Angka Kunjungan Tinggi, RSUD As-Syifa Kekurangan Obat

oleh -0 views
Direktur Rumah Sakit As-Syifa, dr. Carlof
bankntb

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN RSUD AS-SYIFA SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BARAT, SR (22/03/2017)

amdal

Selain stok darah menipis, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) As-Syifa Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) juga mengalami kekurangan obat. Hal ini terjadi karena semakin tinggi angka kunjungan di samping kian meningkatnya penyakit yang diderita masyarakat. “Kami mengalami kekurangan ibat karena trend kunjungan yang semakin meningkat terutama pasien BPJS,” kata Direktur Rumah Sakit As-Syifa, dr. Carlof kepada SAMAWAREA di ruang kerjanya, Rabu (22/3).

Dengan tingginya angka kunjungan ini, secara otomatis penggunaan obat pun semakin meningkat. Belum lagi penyakit yang kian kompleks dan semakin meningkat. Contohnya Penyakit Kanker yang meningkat dari tahun sebelumnya sehingga persediaan obat yang terbatas. “Kita juga dihadapkan dengan masalah ketersediaan obat di penyedia masih belum ready sehingga di Bulan Maret ini terjadi kekosongan obat, karena rujukan secara nasional pembelian obat harus melalui E-Katalog,” jelasnya.

Stok obat yang kosong ini, ungkap Dokter Carlof, bukan obat yang esensial atau bukan obat utama yang memang berfungsi untuk menyembuhkan. Yang mengalami kekosongan stok ini hanya obat-obat pendukung seperti vitamin dan suplemen lainnya. “Kalau obat inti tidak boleh kosong. Ketika akan habis kami langsung melakukan langkah antisipasi dengan cara meminjam ke rumah sakit lain yang memiliki stok berlebih, serta mengkomunikasikannya ke daerah melalui mitra kami Bagian Farmasi Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Baca Juga  Tak Punya Biaya, Buruh Tani ini Meninggal Tanpa Penanganan Medis

Bagaimana dengan pasien BPJS yang terpaksa membeli obat di luar ? Dokter Carlof menyatakan tetap komit bahwa pasien BPJS mendapatkan pelayanan gratis. Pasien yang membeli obat di luar dan menggunakan uang pribadi, diminta untuk membuat nota agar dapat diklaim sehingga pihaknya dapat menggantikannya.

Untuk diketahui, RSUD As-Syifa tidak hanya mengupayakan ketersediaan obat, namun kualitas obat pun tetap dijaga. Pihaknya seminggu sekali melakukan pemeriksaan kondisi obat baik stok, kualitas obat maupun tanggal kadaluarsanya. Setiap tahunnya juga Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) datang melakukan pemeriksaan obat-obatan tersebut. Selain itu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) setiap dua kali setahun melakukan pemeriksaan mulai dari jumlah obat, kapan pembelian, dan tanggal kadaluarsanya. Dengan pemeriksaan berlapis ini, Dokter Carlof berani menjamin kualitas obat yang diberikan kepada pasien aman dan bermutu. “Obat-obatan yang tiga bulan sebelum expyret (kadaluarsa) kami pisahkan untuk dimusnahkan. Yang jelas kebutuhan dan pelayanan yang bermutu kepada masyarakat yang kami utamakan,” demikian Carlof. (HEN/SR)

iklan bapenda