Dua Bulan Masuk Gelanggang, Elektabilitas Zul—Rohmi Naik Signifikan

oleh -0 views
Zul Rohmi
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (19/03/2017)

Lingkaran Survey Indonesia (LSI) telah merilis hasil surveynya untuk posisi calon Gubernur dan Skenario Pasangan dengan tingkat elektabilitas, Maret 2017 ini. Untuk calon Gubernur jika Pilkada NTB digelar saat ini, ada empat kandidat yang bakal bersaing ketat. Adalah dr. Suhaili FT dengan perolehan 7,3 %, Ahyar Abduh 6,4 %, Zulkiflimansyah 5,9%, dan Ali BD 5,2%. Selebihnya beberapa nama lain tidak mencapai 1 persen. Namun yang belum memilih atau tidak memilih dalam survey tersebut masih sangat tinggi yakni 61,7%.

Kandidat Calon Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah M.Sc yang dimintai tanggapannya saat bersilaturahim dengan sejumlah wartawan di Sumbawa Besar, Sabtu (18/3), menilai survey LSI tersebut cukup menarik. Sebab tidak ada kandidat yang perolehan suaranya di atas 10 persen. Ternyata elektabilitas para kandidat tidak tinggi-tinggi. Hasilnya bisa seperti itu menurut Doktor Zul—akrab tokoh nasional asal NTB ini disapa karena banyak masyarakat di NTB yang belum mengetahui siapa calon gubernurnya yang akan dipilih. Misalnya, Suhaili FT hanya unggul di Lombok Tengah karena menjabat sebagai Bupati selama dua periode, Ahyar Abduh juga unggul di Kota Mataram karena sebagai walikota dua periode, demikian Ali BD 50 persennya di Lombok Timur dan sebagiannya menyebar di beberapa kabupaten/kota di NTB. Sedangkan dirinya, lebih unggul dari tiga kandidat tersebut di Sumbawa dan KSB. “Artinya semua jago kandang,” ucap Doktor Zul.

Baca Juga  Pulau Bajo Dompu Kini Terang Benderang

Namun dengan hasil survey ini telah memberikan gambaran yang cukup menarik. Selama ini ada ketakutan orang di Sumbawa dan KSB maupun di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu kalah terlalu jauh dengan tokoh-tokoh dari Pulau Lombok, ternyata survey ini mengatakan selisihnya tidak terlampau jauh. Semua masih terbuka peluang termasuk Khaerul Rizal dan Lalu Rudy Irham Srigede yang hanya 0,2% mengingat hasil survey LSI margin errornya masih 4,8 persen. Semua calon memiliki peluang besar dengan rentang waktu yang masih relatif cukup panjang, di samping secara umum belum ada calon gubernur yang dikenal dan banyak didukung masyarakat. “Siapapun calonnya masih punya peluang terbuka jadi Gubernur di NTB,” tukas Doktor Zul.

Skenario Pasangan

Bagaimana dengan skenario pasangan hasil survey LSI ? Doktor Zul mengatakan meski terlalu dini namun bisa memberikan semangat kepada semua calon. Lebih banyak calon dan pilihan dinilai lebih bagus sehingga masyarakat lebih awal mengetahui siapa calon yang akan didukung agar tidak membeli kucing dalam karung. Dalam survey scenario pasangan, Ali BD—Muhammad Amin 8,4 % (Bupati Lotim—Wagub NTB), Ahyar Abduh—Qurais (Walikota Mataram—Walikota Bima) 14,9 persen, Suhaili FT—Mori (Bupati Loteng—Wakil Ketua DPRD NTB) 13,3 persen, dan Doktor Zul—Hj Siti Rohmi Djalillah (Anggota DPR RI—Rektor Universitas Hamzanwadi atau kakak kandung TGB) 13,3 persen.

Raihan elektabilitasnya meski masih skenario yang mencapai 13,3 persen ungkap Doktor Zul, dinilai cukup baik. Karena meningkat cukup signifikan ketika pertamakali pasangan ini diperkenalkan, elektabilitasnya hanya 2%. “Padahal kita baru dua bulan masuk ke gelanggang. Artinya siapapun terbuka peluang menjadi calon gubernur. Ketika ini disampaikan kepada audiens yang lebih luas, semuanya menjadi bersemangat untuk maju meramaikan pesta demokrasi tahun depan,” ujar Doktor Zul. Kendati demikian, Doktor Zul mengaku tidak ingin menanggapi hasil survey itu secara berlebihan. “Kita santai-santai saja, nanti kalau responnya bagus, ikhtiar berbuah manis, insya Allah kita istiqomah,” ucapnya.

Baca Juga  Tinjau Embung Lang Desa, Gubernur Tunggang Motor Trail

Menurut Doktor Zul, partai politik pasti akan rasional dalam memutuskan siapa yang akan diusung. Diperkirakan putusan partai akan ditetapkan Januari 2018 mendatang atau mulai ada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTB secara definitif. Sedangkan tahapa pemilu sudah dimulai November 2017 atau mulai dilakukan pendaftaran calon perseorangan (independen). Saat ini konsentrasi parpol masih focus pada Pilkada DKI putaran II. Setelah Pilkada DKI, parpol mulai mengkonsolidasikan diri dan akan mengerucut siapa calon-calon yang akan diusung, tapi tidak keluar dari nama-nama tersebut. “Setiap parpol, setiap daerah, setiap segmen dan setiap calon memiliki cara masing-masing untuk mensosialisasikan diri dan pasangan yang diusung. Pesan yang ingin saya sampaikan, popularitas dan elektabilitas para calon yang mengemuka saat ini masih biasa-biasa saja. Masih sangat local sekali. Ini memberikan satu gambaran tokoh belum bergerak secara optimal. Rumus pilkada itu, dikenal, didukung, dan dipilih,” pungkasnya. (JEN/SR)

iklan bapenda