Lagi, Dosen UNSA Diundang ke Konferensi Internasional

oleh -1 views
Dosen UNSA, Juanda M.Pd

SUMBAWA BESAR, SR (05/10/2016)

Dosen Universitas Samawa (UNSA), Juanda M.Pd diundang khusus untuk mengikuti The 25th International Conference on Literature—sebuah konferensi internasional. Kegiatan dunia yang diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) bekerjasama dengan HISKI Komisariat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini digelar di Yogyakarta, 13-15 Oktober 2016. Untuk diketahui, pada tahun ini dosen muda ini sudah tiga kali mendapat kesempatan mengikuti pertemuan dunia. Pada kegiatan bertemakan “Of Green Literature” ini, Kepala Program Pendidikan Bahasa dan Satra Indonesia FKIP UNSA, akan mempresentasikan artikelnya berjudul “Environment Issues in Indonesia Language Policy (Isu-isu Lingkungan dalam Kebijakan Bahasa Indonesia)”.

Juanda yang juga Promovendus (Kandidat Doktor) Ilmu Pendidikan Bahasa UNY ini akan mencurahkan perhatiannya pada kebijakan Bahasa Indonesia, termasuk disertasinya juga mengular kebijakan bahasa. Seperti dikatakanya, dalam konteks kebijakan Bahasa Indonesia, isu lingkungan sepertinya belum mendapat perhatian jamak. Semua dijelaskannya dengan mengupas tujuh periodisasi kebijakan Bahasa Indonesia, yaitu pada pra kolonial (abad 17-18), Hindia-Belanda (1816-1942), Sumpah Pemuda (1928-1942), Jepang (1942-1945), Orde Lama (1945-1966), Orde Baru (1966-1998), dan Reformasi (1998-sekarang).

Persoalan lingkungan, seperti perubahan iklim, limbah, sampah, ekosistem, dan illegal logging tidak pernah usai. Lingkungan cenderung desktruktif diakibatkan oleh cara pandang materialisme dan kapitalisme. Padahal lingkungan harusnya dilestarikan, terlebih lagi sebagai tempat manusia berkoloni. Sayangnya internalisasi lingkungan belum masif dilakukan oleh stakeholder. Ditambah lagi propaganda dan kampanye serta sosialisasi kesadaran lingkungan masih bersifat parsial atau partikular—masih belum melibatkan aspek lain, misalnya melalui bahasa dan atau sastra. “Selama ini internalisasi lingkungan diserahkan sepenuhnya kepada sarjanawan-sarjanawan pertanian, peternakan, dan kehutanan. Padahal menumbuhkan kesadaran mencintai lingkungan bisa saja dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui sastra. Melalui fungsi instrumental atau fungsi regulatori dapat saja sastra (bahasa) dijadikan alat internalisasi. Puisi, prosa, dan drama bisa saja digunakan sebagai media kampanye pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Baca Juga  Ingin Jadi Peneliti, Ayo !!! Ikuti Biotech Open Camp 2016

Karena itu Ia memodifikasi kebijakan Bahasa Indonesia dan mengembangkan prototipe internalisasi lingkungan. Hal ini dilakukan karena kesadaran terhadap lingkungan tidak bisa temporer alat auaksidental, atau melalui makro saja, melainkan harus dimulai dari supramakro, makro, mikro, dan inframikro. Namun demikian, untuk mikro dan atau inframikro mungkin sastra dapat dilibatkan dalam penanggulangan bahaya dan dampak kerusakan tersebut. Pertimbangan ini didasari pada peran dan fungsi sastra (bahasa).

Dari ulasan histroris itu, Juanda menyimpulkan bahwa kebijakan Bahasa Indonesia baik dari perundangan, peraturan, maupun hasil amar putusan Kongres Bahasa Indonesia belum secara eksplisit adanya tema-tema atau isu-isu lingkungan. Meskipun demikian, karya-karya sastra yang bertemakan persoalan lingkungan telah mulai bermunculan, bahkan ada pula yang menggalang gerakan Green Literature. Tentu langkah ini harus diapresiasi di tengah kerusakan alam yang kian cepat. (SR)

bankntb DPRD DPRD