Hutan Sumbawa Kritis, LOH Pelopori Gerakan Tanam Pohon

oleh -48 views

SUMBAWA BESAR, SR (26/12/2016)

Lembaga Olah Hidup (LOH) bekerjasama dengan ICCTF, Kementerian PPN/Bappenas, dan Dishutbun Sumbawa melaunching Gerakan Penanaman Program Rehabilitasi Lahan dan Hutan melalui pengembangan HKM untuk peningkatan daya dukung DAS Moyo di Desa Lito Kecamatan Moyo Hulu, Sabtu (24/12) kemarin. Mengawali kegiatan itu, dilakukan ritual memasuki kawasan hutan yang menjadi tradisi masyarakat wilayah setempat. Selain itu pembacaan pernyataan oleh Kelompok Samoko Desa Lito.

Direktur Lembaga Olah Hidup (LOH) Sumbawa, Yani Sagaroa, Senin (26/12) mengatakan, upaya ini dilakukan karena telah terjadi degradasi dan deforestasi hutan di Sumbawa yang cukup besar. Menurut catatan, tersisa sekitar 30 persen hutan perawan di Kabupaten Sumbawa. Hutan yang kritis sudah mencapai di atas 70 persen sehingga hampir setiap tahun terjadi banjir, tanah longsor, dan lainnya. Pihaknya telah memfasilitasi beberapa kelompok masyarakat salah satunya di Desa Lito untuk mendapatkan hak kelola (Hkm). Di Desa Lito, Kelompok Samoko telah mendapatkan IUP Hkm dan mendapatkan pencadangan areal dari Kemenhut LH. Selain Kelompok Samoko selaku kelompok induk, juga ada lima kelompok blok, dan dua kelompok ikutan.

Wabup Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah dan Ketua LOH Yani Sagaroa
Wabup Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah dan Ketua LOH Yani Sagaroa

Menurut Yani, sekitar 150 hektar hutan dan sekitar 40 hektar lahan terdegradasi di luar Hkm akan direhabilitasi. Pasalnya, tutupan lahan terbuka sangat luas sehingga daya serap air yang lemah menyebabkan banjir. Keberadaan DAS Moyo sambung Yani, merupakan salah satu DAS yang kerap membawa bencana banjir di hilir atau utara, juga di Moyo Hulu. Untuk itu DAS menjadi prioritas nasional untuk diperbaiki. Pihaknya akan menfasilitasi pengadaan bibit benih hingga Tahun 2018 sehingga seluruh kawasan atau 150 hektar dapat terehabilitasi secara baik. Masyarakat diberdayakan dan mendapat manfaat, mengingat skema Hkm tidak hanya tanaman kayu-kayuan tapi juga tanaman sela untuk tanaman pangan yang bisa dimanfaatkan warga. Pihaknya telah menyiapkan 11 jenis bibit tanaman. Tanaman kayu ada 4 jenis (Jati, Mahoni, Gamalina dan Sengon) dan tanaman buah (Kemiri, Srikaya dan sebagainya). “Juga mengganti satu spesies pengganti asam dengan bibit asam manis,” imbuhnya.

Baca Juga  Tanah Kavling di Kawasan Samota dan Kelapis, Investasi Masa Depan

Yani mengakui, salah satu tantangan terbesar yang akan dihadapi yakni tindakan illegal logging yang cukup masif di Sumbawa terutama eks Perum Perhutani yakni Selanteh, Batu Bangka dan kawasan hutan lainnya. Ia berharap pemegang mandat ijin Hkm tersebut tetap menjaga sesuai aturan main yang ada. Tidak hanya wilayah Hkm, tapi semua pihak untuk menanam dan mengembalikan kejayaan hutan di Sumbawa karena kedepan ancaman cuaca buruk akan menghantui. “Saat habis musim hujan dihantui kekeringan yang luar biasa, banyak mata air yang sudah hilang. Maka dengan kondisi hutan yang rusak tidak akan mampu diharapkan mengembalikan kondisi air seperti semula,” tandas Yani.

Sementara Wakil Bupati Sumbawa, Drs H. Mahmud Abdullah menilai bahwa peran Lembaga Olah Hidup (LOH) Sumbawa patut dicontoh karena sangat bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat banyak. Tanaman di Hkm dapat dilakukan dengan tumpang sari jagung agar kedua-duanya berhasil. “Kalau hanya jagung maka 5 tahun ke depan Sumbawa akan hancur dan salah satu contoh di Bima yang kondisi hutannya sudah menggundul,” tukas Wabup. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.