Rakyat atau Jabatan ?

oleh -1 views
Yadi Saputra, KABID DIKBUD BADKO HMI NUSRA
bankntb

Oleh: Yadi Saputra (Aktivis HMI)

Dalam era demokrasi dan bentuk negara republik ini telah termaktub dalam norma konstitusi bahwasanya rakyatlah yang memegang kedaulatan. Kedaulatan yang bagaimana ? Sebab yang terlihat hanyalah sebuah norma buntu semata pada kata kedaulatan. Tak ada bukti kekuatan kedaulatan rakyat yang di-agungkan itu. Rakyat elit yang mewakili rakyat secara holistik tak mampu kemudian menjaga keaslian daripada harapan yang telah dititipkan. Justru merekalah yang menghapus secara halus tentang nilai kekuatan kedaulatan.

amdal

Pesta demokrasi di bangsa ini tidaklah mencerminkan bentuk menjalankan kedaulatan rakyat. Namun hanya sebatas pembentukan panggung kebohongan yang memaksa rakyat melupakan cita-cita bangsa. Dari pemimpin negara hingga pemimpin daerah hanya mampu menjaga nama dan tujuan mereka secara pribadi dan kelompok kecil bukan yang sepatutnya yaitu keadilan sosial dan kesejahteraan yang merata. Menempatkan cita-cita bangsa di urutan utama adalah hal yang amat susah di republik ini sebab girah berpancasila dalam bernegara kini telah luntur digerus kepentingan kelompok. Apa benar Pancasila itu mati sebelum dilahirkan ? Yang patut untuk dipahami adalah negara ini bukanlah lahir untuk jabatan atau uang (kekuasaan), namun negara ini hadir untuk rakyat yang sesungguhnya. Dan pancasila adalah falsafah yang menjelma menjadi cita dan harapan bagi Bangsa Indonesia.

Mana keberpihakan pemimpin pada rakyat ? Pada dasar nilai, pemimpin di negara ini bukanlah sebagai penguasa (idealnya) karena penguasa yang sesungguhnya adalah hukum bersama rakyat. Bukan kemudian cita hukum dan cita rakyat dikorbankan demi tujuan kotor para pemimpin. Negeri ini sudah bosan dengan kebohongan dan penindasan maka sepatutnya kita menjadi negeri yang tidak berdiri di atas kebohongan dan berhenti tunduk di bawah penindasan elit.(*)

Baca Juga  Sempat Dinonaktifkan, Bawaslu Sumbawa Aktifkan Panwas Kecamatan dan PDK

 

iklan bapenda