OPINI: APA KABAR PT AMNT ? APA KABAR OVERFLOW ?

oleh -0 views
Yadi Saputra, KABID DIKBUD BADKO HMI NUSRA
bankntb

Oleh: YADI SPUTRA  (Aktivis HMI)

Permasalahan lingkungan merupakan suatu hal yang sangat sexy untuk dikaji dan diikuti oleh setiap elemen masyarakat, lebih-lebih jika hal terburuk yang dikhawatirkan benar-benar terjadi yaitu pencemaran dan kerusakan lingkungan. Sudah menjadi hukum alam bahwasanya selalu ada sebab di balik akibat. Hal itulah yang membuat sudut pandang kita menjadi daya tarik yang sangat hangat untuk dikonsumsi dan ditilik lebih dalam jika penyebab dari akibat tersebut mampu menarik dan membangunkan khalayak ramai untuk segera mengarahkan pandangan pada akibat dari subjek penyebab tersebut. Itulah yang kini sedang terjadi dalam masyarakat KSB pada khususnya dan NTB pada umumnya, terkait dengan sebuah fenomena lingkungan yang disebabkan oleh perusahaan tambang kedua terbesar di Indonesia yang sekaligus locustnya berada di Sumbawa Barat Provinsi NTB. Telah satu bulan waktu bergulir setelah peristiwa itu terjadi dan selama itu pula dan bahkan dengan waktu yang tidak kita ketahui kapan akan berakhir untuk menyita perhatian kita. Sebab, permasalahan yang terjadi masih belum mampu untuk diselesaikan dengan cermat dan eksklusif dalam mengakhiri keresahan masyarakat terhadap fenomena lingkungan yang terjadi di wilayah PT AMNT. Saling salah menyalahkan bukanlah sebuah itikad baik dalam menyudahi persoalan karena semakin kita melempar tentu semakin terlihat dengan jelas siapa yang salah dan siapa yang ikut dalam melindungi kesalahan tersebut. Para wayang tetap menjalankan keharusan tugas dari si dalang sedangkan penonton semakin menikmati lakon yang dipertontonkan. Dan para dalang lainnya kini mulai ikut andil dalam lakon tersebut karena dirasa dia harus ambil panggung dalam kisah para wayang. Kini telah hadir beberapa dalang dalam satu lakon. Wajah itulah yang kini pentas di daerah KSB. Para pemangku kekuasaan menyampaikan dengan gagah dan tampang tak ada masalah di depan rakyat. Para penyambung lidah rakyat masih sibuk dengan pura-pura menakut-nakuti. Lembaga yudikatif masih pula pura-pura lata. Sedangkan para mahasiswa dengan nurani yang tulus ingin memberikan isi hati rakyat. Dimana kemanfaatan? Dimana kepastian? Dan dimana keadilan? Dan pada akhirnya mahasiswalah yang tetap konsisten untuk teriak mencari dimana hukum. “Lingkungan kita jelas telah tercemar. Biota air jelas mati disebabkan oleh air asam” itu kata dari masyarakat yang terkena dampak namun berbanding terbalik dengan pengakuan si AMNT, mereka berkata bahwa tidak ada pencemaran. Biota air mati bukan karena air asam. Lalu mana bahasa pihak AMNT di awal terjadinya bencana itu ? Tetap saja masyarakat selalu menjadi sasaran empuk dari kebohongan dan penindasan para pemilik pedang kekuasaan. (*)

amdal

 

iklan bapenda
Baca Juga  Belum Ada TPA, Plampang Dikepung Sampah