Teknik Kultur Sel dan Jaringan Solusi Dalam Industri Tanaman Hias dan Pertanian di Indonesia

oleh -75 views
bankntb

Oleh: ANI SULASTRI (Mahasiswa Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa)

Pemenuhan kebutuhan manusia terhadap tanaman hias yang berkualitas dan bervariasi mendorong banyak industri tanaman hias untuk menghasilkan tanaman yang beraneka ragam jenisnya dalam jumlah besar, berkualitas dan dalam waktu yang singkat. Begitu juga dengan bidang Pertanian tidak hanya berkutat di lahan dan melakukan aktifitas menanam saja, ternyata banyak bidang yang harus dilaluinya, seperti pembibitan, pemupukan, dan pemasarannya. Dan usaha pembibitan tidak harus dilakukan di lahan yang luas. Bahkan dalam skala industri maupun rumahan sudah bisa dilakukan dalam lahan yang tidak harus luas.

amdal

Beberapa teknologi di bidang pertanian dipergunakan dengan optimal sehingga dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu perkembangan yang ada di bidang pangan adalah kultur jaringan yang memiliki peranan penting dalam pengembangan bahan tanam yang memiliki sifat ekologis kuat dan propagasi masa sehingga dapat menjadi solusi untuk memecahkan masalah dalam pertanian misalnya masalah penanaman musim. Teknik kultur jaringan berasal dari ide jika prosedur diversifikasi sukses dalam bidang pertanian yang tergantung pada penciptaan produk yang berkualitas. Teknik tersebut menjadi salah satu solusi yang digunakan karena meningkatnya permintaan akan produk pertanian. Hal tersebut dikarenakan beberapa faktor dan faktor utamanya adalah karena adanya kenaikan populasi dan menipisnya lahan pertanian.

Ani Sulastri
Ani Sulastri

Penggunaan pengendalian hama, penambahan proses pemupukan dan beberapa praktek dalam bidang pertanian lainnya ternyata tidak cukup untuk membangun ekonomi pertanian yang berkelanjutan, sehingga digunakanlah kultur jaringan. Penggunaan teknik tersebut telah dibuktikan selama bertahun-tahun untuk produksi masal. Dengan bahan yang lebih murah namun mampu menghasilkan produk yang berkualitas yang lebih tahan dan kuat dari penyakit tanaman membuat para pelaku di bidang pertanian memiliki alasan lainnya untuk menggunakan teknik tersebut. Teknik yang digunakan dalam kultur jaringan adalah teknik yang digunakan untuk memisahkan sel atau jaringan pertumbuhan dari suatu organisme.

Baca Juga  Resmikan Masjid Al Khoory UMMAT, Gubernur Berikan Tantangan

Kultur jaringan merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif. Kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbanyakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman dan menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril. Sel atau jaringan tersebut akan ditempatkan ke dalam lingkungan yang telah disterilkan sebelumnya dan disediakan nutrisi yang telah dikontrol dan dikendalikan. Sehingga manfaat teknik tersebut beberapa di antaranya adalah untuk mengontrol dan juga menyesuaikan karakteristik atau sifat dari bahan tanaman. Langkah kerja dalam pelaksanaan kultur jaringan meliputi persiapan media kultur, isolasi bahan tanaman (eksplan), sterilisasi eksplan, inokulasi eksplan, mengkulturkan, aklimatisasi, dan usaha pemindahan tanaman hasil kultur jaringan ke lapang.

Hal tersebut menjadi alasan Fakultas Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa (FT-UTS) untuk melakukan praktikum pada mata kuliah teknik kultur sel dan jaringan guna mengetahui dan mempraktekkan langsung cara mengisolasi tanaman untuk kultur jaringan. Praktikum tersebut bertujuan untuk mengetahui teknik kultur jaringan dan media yang tepat bagi tanaman tersebut. Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan.

Baca Juga  Gelar Berbagai Lomba, Milad SDIT SC Semarak dan Meriah

Proses praktikum tersebut cukup panjang mulai dari tahap sterilisasi yang membutuhkan proses yang sangat lama, baik  dari strelisasi alat yang akan digunakan dalam praktikum serta bahan dan media yang akan digunakan dalam praktikum tersebut harus steril yang bertujuan untuk mencegah terjadinya kontaminasi baik itu karena bakteri, jamur ataupun virus yang nantinya akan berpengaruh terhadap hasil kultur. Praktikum tersebut membuat mahasiswa sangat terkesan dan menikmati setiap tahapan dari pengerjaan praktikum, serta mahasiswa mendapatkan banyak pengetahuan dan wawasan baru mengenai teknik kultur sel dan jaringan. Dan praktikum tersebut membuktikan bahwa meskipun kampus UTS baru berdiri 4 tahun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dengan alat laboratorim yang seadanya dan sederhana, tidak mematahkan semangat dalam menuntut ilmu. Ini baru dilakukan mahasiswa Teknobiologi dari Univesitas Teknologi Sumbawa (UTS), bahwa mahasiswa Teknobiologi bisa berkembang dan sama dengan mahasiswa lainnya di Indonesia meskipun berada di timur Indonesia . Hal ini sebagaimana diungkapkan Dekan Fakultas Teknobiologi sekaligus Dosen Teknik Kultur Sel dan Jaringa, Andi Baso Manguntungi M.Si. Harapannya ketika mahasiswa menguasai teknik kultur sel dan jaringan ini dapat membantu Indonesia dalam menyelamatkan tanaman yang sudah mulai langka dan menjadi ahli teknik kultur sel dan jaringan yang masih sedikit di Indonesia. Selain itu dapat menciptakan peluang bisnis yang sangat menjanjikan dalam bidang tanaman dan pertanian. (*)

iklan bapenda