OPINI: KSB Darurat Lingkungan

oleh -0 views
Yadi Saputra
bankntb

Oleh: Yadi Saputra Aktivis HM

SUMBAWA BARAT, SR (23/02/2017)

amdal

Kesalahan tidak akan pernah menjadi kesalahan jika kesalahan itu tidak terungkap. Kasus pencemaran lingkungan yang terjadi di Kecamatan Sekongkang akhir-akhir ini yang disebabkan oleh keberadaan perusahaan tambang di daerah tersebut pada dasarnya tidak ada masalah yang begitu berarti bagi pihak perusahaan jika masyarakat hanya diam dan jadi penonton tanpa memiliki keberanian untuk mengungkapnya. Karena, kejadian serupa tidak terjadi baru kali ini saja namun kejadian serupa yang menimbulkan kematian biota air di daerah lingkar tambang PTNNT yang kini telah diakuisisi dan berganti nama menjadi PT AMNT telah sering terjadi, namun masyarakat tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya secara masif. Seperti yang terjadi dua pekan terakhir ini.

Masyarakat KSB, khususnya masyarakat lingkar tambang nampaknya telah mulai sadar akan bahaya lingkungan yang sedang mengintai setiap segmen keberlangsungan kehidupan sosial. Tidak ada kata terlambat semasih bisa untuk dibenahi secara bersama-sama. Karena sungguh miris keadaan yang terjadi pada masyarakat KSB terkait keberadaan perusahaan tambang kedua terbesar di Indonesia ini. Sebab mengapa ? masyarakat yang belum dapat kita katakan sebagai masyarakat yang mendapatkan keuntungan dari keberadaan tambang kini telah dihadapkan dengan bahaya laten pencemaran lingkungan, belum lagi permasalahan-permasalahan yang masih sangat banyak dan belum mampu untuk diselesaikan oleh manajemen perusahaan telah membuat suatu kelengkapan penyiksaan kapital yang luarbiasa.

Baca Juga  Besok, Pelayanan Puskesmas dan Pustu Bakal Terganggu

Kini KSB berada dalam “Zona DARURAT LINGKUNGAN”. Kenapa ? Karena sampai dengan hari ini belum ada klarifikasi yang otentik dan akuntabel dari pemerintah ataupun PT AMNT terkait kronologi telah berlangsung sejak kapan dan pemberitahuan dampak terparahnya apa. Kini kondisi KSB adalah Zona Darurat Lingkungan. Sekarang sangat tidak boleh mengkonsumsi sembarangan Seafood. Sebab bukan tidak mungkin dampak pencemaran yang terjadi di Desa Tongo Kecamatan Sekongkang berdampak hingga wilayah yang lebih luas sampai ke ujung Sape (Bima) dan ujung Ampenan (Mataram). Kita sebagai masyarakat haruslah meningkatkan tingkat kehati-hatian demi mendapatkan kesehatan yang baik dan bebas dari ancaman penyakit akibat dari pencemaran lingkungan. Musibah ini telah cukup banyak menyita energi masyarakat dan pemda dalam usaha menghindari terjadinya hal yang dapat menimbulkan korban jiwa dalam waktu dekat. Namun paradigma yang dibangun seharusnya adalah dampak pencemaran ini tidak akan dirasakan saat ini namun ini akan terlihat dampak sekitar 10 hingga 15 tahun. Bisa jadi lebih cepat dari dari itu. Maka, mari kita bebenah ! (*)

 

 

iklan bapenda