Gubernur NTB Kumpulkan Ulama dan Tokoh Lintas Agama

oleh -16 views

MATARAM, SR (15/11/2016)

Suasana di Pendopo Gubernur NTB yang terletak di Jalan Pejanggik, Kota Mataram, Senin (14/11) malam tak seperti biasanya. Ratusan orang yang terdiri atas tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga pimpinan pondok pesantren berkumpul. Pemuka agama dari MUI NTB, Nahdlatul Wathan, Nahdlatul Ulama, dan sejumlah perwakilan agama Katolik, Protestan, Hindu, Budha, hingga Konghucu duduk bersila bersama Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi. Tak nampak sekat di antara mereka, sebagaimana Masjid dan Pura yang kerap bersebelahan di Provinsi berjulukan Pulau Seribu Masjid ini.

Gubernur NTB, TGH Muhammad Zainul Majdi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para undangan dalam silaturahmi untuk ukhuwah wathoniah (persatuan kebangsaan). Di tengah memanasnya situasi nasional saat ini, Zainul Majdi menyampaikan, para tokoh agama merupakan katup pengaman atau pagar untuk memastikan agar dinamika yang terjadi bisa diarahkan kepada kemaslahatan masyarakat di NTB. Keamanan dan kedamaian serta toleransi yang begitu apik di NTB selama ini, ia katakan, tak lepas dari peran para tokoh agama.

Ia menerangkan, Bangsa Indonesia apapun latar belakangnya telah diikat oleh sebuah pemikiran, konsep, dan dasar negara dengan nilai Bhineka Tunggal Ika. “Republik ini amanah dari Allah SWT yang wajib kita jaga, pelihara dan merawatnya,” ungkapnya.

Pria yang dikenal sebagai Tuan Guru Bajang (TGB) mencontohkan, empat pemimpin dunia yang bersahabat dengan membentuk gerakan Non Blok, yakni Presiden Soekarno, Joseph Broz Tito dari Yugoslavia, Jawaharlal Nehru dari India, Gammal Abdul Nasser dari Mesir. Di antara keempatnya, hanya Indonesia yang masih bertahan dan kuat menjaga persatuan. “Yugoslavia lihat sekarang, dia pecah habis semuanya, Mesir pecah dengan Syiria, India kalau tak salah pecah juga, ada Pakistan dan Bangladesh, hanya Indonesia yang benar-benar tetap bisa terjaga,” lanjutnya.

Baca Juga  Anggota DPR RI Syafrudin Dampingi Pelayanan Kesehatan Warga Pulau Bungin

Ia mengibaratkan sebuah negara bak tiang dari kayu yang tak keropos dari luar namun akan keropos di dalam karena serangga yang ada di dalamnya. Karenanya, ia mengajak seluruh anak bangsa untuk sama-sama menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Sebagai bangsa dengan ratusan juta penduduk, ribuan pulau dengan budaya dan bahasa yang berbeda, dinamika politik, ekonomi, sosial tentu tidak terhindarkan. Kendati begitu, ia mengajak agar dinamika yang ada dijadikan sebagai momentum penguatan kesatuan dan persatuan bangsa. Demikian halnya dengan dinamika yang sedang marak terjadi, kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Ia menerangkan, saat ini sisi batin umat Islam tengah terluka akibat ucapan Ahok yang menyinggung kitab suci Alquran. TGB mengaku bersahabat dengan Ahok dan kerap berhubungan dan bercanda melalui SMS maupun pesan elektronik. “Ada Pak Basuki (Ahok) yang diberikan amanah membangun Jakarta, saya bersahabat dengan beliau sering bercanda, tapi dalam hal prinsip saya selalu ingatkan musuh anda mulut anda. Dia (Ahok) bilang terimakasih, terimakasih, tapi ya diulangi lagi,” lanjutnya.

Dia menyampaikan, bila ketersinggungan hanya diarahkan kepada hal-hal yang bersifat pribadi, mungkin masih bisa ditolerir. “Tapi kalau sudah Allah SWT, Rasul, dan Alquran, itu beda sekali ada luka yang dalam,” tegasnya.

Ia mengajak, para tokoh agama Islam untuk sama-sama mengobati luka umat Islam saat ini. Dia berharap dan mengingatkan agar semarah-marahnya umat Islam atas kejadian ini tidak boleh menghilangkan akal sehat. “Saudara Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu mohon situasi ini dipahami. Saling mengingatkan komitmen terhadap NTB dan Indonesia tidak boleh melakukan penistaan kepada siapapun dan agama apapun,” katanya.

Baca Juga  Proposal Ada dan Tidak Terlambat, Tapi Dana Aspirasi “Raib”

Di akhir acara, TGB bersama sejumlah tokoh tersebut membubuhkan tandatangan pada dua poster yang menuliskan pernyataan sikap umat beragama di NTB. Poster itu berisi suara seluruh umat beragama di NTB. Yaitu, kasus penistaan agama yang dilakukan Ahok harus diselesaikan dengan memenuhi rasa keadilan masyarakat. NTB adalah amanah Tuhan yang maha kuasa, kita jaga dengan jiwa dan raga !. NTB adalah rumah kita, kita rawat bersama !. Kita semua bersaudara, saling hormati dengan sepenuh hati”. (NA/SR)

bang-zul-gubernur-ntb

No More Posts Available.

No more pages to load.