Refleksi Banjir Bima dan Sumbawa (Salah Pemerintah atau Kurang Sadarnya Masyarakat)

oleh -0 views
Muhammad Arif, Aktivis HMI Cabang Mataram
bankntb

Oleh: Muhamad Arif (Aktivis HMI Cabang Mataram)

Banjir sudah tidak asing bagi masyarakat pada umumnya, lebih khusus masyarakat Nusa Tenggara Barat. Dulu dan sekarang kita hanya mendengar kabar banjir di kota besar yang ada di wilayah Indonesia. Intensitas curah hujan yang begitu tinggi, pembuangan sampah sembarang tempat, penebangan hutan secara liar, dan drainase yang kurang mendukung menjadi penyebab terjadinya banjir bandang.

amdal

Sekarang berbanding terbalik, masyarakat Bima dan Sumbawa ditimpa bencana banjir bandang. Dulu banjir yang menimpa wilayah kita tidaklah terlalu begitu besar. Sebuah refleksi terbaru akhir-akhir ini mengejutkan masyarakat Pulau Sumbawa, dan NTB umumnya. Banjir menimpa masyarakat Bima dan Sumbawa. Kerugian material cukup besar. Kerusakan terjadi tidak hanya pemukiman warga tapi juga lahan pertanian, peternakan, fasilitas umum lainnya termasuk sarana pendidikan. Apakah ini pertanda alam berkehendak dan menegur manusia ? Tentu ini yang harus direnungkan oleh kita semua, karena ada yang salah dengan manusianya. Secara geografis, Bima dan Sumbawa adalah dua daerah yang berada di Pulau Sumbawa. Kalau kita refleksi, daerah Bima dan Sumbawa tidak pernah tertimpa banjir besar. Belakangan ini di tahun 2016-2017, meluapnya banjir di Bima kemudian disusul Sumbawa dinilai sangat tragis seperti sesuatu yang terjadi secara insidental, mengagetkan masyarakat setempat. Bahkan sekarang masyarakat Bima masih waspada dan tidak merasa nyaman karena takut akan terjadi banjir susulan.

Baca Juga  Gubernur Ajak BEM NTB Gagas Program yang Bermanfaat Bagi Masyarakat

Menarik untuk diketahui oleh kita bersama, Bima dari letak geografisnya bukan termasuk  daerah yang rawan banjir, begitupun Sumbawa adalah salah satu daerah yang kira-kira peta saluran air dan tanggul terarah. Namun, bukti terkini Bima dan Sumbawa menjadi momok yang ditakuti oleh masyarakat setempat. Banjir menimpa dua daerah tersebut bukan sekali terjadi tapi beberapa kali terjadi. Apa yang salah, entah pemerintah atau masyarakat ?. Sepertinya kita harus sadar diri, apa penyebabnya kalau bukan penebangan hutan secara liar, gunung pun gundul dijadikan lahan pertanian sehingga hutan serapan yang menangkas aliran air gunung itu habis dirambah. Saya pikir pemerintah dan masyarakat juga sama-sama belum sadar pentingnya merawat dan melestarikan alam. Keasrian hutan Bima dan Sumbawa, kini terjual oleh perilaku para pelaku ilegal logging. Kesadaran masyarakat tidaklah cukup, toh masih ada yang bertingkah meski sebagian kecil sudah sadar, apakah mungkin itu akan sadar dengan sendirinya. Jika tidak, ada regulasi yang tegas dari pemerintahnya untuk meringkus mafia illegal logging.

Kita tidak buta bagaimana penebangan hutan secara liar di Tambora dan di beberapa daerah lainnya. Kasus yang sangat riskan bagi kita semua. Kalau saja masyarakat sadar tidak melakukan hal demikian dan diperkuat oleh regulasi/ketegasan pemimpin daerah dengan metode baru yaitu program penghijaunan, lestarikan hutan dan menggiatkan sosialisasi atau penyuluhan kepada seluruh elemen masyarakat, mungkin daerah kita tidak sampai darurat banjir atau bencana alam lainnya. Semoga kiranya pemerintah dan masyarakat Nusa Tenggara Barat sadar dengan kondisi yang sudah terjadi sehingga orientasi daerah yang aman itu kembali kepada kesadaran, dan satu dalam pandangan yang sama. (*)

Baca Juga  Baru Lulus SMA Dibekuk Simpan Ratusan Gram Sabhu dan Pil Koplo

 

iklan bapenda