Gelar Seminar Literasi Media, UTS Gandeng Adi Pranajaya

oleh -45 views

SUMBAWA BESAR, SR (18/11/2016)

“Film itu sama seperti saat kita membicarakan sesuatu. Ada orang yang punya ide tapi tidak bisa menyampaikannya dengan baik. Lalu ada juga orang yang bisa menyampaikan, tapi kosong, tidak ada makna. Itu sebabnya ide yang baik tidak menjamin lahirnya film yang baik. Maka agar tidak ada kendala, pembuatan film harus dikerjakan oleh ahlinya,” ungkap Adi Pranajaya, praktisi film dalam seminar bertema Literasi Media : Titip Pesan Lewat Film.

Kegiatan yang digelar Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) di Wisma Daerah, Kamis (17/11) kemarin ini sukses mengundang antusiasme siswa sekolah menengah. Seminar yang berlangsung selama sekitar 3 jam itu dihadiri 120 orang pelajar dari 15 sekolah menengah di Sumbawa.

Menyikapi fenomena film dewasa ini yang cenderung tidak mendidik, Adi Pranajaya menjelaskan bahwa pada dasarnya apapun yang dibuat idealnya harus selalu bermanfaat. Kalau film yang dibuat, maka film itu haruslah bermanfaat, artinya mengandung informasi, menyampaikan nilai-nilai, dan juga menghibur. Menurutnya, membuat film yang seperti itu adalah tantangan bagi setiap pelaku film, bagaimana sebuah karya film menjadi karya yang tidak murahan, tapi juga mudah untuk dipahami.

seminar-literasi

Adi juga menjelaskan pentingnya klub atau kelompok pecinta film di kalangan pelajar. Ia mencontohkan, ada Cineclub Fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, ada Cineclub Fakultas Hukum di Universitas Trisakti, dan sebagainya. Dalam Cineclub, mereka tidak harus menjadi praktisi film, tapi menganalisis fenomena dalam film. “Misalnya, mahasiswa dari fakultas ekonomi menonton film dan menyoroti bagaimana bisnis terjadi, atau mahasiswa dari fakultas hukum mencermati bagaimana kasus-kasus hukum diselesaikan dalam film tertentu,” ujar pemilik Production House Adi Pranajaya—putra asli Sumbawa yang bermukim di Jakarta.

Baca Juga  Vaksinasi Massal di SMKN 1 Plampang, Banyak Pelajar Hendak Kabur

Renny Suci, Ketua Panitia yang juga Dosen Desain Komunikasi Visual Fikom UTS, mengatakan, seminar tersebut diadakan untuk memberikan pengetahuan kepada para pelajar tingkat sekolah menengah di Sumbawa. “Kami ingin memberikan pemahaman bahwa semua karya audiovisual—termasuk di antaranya film, dibuat dengan desain atau seting. Jadi untuk menyikapi tontonan sehari-hari sebetulnya kita dituntut untuk berpikir kritis, jangan sembarang menjadikan cerita dalam film sebagai panutan, atau bahkan trend,” terangnya.

Untuk diketahui, Universitas Teknologi Sumbawa juga memiliki Cineclub. Namun dengan model yang sedikit ‘dimodifikasi’. Jika biasanya masyarakat yang mendatangi film—misalnya datang ke bioskop, dan sinetron mendatangi penonton—dengan menonton televisi, maka Cineclub UTS ingin membuat film yang justru mendatangi masyarakat. Menurut Renny, modifikasi seperti ini penting untuk meningkahi kendala transportasi, termasuk di antaranya kendala bahwa belum ada bioskop di Pulau Sumbawa. Sebagai tambahan, Cineclub UTS rutin menggelar “Bioskop Jumatan” di Universitas Teknologi Sumbawa. “Tentunya, kita semua berharap industri perfilman Indonesia dapat berkembang dengan lebih baik ke depannya,” demikian Renny. (SMH)

No More Posts Available.

No more pages to load.