Perekonomian Indonesia Hadapi Tantangan Eksternal dan Domestik

oleh -5 views

JAKARTA, SR (23/11/2016)

Gubernur Bank Indonesia, Agus D.W. Martowardojo, dalam siaran pers hasil Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, Selasa (22/11) kemarin, dengan tema “Mengoptimalkan Potensi, Memperkuat Resiliensi”, menekankan tiga potensi yang perlu dioptimalkan Indonesia untuk mendorong resiliensi atau daya tahan perekonomian nasional.

Pertama, menyangkut kepercayaan dan keyakinan yang tinggi dari pelaku ekonomi terhadap pemerintah. Kedua, sumber pembiayaan ekonomi yang besar. Ketiga, perkembangan teknologi digital yang pesat dan mendukung kegiatan ekonomi. Seluruh potensi tersebut akan dapat memperkuat dan menggandakan manfaat dari potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia yang sudah lebih dulu dikelola dan telah dijadikan prioritas.

Pertemuan dihadiri Presiden Joko Widodo, Pimpinan Lembaga Negara, Menteri Kabinet Kerja, Pimpinan Lembaga Pemerintah, Pimpinan DPR-RI, para Gubernur, Kepala Daerah, Pimpinan Perbankan dan Korporasi Nonbank, akademisi, pengamat ekonomi, serta perwakilan sejumlah lembaga internasional.

Menurut Agus, Bank Indonesia memandang bahwa kepercayaan pelaku ekonomi terhadap pemerintah akan terbangun lebih kuat apabila pihak-pihak terkait terus menjaga kedisiplinan dalam mengelola kebijakan fiskal dan moneter serta terus menjaga konsistensi kebijakan reformasi struktural. Dari sisi sumber pembiayaan, program pengampunan pajak menjadi momentum yang kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, dan menjadi modal penting untuk memperluas ruang fiskal secara sehat. Sementara perkembangan ekonomi digital yang pesat dan sehat sangat diperlukan untuk mendukung kegiatan ekonomi digital yang lebih merata, seperti pada aktivitas e-commerce dan financial technology.

Baca Juga  Mahasiswa KKL UNSA Sukseskan Festival Pesona Prajak

Saat ini kata dia, perekonomian Indonesia masih banyak menghadapi tantangan eksternal dan domestik. Masalah struktural pada perekonomian global, yang penyelesaiannya memerlukan waktu, perlu diantisipasi. Resiliensi ekonomi domestik pun harus semakin dioptimalkan. Untuk itu, Gubernur BI menegaskan pentingnya tiga fungsi dasar kebijakan publik, yaitu fungsi stabilisasi sebagai dasar pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, fungsi alokasi untuk menjamin penggunaan berbagai sumber daya sesuai prioritas dan efisien, dan fungsi distribusi untuk pemerataan hasil-hasil pembangunan. Dalam menjalankan fungsi tersebut kata Agus, prinsip sinergi menjadi salah satu hal yang perlu dipedomani. Kebijakan yang dikeluarkan harus harmonis dan terintegrasi antar pemangku kebijakan di pusat dan daerah. Mengingat hal tersebut, Bank Indonesia terus berusaha mengoptimalkan bauran kebijakan untuk memperkuat stabilitas ekonomi, yang selanjutnya akan menopang fungsi alokasi dan fungsi distribusi.

Bank Indonesia dalam pertemuan yang disebut tradisi memaparkan arah kebijakan yang akan ditempuh ke depan. Dari sisi moneter, Bank Indonesia secara konsisten mengendalikan inflasi agar sesuai dengan sasarannya dan menjaga defisit transaksi berjalan pada tingkat yang sehat. Di tahun 2017, BI akan memperkenalkan Giro Wajib Minimum (GWM) Averaging, guna memberikan ruang fleksibilitas pengelolaan likuiditas bagi bank. Optimalisasi SBN sebagai instrumen moneter secara bertahap juga akan dilakukan untuk menggantikan SBI. Bank Indonesia juga akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan melakukan percepatan pendalaman pasar keuangan.

Baca Juga  Setelah Sebotok dan Medang, Dishub Rencanakan Dermaga Labuan Aji

Kebijakan makroprudensial Bank Indonesia pada tahun 2017 menurut Agus, akan diarahkan pada upaya memperkuat dan memperluas cakupan pengawasan (surveillance) makroprudensial terhadap rumah tangga, korporasi dan grup korporasi nonkeuangan. Dalam kerangka Undang-Undang Pencegahan dan Penanganan Krisis Sistem Keuangan (PPKSK), Bank Indonesia akan segera menyempurnakan perangkat protokol manajemen krisis dan ketentuan yang terkait dengan fungsi bank sentral sebagai lender of the last resort. Bank Indonesia juga terus mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan komersial syariah dan keuangan sosial syariah. (ZM/SR)

No More Posts Available.

No more pages to load.