Olipia, Balita Hydrocepallus Butuh Uluran Tangan

oleh -0 views
Olipia dan neneknya, Mariam
bankntb

SUMBAWA BESAR, SR (08/02/2017)

Olipia—balita berumur 4 tahun hanya bisa terbaring lemah. Di pangkuan neneknya, tampak selang cairan dari otak yang mengarah ke perutnya. Selang tersebut sudah ada sejak Olipia menjalani operasi pertama pada umur 2 tahun. Sejak lahir balita yang tinggal di Dusun Kanar, Kecamatan Badas ini menderita hydrocepallus, penyakit pembekakan otak yang terjadi akibat gangguan aliran cairan di dalam otak. Kini Olipia membutuhkan uluran tangan para dermawan, untuk menghadapi operasi keduanya. Olipia belum memiliki biaya untuk pemberangkatan dan proses lainnya. Sejumlah wartawan bersama para perawat dan bidan dari Puskesmas Labuhan Badas berkesempatan mengunjungi Olipia di kediamannya. Keberadaan para medis ini untuk memeriksa kondisi Olipia. Di kepala balita perempuan itu sudah mengempes.

Nenek Mariam yang diwawancarai, menuturkan cucunya lahir di RSUD Sumbawa dengan kondisi hydrocephalus. Olipia pun dirujuk ke RSUD Mataram untuk dioperasi. Saat ini Olipia harus menjalani operasi lanjutan. Karena tidak memiliki biaya, upaya itu harus ditangguhkan. Nenek Mariam mengakui memiliki BPJS Mandiri, tapi dia tidak memiliki biaya ke Mataram dan akomodasi lainnya.

Olipia sudah lama diasuhnya. Kedua orang cucunya ini sudah bercerai ketika Olipia masih di dalam kandungan. Ibu Olipia kini bekerja sebagai staf di salah satu PJTKI di Sumbawa Besar. Sedangkan ayahnya tidak diketahui rimbanya. Dengan kondisi yang dialami cucunya tersebut, Mariam berharap adanya uluran tangan dari pemerintah maupun donatur.

Baca Juga  Calon Karyawan Waiting List PTNNT Gedor DPRD KSB

Selain Olipia, dua orang cucu dari adik nomor dua Mariam juga mengalami kelainan. Mereka adalah Desi (17) dan Muhammad Adha (2,4 tahun). Keduanya menderita down syndrome–kelainan genetik yang terjadi pada kromosom yang berdampak pada keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Keduanya dirawat oleh adik ketiga dari Mariam, Sawariani. Kakak beradik ini tidak lagi memiliki ibu karena meninggal dunia. Sedangkan sang ayah sedang bekerja. Keduanya nampak sehat dan aktif berkomunikasi dengan tamu yang datang rumahnya. Hanya ketika petugas kesehatan mengecek Muhammad Adha, tidak ada respon berarti. Sebab Adha sulit mengikuti instruksi petugas kesehatan. Berbeda dengan kakaknya, Desi, yang sudah paham dengan penyampaian lawan bicaranya.

Bidan Koordinator Kecamatan Labuhan Badas, Nur Aida mengatakan, untuk Olipia, pihaknya sudah berkoordinasi dengan orang tuanya. Olipia sudah memiliki BPJS mandiri. Untuk mendapatkan bantuan, pihaknya akan berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan yang kemudian berkoordinasi dengan Pemda Sumbawa untuk mencari bantuan bagi Olipia. “Untuk biaya operasinya tidak ada masalah, karena operasi sebelumnya ditanggung BPJS,” kata Aida.

Selain mengecek kondisi Olipia, Aida juga mengunjungi Adha. Pihaknya melaksanakan stimulasi tumbuh kembang terhadap Adha. Pihaknya juga memberikan edukasi terhadap orang tua atau neneknya. Misalnya sang anak tidak bisa bicara akan diajarkan caranya. “Adha baru bisa bicara satu kata. Adha juga belum bisa memindahkan atau menyusun barang,” ujarnya.

Baca Juga  Jadikan Sumbawa Basis Benih Bawang Merah, Kementan Kucurkan 200 Miliar

Sedangkan Desi sudah lewat masa perawatan karena sudah berumur 17 tahun. Meski demikian, pihaknya tetap melakukan pemantauan mengingat masih belum bisa bicara secara benar namun sudah bisa merespon isyarat dengan sangat baik. (JEN/SR)

iklan bapenda