SKK Migas-Jabanusa Gelar Kuliah Umum Berkualitas di UTS

oleh -19 views

SUMBAWA BESAR, SR (24/11/2016)

“Di kehidupan masyarakat modern, kita selalu bergantung dengan migas. Tidak mungkin kita hidup tanpa energi. Dan Indonesia, 70 % APBN masih bergantung pada perolehan migas,” tutur Dr. Ali Masyhar, Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa (Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) mengawali sambutannya di Kuliah Umum SKK Migas di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Rabu (23/11) kemarin.

Kuliah umum dengan tema “Struktur Geologi dan Potensi Migas di Sumbawa” dihadiri 100 orang peserta terdiri dari mahasiswa seluruh program studi di UTS. Selain itu, hadir Anggota DPR RI Komisi VII, Dr. Zulkieflimasyah, M.Sc, Rektor UTS, Dr. Andi Tirta, M.Sc dan juga Kepala Geologi Kementerian ESDM, Dr. Ir. Wafid, M.Sc sekaligus menjadi pemateri dalam kuliah umum yang berlangsung di Aula Serbaguna UTS tersebut. Dalam kuliah umum sekitar 2,5 jam tersebut, Dr. Ir. Wafid, M.Sc menyampaikan materi berjudul “Peran Badan Geologi Dalam Optimalisasi Ekplorasi Migas” yang dipandu moderasi Amirin Kusmiran, S.Si MT, Ketua Program Studi Teknik Metalurgi dan Material UTS.

uts-skk-migas

Dalam pemaparannya, Dr. Ir. Wafid, M.Sc menjelaskan bagaimana Badan Geologi berperan memetakan struktur tanah berdasarkan sedimentasi yang tercipta dari patahan dan lipatan. Dibahas juga mengenai pemetaan struktur sedimentasi yang terjadi di Sumbawa. “Sumbawa dikelilingi oleh cekungan-cekungan yang berpotensi adanya migas, seperti cekungan Flores Utara, cekungan Bali-Lombok Utara, Cekungan Sumba Selatan, dan beberapa cekungan lainnya. Namun umur dari sedimen yang terdapat di Sumbawa masih berumur tersier. Sedangkan untuk proses ekploitasi dibutuhkan sedimen yang berumur pra-tersier,” paparnya secara teknis kondisi geologi migas di Sumbawa.

Baca Juga  Genderang iGEM Siap Ditabuh 

Dalam sesi tanya jawab, Doktor Ali Masyar menjawab pertanyaan M. Nur Fatoni, Mahasiswa Teknik Mesin UTS tentang dryhole atau pengeboran yang ternyata kosong minyak. “Bagaimana jika terjadi pengeboran yang ternyata di wilayah tersebut kosong minyak, dan bagaimana tindakan serta dampak yang terjadi pada lingkungan ?” tanya Fatoni.

Dr. Ali Masyhar menjelaskan bahwa dunia migas adalah salah satu sector yang paling tinggi upstreamnya. Mengebor harus dibutuhkan keyakinan dengan data yang jelas, sebab dana yang dibutuhkan untuk mengebor di satu titik tidaklah sedikit. “Dibutuhkan dana ratusan miliyar untuk mengebor di satu titik, sementara persentase kesuksesan mengebor hanya 20-30 %, jadi sekitar 3 dari 10 titik yang berhasil,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengeboran itu merupakan highrisk atau padat resiko, baik dari segi finansial yang dikeluarkan, juga alat-alat teknologi yang digunakan. “Karena itu pemerintah tidak pernah mengeluarkan anggaran untuk proses pengeboran, jadi para investor-investorlah yang melakukannya. Apabila hasilnya ternyata kosong, ya wassalam, sebaliknya ada, maka biayanya akan diganti oleh pemerintah dari hasil minyak yang diperoleh,” lanjutnya.

Dr. Ir. Wafid menambahkan bahwa hasil dryhole sebenarnya tidak benar-benar merugi. “Dari segi dana tidak semuanya sia-sia, kita bisa mendapatkan info grafik dan bar untuk menganalisis wilayah di sekitar pengeboran,” ungkapnya.

uts-skk-migas-1

Selain itu, berbicara mengenai dampak lingkungan pasca dryhole tersebut, wilayah seputaran titik akan ditutup dan tidak boleh dilakukan pembangunan untuk menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Tidak hanya sebatas memberikan pemaparan mengenai bagaimana kondisi fisik geologi di Sumbawa, Dr. Ir. Wafid, M.Sc didampingi Dr. Ali Masyhar juga menjawab beberapa pertanyaan dari mahasiswa seputaran materi dan SKK Migas. Dari pemaparan sistematis dan teoritis yang diungkapkannya, Tri Akhmad Firdaus, Mahasiswa Teknik Metalurgi dan Material UTS mempertanyakan bagaimana kondisi teknis dan kendala-kendala yang mungkin dihadapi di lapangan sebagai seorang geologi. Dr. Ir.Wafid menjelaskan kendala-kendala yang akan dihadapi di lapangan tentu tidak sedikit. Dimulai dari kendala teknis, social budaya, dan lapangan.

Baca Juga  Inilah Kepala SD dan SMP yang Dilantik

Yang paling berpengaruh bagi seorang geologi adalah ketika ia harus turun ke lapangan dan berhadapan langsung dengan masyarakat. Sebab, kondisi masyarakat yang masih awam membuat kendala tersendiri terhadap proses identifikasi yang dilakukan. “Lantas bagimana dengan Sumbawa, kapan identifikasi dan eksplorasi ?” salah satu pertanyaan tercetus dari Ali Syahidulah, Mahasiswa Teknik Sipil UTS. “Sudah !” jawab Dr Ali Masyhar.

Sumbawa sudah diidentifikasi dan dipetakan. Salah satu tempat yang menjadi sorotan adalah Pulau Satonda. “Di sana sudah ada investor yang melakukan ekplorasi pada tahun 2013 lalu, HCML-Haskie, salah satu perusahan asing yang melakukannya, tetapi sekali lagi belum menemukan hasil,” ujarnya.

Seperti yang dijelaskan di atas bahwasanya Sumbawa masih pada tahap sedimen yang berumur tersier. Jadi mungkin tanah Sumbawa ini menunggu adik-adik untuk mengeplorasi dan mengekploitasinya bukan orang dari lain,” ujar Dr Ali Masyhar memberi semangat kepada peserta kuliah umum.

Di akhir kuliah umum, para pemateri memberikan motivasi yang besar kepada peserta kuliah umum agar dapat menjadi bagian dan proses SKK Migas khususnya dalam ekplorasi dan ekploitasi migas di Sumbawa kedepannya. (NDP/SR)

bang-zul-gubernur-ntb

 

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.