penggunaan biogas ini sendiri apabila terus dikembangkan selain sebagai sumber energi dan mengurangi efek dari rumah kaca, menghemat pengeluaran masyarakat, meningkatkan pendapatan masyarakat, pemakaian kayu dan minyak tanah akan berkurang, mewujudkan lingkungan yang bersih, mengurangi volume limbah yang dibuang, memperkecil rembesan polutan, memaksimalkan proses daur ulang, memperkecil kontaminasi sumber air, mengurangi polusi udara, dan pupuk yang dihasilkan sebagai pupuk berkualitas dengan nutrisi bagus untuk tanaman. Produk samping pengolahan limbah menjadi biogas adalah pupuk organick yang kaya unsur hara yaitu berbagai mineral hara makro dan mikro kebutuhan tumbuhan seperti Fosfor (P), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca), Kalium (K), tembaga (Cu), Zeng (Zn), dan Nitrogen (N). Bahan keluaran dari sisa proses pembuatan gas metana dapat dijadikan pupuk organik walaupun bentuknya berupa slurry. Dan pupuk hasil dari limbah biogas ini dapat memberi keuntungan yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pupuk kompos atau pupuk dari kotoran ternak langsung dari kandang sehingga sangat bermanfaat sekali untuk petani di Sumbawa serta petani di Indonesia agar tidak hanya bergantung pada pupuk kimia yang nantinya akan menimbulkan gangguan pada kesehatan manusia apabila terus menerus digunakan.

Baca Juga  Tim OSN SMP Sumbawa Siap Berjuang

Namun di balik kelebihan dari penggunaan biogas yang begitu banyak manfaat untuk manusia juga mempunyai kekurangan atau kelemahan, yakni terbatasnya SDM di masyarakat untuk mengolah sampah menjadi biogas, mengubah Mindset masyarakat dalam penggunaan energi yang masih boros ini menjadi hal yang sangat sulit, serta hasil yang dihasilkan dari pengelolaan limbah sampah sedikit sehingga membutuhkan banyak bahan utama untuk menghasilkan energy yang banyak, serta membutuhkan tempat yang cukup luas untuk proses pengerjaannya. Hal ini tidak menjadi alasan untuk tidak mengembangkan limbah sampah menjadi energi, apalagi Sumbawa memiliki potensi yang sangat bagus untuk mengembangkan dan menghasilkan energi baru terbarukan salah satunya dalam bentuk biogas yang berasal dari limbah sampah sayur. Sumbawa banyak potensi untuk menghasilkan energi baru terbarukan terutama rumput laut yang sangat melimpah dan sangat tepat sekali untuk digunakan sebagai sumber energi dan juga kelimpahan ternak otomatis akan menghasilkan kotoran yang banyak juga dapat menjadi sumber biogas.

Semua hal itu akan membutuhkan proses dan sumber daya manusia yang banyak untuk terus mengembangkan energi baru terbarukan sehingga tidak bergantung pada sumber minyak bumi saja. Kesadaran dari masyarakat sangat diperlukan untuk membantu Indonesia untuk maju dan terus berkembang kearah yang lebih baik lagi salah satunya adalah energi. Pemanfaatan energi yang tidak dapat diperbaharui secara berlebihan dapat menimbulkan masalah krisis energi. Salah satu gejala krisis energi yang terjadi akhir-akhir ini yaitu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), seperti minyak tanah, bensin, dan solar. Energi biogas adalah salah satu dari banyak macam sumber energi terbarukan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat saat ini, karena energi biogas sangat melimpah di masyarakat. Produksi biogas memungkinkan pertanian berkelanjutan dengan sistem proses terbarukan dan ramah lingkungan sehingga akan sangat aman untuk digunakan. Harapannya sedikit perubahan dari masyarakat akan sangat bermanfaat untuk kedepannya, sehingga setitik cahaya dari Indonesia timur yakni Sumbawa dapat membantu dalam hal menyediakan energi baru terbarukan untuk Indonesia. (*)

 

iklan bapenda