Pemanfaatan Sampah Daun dan Rumput Sebagai Alternatif Penghasil Bioetanol Dalam Membantu Mengatasi Krisis Energi di Indonesia

oleh -54 views
Ani Sulastri
bankntb

Oleh: Ani sulastri, Mahasiswa Teknobiologi Universitas Teknologi Sumbawa

Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) saat ini semakin meningkat karena sudah merupakan kebutuhan vital bagi manusia. Hal ini dikarenakan kuantitas minyak bumi pada lapisan bumi terus menipis akibat eksploitasi yang terus-menerus. Satu kelemahan dari minyak bumi adalah sifatnya yang tidak mudah diperbaharui, sehingga mendorong masyarakat untuk mencari sumber energi baru alternatif, salah satunya adalah bioetanol. Bioetanol memiliki kelebihan dibanding dengan BBM, di antaranya memiliki kandungan oksigen yang lebih tinggi (35%) daripada BBM (18,66%) sehingga terbakar lebih sempurna, angka oktannya tinggi (118) dibandingkan BBM (88), dan mengandung emisi gas CO lebih rendah 0,89% dan BBM 2,5% sehingga lebih ramah lingkungan.

amdal

Bioetanol (C2H5OH) merupakan salah satu biofuel yang hadir sebagai bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dan sifatnya yang terbarukan. Merupakan bahan bakar alternatif yang diolah dari tumbuhan yang memiliki keunggulan karena mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18%, dibandingkan dengan emisi bahan bakar fosil seperti minyak tanah. Bioetanol dapat diproduksi dari berbagai bahan baku yang banyak terdapat di Indonesia, sehingga sangat potensial untuk diolah dan dikembangkan. Ini karena bahan bakunya sangat dikenal masyarakat. Tumbuhan yang potensial untuk menghasilkan bioetanol antara lain tanaman yang memiliki kadar karbohidrat tinggi seperti tebu, nira, aren, sorgum, ubi kayu, jambu mete (limbah jambu mete), garut, batang pisang, ubi jalar, jagung, bonggol jagung, jerami, dan bagas (ampas tebu), rumput dan daun.

Bahan bakar fosil seperti minyak bumi saat ini harganya semakin meningkat, selain kurang ramah lingkungan juga termasuk sumber daya yang tidak dapat diperbaharui. Bahan bakar berbasis produk proses biologi seperti bioetanol dapat dihasilkan dari hasil pertanian yang tidak layak/tidak dapat dikonsumsi, seperti dari sampah/limbah pasar, dan limbah pabrik gula (tetes/mollases). Yang penting bahan apapun yang mengandung karbohidrat (gula, pati, selulosa, dan hemiselulosa) dapat diproses menjadi bioetanol. Melalui proses sakarifikasi (pemecahan gula komplek menjadi gula sederhana), fermentasi, dan distilasi, bahan-bahan tersebut dapat dikonversi menjadi bahan bakar bioetanol.

Penggunaan bioetanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) dapat mengurangi emisi karbon monooksida dan senyawa lain (asap, gas, dan partikel padat timbal) dari kendaraan. Hal ini sudah dibuktikan oleh beberapa negara yang sudah lebih dulu mengaplikasikan bioetanol tersebut, seperti Brasil dan Jepang. Perkembangan bioetanol di Indonesia seharusnya juga bisa menyamai kedua negara tersebut. Dengan melimpahnya bahan baku, seharusnya kita bisa menggantikan sebagian pemakaian BBM yang sudah semakin langka dengan bioetanol. Selain untuk bahan bakar, bioethanol (FGE) dapat digunakan untuk industri kimia, farmasi, kedokteran, kosmetik, bahan baku aneka minuman, dan sebagainya. Bioetanol dapat dijadikan pengganti bahan bakar minyak tanah. Selain hemat, pembuatannya dapat dilakukan di rumah sendiri dengan mudah. Selain itu juga pengoperasian bioetanol lebih ekonomis dibandingkan menggunakan minyak tanah. Salah satu upaya untuk mengurangi konsumsi masyarakat terhadap BBM adalah dengan memanfaatkan energy alternative terbarukan seperti yang tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Republik Indonesia No. 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional, adalah melalui pengembangan energy terbarukan berbasis nabati atau sering disebut Bahan Bakar Nabati (BBN). Tidak hanya mengeluarkan Perpres No. 5 tahun 2006, tetapi pemerintah juga menargetkan pada tahun 2016 pemanfaatan BBN bisa mencapai angka 5%. Salah satu contoh bahan bakar berbasis nabati adalah bioetanol. Saat ini sudah banyak ditemukan pemanfaatan bioetanol sebagai bahan campuran (aditif) dari bensin yang sering disebut dengan gasohol E-10. Gasohol E-10 Merupakan campuran antara bensin dengan 10% bioetanol murni. Gasohol E-10 memiliki angka oktan 92 yang hampir setara dengan Pertamax yang memiliki nilai oktan 92/95. Karenanya sangatlah mungkin jika bioetanol dapat dijadikan sebagai salah satu alternative pensubstitusi BBM yang ramah lingkungan karena hasil pembakarannya hanya menghasilkan H2O dan CO2.

Baca Juga  Kadis Dikbud NTB Ingatkan Kepala Sekolah Tidak Mengeluh

Beberapa kelebihan bioetanol dibanding bensin, antara lain lebih aman, memiliki titik nyala tiga kali lebih tinggi dibanding bensin, dan menghasilkan emisi gas hidrokarbon lebih sedikit. Di balik itu juga terdapat berbagai kekurangan bioetanol bila dibandingkan dengan bensin, antara lain mesin kendaraan akan mengalami kesulitan untuk dihidupkan bila dalam keadaan suhu dingin, serta mampu bereaksi dengan logam tertentu seperti aluminium, sehingga dapat merusak komponen kendaraan yang terbuat dari logam tersebut. Untuk meningkatkan kualitas bioetanol sebagai bahan bakar dapat dilakukan pencampuran dengan bensin. Bioetanol yang dicampur harus tidak mengandung air sama sekali, sehingga harus mengalami proses pemurnian secara berulang. Campuran yang kini lebih dikenal sebagai gasohol ini banyak memberikan keuntungan bagi pengguna. Selain itu juga dapat menghemat bensin yang keberadaannya tidak dapat diandalkan lagi. Karena mampu meningkatkan angka oktan bensin, maka etanol berperan sebagai octan enhancer. Penggunaan etanol sebagai octan enhancer ini sangat menarik perhatian dunia, karena ramah lingkungan dan mudah diperbaharui. Dengan digunakannya etanol ini lambat laun akan mengurangi emisi timbal yang dikeluarkan dari asap kendaraan bermotor selama pembakaran.

Penambahan ethanol pada bensin meningkatkan effisiensi. Nilai effisiensi tertinggi yang didapat adalah pada campuran ethanol bensin 20% untuk semua kondisi pengujian. Kadar etanol yang semakin tinggi mengakibatkan gas buang (emisi) berbahaya yang dihasilkan lebih rendah. Kadar etanol yang semakin tinggi pada campuran bensin-etanol yang digunakan, kinerja kendaraan bermotor yang menggunakan gasohol lebih baik, meskipun jarak tempuh yang dihasilkan sedikit berkurang seiring bertambahnya kadar etanol.

Pada negara lain pencampuran penggunaan etanol dicampur dengan bensin sudah digunakan dan dilakukan oleh negara lain begitu pula dengan Indonesia. Bahan campuran (aditif) dari bensin yang sering disebut dengan gasohol E-10. Gasohol E-10 Merupakan campuran antara bensin dengan 10% bioetanol murni dan ini digunakan di Indonesia, Thailand, Australia, Chile, Afrika, Inggris, Brazil dan negara Asia lainnya dan AS juga menggunakan campuran etanol dan bensin yakni 8% etanol. Tetapi banyak dari negara tersebut tidak mewajibkan penggunaan Gasohol E-10 campuran bensin dan etanol ini hanya diopsioanalkan atau pilihan saja. Campuran bahan bakar berupa E10 atau kurang telah digunakan di lebih dari 20 negara di dunia tahun 2011, dipimpin oleh Amerika Serikat. Hampir semua bensin yang dijual di Amerika Serikat pada tahun 2010 telah dicampur dengan etanol dengan kandungan 10%. Campuran etanol E20 sampai E25 telah digunakan di Brasil sejak akhir 1970-an. Etanol E85 biasanya digunakan di Amerika Serikat dan Eropa untuk kendaraan bahan bakar fleksibel. Etanol murni atau E100 digunakan di kendaraan bahan bakar etanol murni di Brasil.

Dewasa ini penyediaan energi dunia sangat tergantung pada minyak bumi yang ketersediaannya terus berkurang. Demikian juga di Indonesia, sejak beberapa tahun terakhir ini mengalami penurunan produksi minyak bumi nasional yang disebabkan oleh berkurangnya cadangan minyak di Indonesia. Cadangan minyak Indonesia saat ini hanya tinggal 18 tahun lagi setelah itu kemungkinan besar akan habis. Bahan bakar minyak berasal dari minyak bumi yang merupakan sumber energi fosil yang tidak dapat diperbaharui (unrenewable). Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan BBM dapat menimbulkan dampak pencemaran lingkungan serta sebagai pemicu terjadinya fenomena pemanasan global (global warming). Oleh karena itu perlu penggalian sumber energi baru sebagai alternatif pengganti BBM .

Baca Juga  TAX Center Hadir di UTS

Penelitian mengenai energi terbarukan terus dikembangkan, bahkan menjadi salah satu program pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak yang ketersediaanya terus berkurang. Saat ini produk energi altrnatif yang berpeluang untuk dikembangkan adalah bioethanol dan Biodiesel. Bioetanol memiliki beberapa kelebihan dibandingkan energi alternatif lainnya. Etanol memiliki kandungan oksigen yang tinggi sehingga terbakar lebih sempurna, bernilai oktan lebih tinggi, dan ramah lingkungan. Disamping itu substrat untuk produksi bioethanol cukup melimpah di Indonesia.

Bioetanol memiliki berbagai macam fungsi dan keunggulan, yaitu berfungsi sebagai octane booster, artinya mampu menaikan angka oktan dengan dampak positif terhadap efisiensi bahan bakar dan menyelamatkan mesin, sebagai oxygenating agen, yakni mengandung oksigen yang tinggi sehingga menyempurnakan pembakaran bahan-bakar dengan efek positif meminimalkan pencemaran udara, dan berfungsi sebagai fuel extender yaitu dapat menghemat bahan bakar fosil.

Dalam proses fermentasi bioetanol terdapat faktor-faktor yang dapat memicu dan menghambat proses produksi bioetanol. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jumlah etanol yang dihasilkan dari fermentasi adalah mikroorganisme dan media yang digunakan, adanya komponen media yang dapat menghambat pertumbuhan serta kemampuan fermentasi mikroorganisme dan kondisi selama fermentasi. Selain itu hal-hal yang perlu diperhatikan selama fermentasi adalah pemilihan khamir, konsentrasi gula, keasaman, ada tidaknya oksigen dan suhu ruangan tempat fermentasi.

Indonesia mempunyai iklim yang mempermudah tumbuhnya rumput, sehingga ketersediaan rumput dapat secara kontinyu melimpah. Rumput merupakan salah satu tanaman yang kurang dimanfaatkan. Dewasa ini rumput hanya digunakan sebagai makanan ternak, terkadang rumput gajah juga dianggap sebagai tanaman pengganggu. Tetapi rumput dan sampah daun mempunyai kadar selulosa yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan penghasil ethanol. Kandungan lain dari rumput gajah adalah: protein kasar 5,2 % dan serat kasar 40,85%. Selulosa adalah polimer-glukosa dengan ikatan -1, 4 di antara satuan glukosanya. Selulosa berfungsi sebagai bahan struktur dalam jaringan tumbuhan dalam bentuk campuran polimer homolog dan biasanya disertai polosakarida lain dan lignin dalam jumlah yang beragam begitu pula dengan daun yang sangat kurang dimanfaatkan hanya dianggap sebagai sampah yang mengotori lingkungan di kalangan masyarakat. Namun seiring dengan perkembangan zaman daun mulai dilirik dan dimanfaatkan menjadi energy alternativ dalam menghasilkan energy karena kandungan yang terdapat di dalamnya setelah banyak peneliti melakukan penelitian terhadap daun dan rumput untuk menjadi bioetanol sebagai energy alternative.

Dengan demikian pemanfaatan dengan menggunakan rumput dan daun menjadi energy alternative yakni bioetanol dapat membantu dalam mengatasi krisis energi di Indonesia dalam  hal menyediakan energi. Sehingga harapannya dapat terus dikembangkan dan dilakukan terus penelitian lebih lanjut karena manfaat dari bioetanol yang memiliki banyak manfaat dan lebih ramah lingkungan. Maka, Indonesia dapat berkembang menjadi negara yang lebih maju lagi dan tidak bergantung pada minyak bumi yang mulai terus menipis dan bahkan akan habis serta tidak dapat diperbaharui lagi sehingga dapat mengikuti jejak seperti negara yang telah mengembangkan bioetanol seperti negara maju yakni Brazil, Jepang dan beberapa negara lainnya di dunia. (*)

 

iklan bapenda