Kyai Zul Kembali Menjadi Pariwa Adat Kemutar Telu

oleh -43 views

KERJASAMA SAMAWAREA DENGAN PEMDA KABUPATEN SUMBAWA BARAT

SUMBAWA BESAR, SR (19/12/2016)

Sultan Sumbawa, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV kembali memilih Dr. KH. Zulkifli Muhadli SH MM menjadi Pariwa Adat Kemutar Telu. Amanat itu kembali diemban Bupati Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dua periode 2005—2015, telah ditentukan dalam Mudzakara Rea Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) yang dipimpin Sultan Sumbawa di Istana Dalam Loka, Minggu (18/12).

Dalam pidatonya, Kyai Zul—akrab Ia disapa menyampaikan terima kasih kepada Sultan dengan hak prerogatifnya memerintahkannya kembali menjadi Pariwa Adat Kemutar Telu untuk masa bhakti berikutnya. Ia berharap dengan melaksanakan amanah ini, akan menjadi amal jariyah kelak.

Patut disyukuri, Allah telah menakdirkan Adat Samawa “Barenti Lako Sara, Sara Barenti Ko Kitabullah”. Menurut Kyai Zul, Adat Sumbawa harus diwarnai oleh Islam. Ketika adat itu tidak Islam tentu harus dikoreksi. Karenanya jika berbicara dan mengamalkan adat barenti lako sara, sara barenti lako kitabullah, Tau Samawa sudah benar-benar melanjutkan pekerjaan Rasullah SAW. Ini merupakan amal ibadah dan dakwah yang luar biasa. Sebab ada lima hal yang harus dijaga oleh pemangku adat tana Samawa ini. Yaitu menjaga agama ini agar tidak melenceng yang merupakan pekerjaan yang sangat berat. Kemudian menjaga cara berfikir Tau Samawa ini agar logis dan benar. Selanjutnya menjaga agar keturunan  tetap baik dan tidak rusak. Pemangku adat Samawa ini juga diperintahkan menjaga harta benda warga Sumbawa agar halalan toyyiban dengan tidak mengganggu harta benda orang lain. Terakhir, menjaga jiwa Tau Samawa ini supaya saling menghormati dan tidak mengganggu orang lain. “Alhamdulillah Sultan menerima amanah ini dengan penuh pengorbanan, tidak ada keuntungan apa-apa bagi sultan, yang ada hanya berkorban untuk adat dan Tana Samawa. Untuk kita yang menjadi pemerhati dan orang peduli pada adat Tana Samawa ini, mari kita ikhlaskan niat bahwa ini untuk masa depan anak-anak kita, keturunan kita, keluarga kita, masyarakat kita, dan agama kita, bagaimana kita menjaga kekayaan alam yang ada di Tana Samawa ini,” pungkasnya. (JEN/SR)