Janji Tak Ditepati, Takut Dihakimi, Minta Perlindungan Polisi

oleh -8 views
Kades Labuan Aji Suhardi (baju kaos biru) mendampingi warganya menggelar aksi demo di Polres Sumbawa terkait penangkapan warganya yang membakar Bungalow.

Buntut Penjualan Tanah di Setema Labuan Aji

SUMBAWA BESAR, SR (27/07/2016)

H Alwi—warga Labuan Aji Kecamatan Badas, terpaksa mengamankan diri ke Polres Sumbawa, Selasa (26/7) kemarin. Langkah ini dilakukan orang yang disebut-sebut sebagai perantara jual beli tanah di Dusun Setema, desa setempat karena khawatir menjadi korban aksi main hakim sendiri. Sebab janjinya akan memberikan sisa harga pembayaran tanah senilai Rp 1 milyar kepada warga Setema belum bisa direalisasikan. Katanya, sisa pembayaran tanah itu harus sudah dilakukan pada Bulan Juli ini. Sementara bulan ini hanya tinggal beberapa hari lagi karena akan berganti Agustus, dan sampai sekarang uang yang dijanjikan itu belum bisa dipenuhi. “Dia (Haji Alwi) mengamankan diri karena belum bisa memenuhi janji warga Setema Desa Labuan Aji untuk melunasi sisa pembayaran tanah,” kata Kapolres Sumbawa, AKBP Muhammad SIK yang ditemui SAMAWAREA, Rabu (27/7).

Kapolres mengaku belum melihat isi perjanjian H Alwi dengan warga. Hanya informasinya janji itu harus sudah ditunaikan pada bulan Juli ini. “Mungkin dia takut tidak memenuhi janjinya makanya datang mengamankan diri,” ujar Kapolres.

Seperti diberitakan SAMAWAREA, persoalan tanah di Dusun Setema, Desa Labuan Aji bermula dari adanya pengusaha, Daeng Syam yang membeli lahan untuk investasi. Dari negosiasi yang dilakukan akhirnya lahan seluas 90 hektar milik 60 warga Setema ini dihargakan Rp 3,15 milyar. Proses jual beli ini informasinya melalui H Alwi. Daeng Syam selaku pengusaha membayar lunas lahan tersebut sehingga dibangunlah Bungalow serta membuat jalan tembus. Ternyata warga Setema baru menerima uang Rp 2,15 M, sehingga tersisa Rp 1 Milyar dijanjikan akan dibayar kemudian. Dalam perjalanannya, warga Dusun Arung Santek dan Brang Kua melakukan protes. Dua kelompok massa dari dua dusun ini mengklaim lahan yang dibeli pengusaha itu adalah milik mereka dan meminta pembayaran lahan tersebut. Sisa uang 1 Milyar yang seharusnya dibayar kepada warga Setema, dialihkan kepada warga dua dusun tersebut bermaksud untuk meredam keributan. Rupanya perkiraan ini meleset, kelompok warga dua dusun itu mengamuk setelah mengetahui ternyata harga lahan itu bukan Rp 1 M seperti yang mereka terima melainkan Rp 3,15 M. Bukan hanya protes tapi massa bertindak anarkis dengan membakar bungalow dan merusak alat berat milik pengusaha. Buntut dari aksi ini, tiga orang ditangkap dan beberapa lainnya masih dalam pencarian polisi.

Baca Juga  Penanganan Dugaan Penyimpangan RTG Alas Barat Ditarik ke Polres

Belakangan warga Setema juga menuntut agar sisa Rp 1 M segera dibayar. Padahal tanpa sepengetahuan warga Setema, Rp 1 M itu telah diserahkan kepada warga Arung Santek dan Brang Kua. Untuk menyelesaikan permasalahan ini digelar pertemuan yang menghadirkan H Alwi selaku perantara warga. Saat itulah muncul janji akan menyelesaikan pembayaran tersebut paling lambat Juli 2016. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.