Ini Alasan Meroketnya Harga Cabai di NTB

oleh -6 views
Kadis Pertanian NTB Husnul Fauzi

MATARAM, SR (10/01/2017)

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Husnul Fauzi mengatakan, kenaikan harga cabai di NTB tidak berkaitan langsung dengan stok ketersediaan cabai.

Ia menerangkan, harga cabai di NTB pada dua hari yang lalu sebesar Rp 85 ribu per kilogram (kg), sedangkan sehari setelahnya merangkak naik menjadi Rp 95 ribu per kg. “Hari ini naik menjadi Rp 115 ribu per kg, ini suatu gejala pasar yang memang tidak terkait langsung dengan ketersediaan,” ungkapnya di Mataram, NTB, Selasa (10/01).

Husnul menjelaskan, dari 5.800 hektar lahan pertanian cabai yang ada di NTB, produksi setahun mencapai Rp 105 ribu ton atau surplus dari kebutuhan di NTB yang tidak lebih dari 20 ribu ton per tahun. Jumlah sebesar 105 ribu ton ini merupakan produksi tertinggi yang dihasilkan NTB selama lima tahun terakhir. Dari 5.800 hektar luas lahan pertanian cabai, sekitar 90 persen atau 4.800 hektar berada di Kabupaten Lombok Timur seperti di Kawasan Sembalun, Suralaga, dan Masbagik.

Melihat kondisi yang ada, kisaran harga cabai antara Rp 38 ribu per kg hingga 45 ribu per kg merupakan angka ideal baik bagi petani dan juga pedagang. Jika harga berada di atas itu rentan akan konflik dan psikologis masyarakat. “Angka tersebut sudah memenuhi keuntungan petani dan pedagang serta tidak memberatkan warga,” sambungnya.

Baca Juga  NTB Gemilang PR Ambassadors Challenge 2019 Dilaunching

Mengenai melambungnya harga cabai di pasar lokal saat ini, bukan karena ketersediaan cabai di NTB, melainkan kondisi yang terjadi di luar NTB. Melonjaknya harga cabai di Pulau Jawa khususnya, membuat para pengepul memilih mengirimkan cabai ke Jawa, terutama Jakarta dengan alasan keuntungan lebih besar. Ia menyoroti perilaku pasar yang juga harus memprioritaskan pasar lokal sebelum mengirimkan ke luar daerah. “Hanya kontinuitas (pasar lokal) yang harus dijaga, kalau ada permintaan Jakarta tidak terpenuhi oleh Jawa Timur, maka jangan pasar lokal ditinggal, perilaku itu harus perhatikan,” ungkapnya.

Ia meminta para petani, pengepul, pedagang, untuk meningkatkan sinergitas agar memenuhi kebutuhan daerah sebelum mengirimkan ke luar. “Perilaku yang jadi pedagang sekaligus pengepul dan petani, tolong harmoniskan hubungan dengan pasar induk, jangan ketika anda tidak butuh dengan Jakarta sana, anda baru mampirin ke pasar lokal, ketika tidak ada permintaan dan pasokan dari Jatim ngambil dari sini langsung ke Jakarta tanpa perhatikan pasar kita,” tukasnya.

Akibat hal tersebut dan melihat kondisi di Pulau Jawa, maka banyak pedagang yang ikut menaikan harga cabai di atas harga normal di NTB. Selain itu juga disebabkan pasokan berkurang akibat kebanyakan pasokan dikirim ke luar daerah. Kendati demikian, ia optimistis hal ini tidak akan berlangsung lama jika menilik ketersediaan cabai yang melimpah di NTB. “Saya pikir ini tidak akan bergerak lama. Saya mau cek lagi, bukan intervensi tapi mendekatkan mereka secara persuasif,” ujarnya. (NA/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.