“Kerik Salamat” Wujudkan Pemerintahan yang Berkeadilan

oleh -1.272 views

Dari Arena Seminar Hukum Universitas Samawa

SUMBAWA BESAR, SR (06/11/2016)

Universitas Samawa (UNSA) Sumbawa Besar tengah berupaya membuat rumusan menjadi kebijakan dalam membentuk Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang urusan adat dan budaya di Tana Samawa. Perda ini nantinya akan menjadi referensi bagi masyarakat Sumbawa termasuk Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) untuk menyelesaikan segala sengketa tanpa melalui hukum formal dan bisa diselesaikan dengan hukum adat Samawa. Perda ini juga nantinya dapat diimplementasikan untuk mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan di Kabupaten Sumbawa. Karena Perda tersebut mengandung konsep “Kerik Salamat” yang menjadi pegangan masyarakat Sumbawa selama ini dalam kehidupannya. Salah satu upaya UNSA merumuskan hal itu, digelar Seminar Hukum. Seminar bertemakan “Nilai-nilai Kerik Salamat Dalam Mewujudkan Pemerintahan yang Berkeadilan” ini menghadirkan sejumlah narasumber yaitu Wakil Bupati, Rektor UNSA, Kapolres dan Dandim 1607 Sumbawa.

Dalam paparannya Rektor UNSA, Prof. Dr. Syaifuddin Iskandar M.Pd, mengatakan, konsep Kerik Salamat sangat penting untuk diterapkan tidak hanya dalam kehidupan bermasyarakat, tapi juga mewujudkan pemerintahan yang berkeadilan. Jika konsep itu benar-benar diimplementasikan maka pemerintahan yang bersih dan berkeadilan dapat terwujud secara eksis.

unsa-seminar-hukum-1

Kerik Salamat ungkap Prof Ude—sapaan akrabnya, merupakan suatu kondisi kehidupan yang dicita-citakan orang Sumbawa yang dicirikan dengan terwujudnya segala usaha dan upaya, terwujudnya perjuangan hidup di dunia ini, berhasilnya segala perjuangan dan pengorbanan, dan dengannya tercapainya keselamatan di dunia maupun di akhirat. Keselamatan di dunia yaitu kondisi kehidupan yang diridhoi Allah SWT, dan keselamatan di akhirat yaitu keselamatan setelah kematian dengan masuk surga dan terhindar dari siksa neraka jahannam.

Secara hirarki Kerik Selamat berada di bawah pancasila. Secara hirarki konsep kebangsaan, Pancasila di atas segala sumber hukum. Setelah pancasila ada UUD. Di bawah UUD, secara konteks local khususnya Sumbawa yang mayoritas muslim ada pegangan hidupnya atau ‘parenti’ yakni “adat barenti ko sara, sara barenti ko kitabullah”. Turunan dari parenti itu dikenal dengan prinsip hidup Tau Samawa “Taket ko nene, kangila boat lenge”. Setelah itu konsep “Kerik Salamat”. “Supaya krik salamat hidup ini, takutlah kepada tuhan dan kitab-kitabnya. Karena Krik Salamat itu memiliki pengertian mendapat keberkahan, keselamatan dunia dan akherat. Untuk bisa Kerik Salamat, harus membangun hubungan dengan Allah (hablumminallah) dan dengan manusia (hablumminannas). Implementasi dalam konteks hubungan dengan sesama manusia memunculkan nilai Saling Beri, lema lesap kamantel ate (Saling Menyukai, supaya tidak ada dendam di hati), Saling Pedi, lema katili mo kasaket (Saling Mengasihi, supaya terhindar dari kesulitan), Saling Sakiki, lema depar tu balangan (Saling Menghidupkan Nurani, supaya aman dalam bertindak), Saling Santuret, lema maras mata nulang (Saling Mengerti, supaya sedap mata memandang), Saling Beme, lema tu pasak kabalong (Saling Mengarahkan, supaya menjadi sumber kabaikan), Saling Sayang, lema nomonda pagenit (Saling Menyayangi, supaya menghapus kebencian), Saling Salipir, lema sarea luk tu barema (Saling Menyenangkan, supaya semua persoalan terpecahkan), Saling Angkat, lema nyaman tu barome (Saling Menghargai, supaya melapangkan gerak), Saling Satenrang, lema lepas mo ke susa (Saling Memperbaiki, supaya terlepas dari kesusahan) dan Saling Sanyaman, lema nonda su ke pagenit (Saling Menghibur, supaya terjauh dari syakwasangka). “Inilah ujung dari seminar ini yang akan melahirkan rumusan dalam menyusun Perda yang akan menjadi acuan dari kebijakan pembangunan di daerah,” imbuhnya.

Baca Juga  Terjun di Dua Lokasi, Tim Polda NTB Tangkap Dua Tersangka Narkoba

Pegangan Kerik Salamat ini meski diarahkan untuk masyarakat muslim Sumbawa, namun juga sangat cocok untuk diterapkan di tengah keberagaman suku dan agama di daerah ini. “Justru konsep Kerik Salamat ini sangat menjunjung tinggi keberagaman. Sebab muslim yang benar adalah yang rahmatan lil’alamin (rahmat bagi seluruh alam) yang mampu mengayomi semua umat, suku, dan agama. Implementasi inilah yang kita kongkritkan dalam keberagaman di Kabupaten Sumbawa,” jelasnya.

Wakil Bupati Sumbawa didampingi Kapolres, Dandim dan Kepala BNN Sumbawa
Wakil Bupati Sumbawa didampingi Kapolres, Dandim dan Kepala BNN Sumbawa

Sementara Wakil Bupati Sumbawa, Drs. H. Mahmud Abdullah mengatakan, nilai-nilai Kerik Salamat dalam formulasi kebijakan daerah telah tertuang di dalam Visi dan Misi pemerintahan Hunsi—Mo periode 2016–2021 dalam bingkai “Sumbawa Hebat dan Bermartabat”. Yaitu terwujudnya masyarakat Sumbawa yang berdaya saing, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan semangat gotong-royong. Berdaya Saing, menunjukkan kondisi dan kemampuan masyarakat Sumbawa yang unggul dan kompetitif di tengah-tengah persaingan dengan kelompok masyarakat lainnya. Mandiri, menunjukkan dinamika kekuatan pembangunan dengan memberdayakan potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam untuk mencapai Kerik Salamat Tau ke Tana Samawa. Berkepribadian, menunjuk kepada kualitas Tau Samawa yang berkepribadian kuat yang ditandai dengan rasa Takit Lako Nene’ Kangila Boat Lenge sehingga tujuan hidupnya berupa Kerik Salamat yang berdimensi selamat di dunia dan akhirat akan tercapai sebagai kebahagiaan sejati.

Dengan visi misinya, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa memiliki harapan yang logis ke depan untuk mewujudkan Sumbawa yang hebat dan bermartabat. Cita-cita untuk mewujudkan Sumbawa Hebat dan Bermartabat akan dilaksanakan dengan memantapkan peran dan fungsi supra struktur pemerintahan, yaitu sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersih dan berwibawa, jujur dan adil, serta bertindak atas dasar tanggungjawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa, masyarakat dan bangsa indonesia.

Baca Juga  Danrem 162/WB Ingatkan Dansatgas Tepati Waktu Program TMMD ke 106 

“Perguruan tinggi dengan seluruh civitas acdemikanya, dosen, mahasiswa merupakan pemikir yang memiliki arti strategis dalam mengawal jalannya pemerintahan dan pembangunan, yang diharapkan selalu memberikan solusi dan ide-ide baru dalam proses pembangunan daerah,” pungkasnya. (JEN/SR)

 

kamtibmas-kapolres-iklan-dua

No More Posts Available.

No more pages to load.