Puskesmas Seketeng Mementingkan Gerak Jalan daripada Layani Pasien

oleh -47 views
IGD RSUD Sumbawa, tempat Ainun dilarikan setelah Puskesmas Seketeng tidak melayaninya

SUMBAWA BESAR, SR (12/08/2016)

Pelayanan di puskesmas kembali mendapat sorotan masyarakat. Seperti yang terjadi di Puskesmas Seketeng, Jumat (12/8). Petugas medis khusus di pelayanan Unit Gawat Darurat (UGD) setempat lebih mementingkan mengikuti gerak jalan daripada melayani pasien. Ini terlihat tidak satupun petugas UGD di puskesmas kebanggaan masyarakat Kota Sumbawa tersebut ada di ruangan tersebut. Padahal ruangan itu tidak boleh kosong, petugas harus standby dan memberikan pelayanan 1×24 jam. Akibatnya beberapa pasien yang datang tidak terlayani. Salah satunya dialami Ainun (2) balita yang menderita diare. Putri ketiga pasangan Andi dan Rahma, warga Dusun Kapas Sari, Kampung Banjir ini sebenarnya sudah pernah dibawa ke Puskesmas Seketeng tiga hari yang lalu. Karena tidak ada perubahan bahkan tambah parah karena diare tak berhenti disertai dengan muntah-muntah, pasutri itu kembali membawa putrinya ke puskesmas sekitar pukul 16.00 Wita. Ini juga atas saran dari petugas puskesmas yang meminta agar membawa kembali ke puskesmas jika tidak ada perubahan dari obat yang diberikan sebelumnya. Namun tak satupun petugas UGD ada. Menurut petugas poli, jika petugas UGD sudah ikut gerak jalan termasuk dokternya. Petugas poli tidak bisa berbuat banyak kecuali menyarankan Ainun dibawa ke RSUD Sumbawa. dengan kebaikan hatinya, petugas itu memberikan uang Rp 50 ribu untuk biaya transportasi dan jajan untuk Ainun. Orang tua Ainun sempat meminta agar anaknya diinfus karena kekurangan cairan. Tapi karena petugasnya tidak ada, permintaan itu tidak direspon. Bahkan ada pasien lain yang datang untuk membuka perban di kakinya. Itupun harus pulang karena tidak bisa dilayani.

Baca Juga  Gubernur NTB Minta Peredaran Tramadol Ditarik

Ainun adalah pasien tidak mampu. Orang tuanya tinggal di lokasi relokasi akibat rumahnya di Kelurahan Bugis, hilang diterjang banjir. Dan belum lama ini orang tuanya yang hanya bekerja sebagai buruh kasar di sebuah perusahaan hasil bumi di-PHK. Praktis kehidupan ekonominya sangat memprihatinkan. Kondisi ini sangat terasa ketika Ainun dilarikan ke RSUD Sumbawa tanpa mengantongi surat rujukan dari puskesmas. Selain itu juga Ainun tidak terakomodir BPJS atau Kartu Indonesia Sehat (KIS). Petugas IGD RSUD mendaftarkannya sebagai pasien umum. Petugas menyarankan orang tua Ainun harus mengurus surat keterangan tidak mampu (SKTM) sehingga bisa diakomodir dalam program Bansos Dinas Sosial. Hanya saja, hari itu hari libur tidak ada kantor yang buka hingga Minggu (12/8) mendatang. Kini Ainun dirawat di Ruang Zaal Anak Klas III dengan status pasien umum. Menurut perawat setempat, Ainun harus bisa menunjukkan SKTM sebelum tiga hari dirawat. Jika tidak, maka biaya perawatan dan pengobatan di RSUD yang terbilang cukup besar, mau tidak mau harus dibayar.

Kepala Puskesmas Seketeng yang dikonfirmasi SAMAWAREA melalui Kepala Tata Usaha (KTU), Dewi Indriani Rayes, mengakui jika petugas UGD tidak berada di tempat karena sedang mengikuti gerak jalan. Demikian juga dengan dokternya. Dewi juga mengakui jika Ainun tidak ditindak secara medis, kecuali menyarankan agar langsung dibawa ke RSUD. Sebenarnya, ungkap Dewi, puskesmas bisa membawa Ainun ke RSUD Sumbawa, tapi karena mobil ambulance digunakan untuk kepentingan gerak jalan, keinginan itu tidak bisa dilakukan.

Baca Juga  Apresiasi Kiprah TAGANA dan PMI, DPRD Sumbawa Support Dana

Disinggung jika petugas UGD harus standby dan siaga 1×24 jam, Dewi mengiyakannya. Tapi karena mereka juga peserta gerak jalan sehingga tugas itu tidak bisa dilaksanakan. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD