Mengukur Moralitas dan Kedisiplinan ASN KSB Ala Firin–Fud 

oleh -41 views
Bupati dan Wakil Bupati KSB, Dr.Ir.H.W. Musyafirin MM--Fud Syaifuddin ST

Masya Allah ! Sholat Menjadi Indikator

SUMBAWA BARAT, SR (21/08/2016)

Suara adzan dzuhur di Masjid Darussalam Sumbawa Barat nyaring berkumandang. Seketika lingkungan perkantoran di Kemutar Telu Center (KTC) Sumbawa Barat lengang. Seperti dikomando hampir semua aparatur sipil negara (ASN) maupun tenaga honor dan sukarela berbondong-bondong untuk melaksanakan sholat di masjid yang berada 500 meter di depan Graha Fitrah. Pemandangan ini sudah terlihat sejak Dr. Ir. H.W. Musyafirin MM—Fud Syaifuddin ST dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati KSB. Melalui Peraturan Bupati (Perbup), seluruh ASN yang beragama muslim wajib melaksanakan sholat dzhuhur dan asyar berjamaah. Dua waktu sholat tersebut dihitung sebagai jam kerja. Bahkan sholat berjamaah itu menjadi indikator dalam melakukan mutasi terhadap pejabat struktural. Menariknya lagi, usai menggelar sholat dzuhur berjamaah, para ASN termasuk Bupati dan Wakil Bupati tidak langsung kembali ke kantor. Mereka makan siang bersama di masjid tersebut. Nasi bungkus sekelas nasi balap sudah tersedia untuk disantap. Semua membaur dan tidak ada yang diistimewakan. Selain itu waktu yang singkat tersebut dimanfaatkan untuk mengakomodir atau menyerap aspirasi dari aparatur maupun masyarakat. Biasanya persoalan yang ada dapat langsung diselesaikan di masjid yang mulia tersebut. Insan pers pun tak mau ketinggalan. Untuk mendapatkan informasi lengkap, mereka harus sholat. Sebab hampir semua narasumber yang mereka cari saat itu ada di masjid. Saking rajinnya sholat, dahi beberapa wartawan terlihat menghitam, dan sebagian pewarta ini juga sudah mulai rajin memelihara janggut. Intinya kewajiban melaksanakan sholat dzuhur dan asyar berjamaah di masjid tidak hanya berimbas pada ASN, tapi juga wartawan dan masyarakat umum lainnya.

Masjid Darussalam Sumbawa Barat dan Tugu Syukur
Masjid Darussalam Sumbawa Barat dan Tugu Syukur

Ditemui SAMAWAREA belum lama ini, Wakil Bupati Sumbawa Barat, Fud Syaifuddin ST, menegaskan bahwa sholat berjamaah di masjid harus dilaksanakan oleh setiap aparatur muslim yang berada di lingkungan KTC. Kewajiban ini telah diberlakukan dalam mengawali pemerintahannya di KSB, menyusul dikeluarkan surat edaran Bupati untuk melaksanakan Imtaq bagi para ASN salah satunya sholat berjamaah. Sekitar hampir 2000 aparatur termasuk tenaga sukarela dan honorer yang berada di KTC diwajibkan sholat dzuhur dan asyar berjamaah di masjid. Sedangkan bagi aparatur di sekolah, kelurahan dan kecamatan melakukan penyesuaian dengan menggelar pengajian, yasinan dan siraman rohani, tergantung kreatifitas mereka. Mengenai snack atau nasi bungkus yang dimakan bersama-sama di masjid, itu diambil dari uang makan aparatur. Konsekwensinya, uang makan ditingkatkan dari Rp 10 ribu menjadi 17 ribu. Dari Rp 17 ribu ini disisipkan Rp 6000 untuk dikelola bagian Kesra yang kemudian dijadikan nasi bungkus. “Jadi nasi yang kita makan di masjid ini adalah nasi imtaq yang harganya hanya 6000 rupiah,” sebutnya.

Baca Juga  14 Hari di Pusat Karantina Terpadu, Belasan Warga Batu Rotok Dipulangkan

Makan bersama di masjid ini merupakan upaya pemerintahan Firin—Fud untuk menghilangkan sekat antara pemimpin dengan bawahan dan pemimpin dengan rakyatnya. Semua membaur menjadi satu. Apa yang dimakan bupati dan wakil bupati, itulah yang mereka makan. Momen kebersamaan ini bisa dimanfaatkan untuk urun rembug tentang persoalan daerah di samping menerima aspirasi masyarakat. Sebab Ia memahami ketika sudah masuk jam kerja ada orang yang tidak diterima dan dilayani karena kesibukan di ruang kerja. Ketika berada di masjid semua bisa menyampaikan uneg-uneg dan biasanya urusan yang bersifat umum bisa langsung selesai di tempat tersebut. Selain sholat berjamaah, Bupati Sumbawa Barat juga sudah mengeluarkan Perbup untuk program Magrib Mengaji. Setiap habis sholat magrib, minimal ada satu ayat yang dibaca atau dihafal para ASN. Nantinya ayat itu akan disampaikan oleh aparatur terutama mereka yang bertugas pada setiap apel pagi. Hal ini untuk mengingatkan dirinya maupun semua yang hadir tentang peringatan Allah melalui ayat-ayat Al Qur’an.

Usai Sholat Dzuhur di Masjid Darusaalam KSB, wartawan dan ASN makan bersama Bupati dan Wakil Bupati
Usai Sholat Dzuhur di Masjid Darusaalam KSB, wartawan dan ASN makan bersama Bupati dan Wakil Bupati

Mengapa semua ini diwajibkan ? Fud—akrab Wabup disapa menyatakan sebagai upaya untuk menghilangkan imej negatif terhadap Sumbawa Barat yang selama ini dituding sebagai daerah korupsi, dengan tingkat kedisiplinan ASN yang sangat rendah dan tidak bekerja maksimal. Ia dan Bupati berpendapat, dengan mengajarkan disiplin yang diperintahkan Allah SWT salah satunya sholat, para aparatur bisa berbenah. “Sederhananya, ketika perintah Allah saja tidak dilaksanakan, apalagi perintah kami selaku bupati dan wakil bupati. Ini harus sering kita ucapkan dan gulirkan bukan hanya terhadap aparatur tapi juga masyarakat umum,” ujarnya.

Baca Juga  Rapat Bersama Wapres, Gubernur Minta Fleksibilitas Bangun Rumah Korban Gempa

Kedisiplinan yang coba dibentuk melalui sholat berjamaah tepat waktu, akan berpengaruh terhadap moralitas PNS bersangkutan. Ketika di pagi hari muncul kemauan untuk korupsi dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, bisa sirna saat memasuki dzuhur dan segera melaksanakan sholat. Demikian ketika keinginan korupsi muncul usai dzuhur akan tercegah saat memasuki waktu sholat asyar. “Minimal kewajiban sholat ini untuk menjaga integritas, disiplin dan marwah mereka selaku aparatur, karena sholat dapat mencegah seseorang dari perbuatan yang keji dan mungkar. Dan harus diingat, saya, bupati dan semua aparatur adalah pelayan rakyat,” imbuhnya.

HUT RI di KSBFud tidak menampik adanya pemaksaan dari bupati dan wakil bupati kepada semua aparatur untuk melaksanakan sholat berjamaah. Bahkan yang tidak sholat secara tidak langsung akan diberikan sanksi di antaranya dinilai dalam pelaksanaan mutasi seorang aparatur. Fud berkeyakinan, untuk melakukan hal yang baik ada tiga cara yang diajarkan Rasulullah SAW adalah berbicara sekeras-kerasnya, menegur dengan hati dan jika bisa menggunakan fisik. “Memang benar orang sholat belum tentu baik, minimal ada kemauan untuk berbuat baik daripada orang yang tidak mau berbuat samsekali. Bagi saya ketika dia mau berbuat baik apakah dipaksakan atau tidak, itu sudah cukup karena manusia melakukan hal yang baik berangkat dari kesadarannya. Apalagi aparatur di KSB 99 persen muslim, jadi wajib melaksanakan apa yang menjadi perintah Allah,” ujarnya. “Sebenarnya perintah sholat dan ada sanksi yang diterapkan bukan untuk menakut-nakuti aparatur, tetapi kita sedang menjalankan ajaran dan perintah Allah. Saya dan bupati adalah pemimpin hari ini, dan seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Terlepas mereka mau melakukan atau tidak, kami habis dalam persoalan selaku pemimpin yang berkewajiban mengingatkan kepada warga muslim di KSB,” pungkasnya. (JEN/SR)HUT kelautan KSBHUT Laut KSB

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.