Konsultasi Publik Pekerja Migran di ASEAN Digelar di Sumbawa

oleh -4 views

SUMBAWA BESAR, SR (23/07/2016)

Direktorat Jenderal Kerjasama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Sumbawa menggelar Seminar Konsultasi Publik. Kegiatan bertema “Upaya Peningkatan Perlindungan dan Pemajuan Hak-Hak Pekerja Migran di ASEAN” ini dihajatkan untuk berbagi informasi terkait pekerja migran di ASEAN dan juga untuk memperoleh masukan-masukan tentang penyelenggaraan pekerja migran di Kabupaten Sumbawa khususnya ke negara-negara ASEAN. Seminar diselenggarakan di Aula Lantai 3 Kantor Bupati Sumbawa, Jum’at (22/7) kemarin.

Asisten Pemerintahan Sekda Kabupaten Sumbawa Dr. H. Muhammad Ikhsan M.Pd yang membacakan sambutan Bupati Sumbawa menyampaikan bahwa, masyarakat Economy ASEAN (MEA) merupakan babak baru bagi perkembangan perekonomian negara-negara khususnya di kawasan Asia Tenggara sekaligus memberikan harapan akan prospek dan peluang bagi kerjasama ekonomi antar kawasan dalam skala yang lebih luas. Pemberlakuan MEA ini bertujuan untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih stabil, sejahtera dan sangat kompetitif, memungkinkan bebasnya lalulintas barang, jasa, investasi dan aliran modal. Selain itu, menjadi upaya dalam menjalankan kesetaraan pembangunan ekonomi dan pengurangan kemiskinan serta kesenjangan sosial ekonomi.

Direktorat Kerja Sama Fungsional ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, J. S. George Lantu
Direktorat Kerja Sama Fungsional ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, J. S. George Lantu
Asisten I Sekda Dr. Hm Ikhsan M.Pd didampingi Kadisnakertrans Sumbawa, Tri Karyati S.Sos menyerahkan cinderamata kepada Direktorat Kerja Sama Fungsional ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, J. S. George Lantu
Asisten I Sekda Dr. Hm Ikhsan M.Pd didampingi Kadisnakertrans Sumbawa, Tri Karyati S.Sos menyerahkan cinderamata kepada Direktorat Kerja Sama Fungsional ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, J. S. George Lantu

Terkait dengan pekerja migran di ASEAN, di Kabupaten Sumbawa sendiri belum merasakan perbedaan yang mencolok dari pemberlakuan MEA. Seperti diketahui bahwa isu pekerja migran bukan hal baru, namun masih menjadi isu yang actual. Masih banyak terjadinya sisi negatif berupa perlakuan yang tidak manusiawi terhadap pekerja migran. Di lingkup ASEAN-pun, Indonesia bukan satu-satunya negara pengirim pekerja migran, namun juga terdapat negara lain dengan negara tujuan yang hampir sama. Permasalahan yang dialami oleh pekerja migran dari negara-negara tersebut pada dasarnya hampir sama dengan yang dialami oleh pekerja migran dari Indonesia. Walaupun peran ASEAN dalam melindungi pekerja migran telah tertuang di piagam ASEAN yang dielaborasikan ke dalam 3 pilar komunitas ASEAN (Asean Political Security Community, Asean Economic Community, dan Asean Socio-Cultural Community), namun peran tersebut tidak dapat maksimal karena tidak terciptanya konsesus dalam penyusunan instrumen perlindungan hak pekerja migran. Rekomendasi terhadap kebuntuan tersebut adalah dengan membawa dan membahasnya ke dalam pertemuan Dewan Komunitas Asean, karena isu tersebut merupakan isu lintas komunitas. Peran ASEAN sangat tergantung kepada upaya masing-masing negara anggota ASEAN dalam merumuskan regulasi dalam hukum nasionalnya masing-masing untuk mengimplemantasikan instrumen ASEAN terkait perlindungan pekerja migran. Melalui seminar tersebut diharapkan dapat menjadi tempat untuk saling berbagi informasi baik kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah sehingga para peserta mendapatkan gambaran yang utuh tentang berbagai permasalahan terkait dengan penyelenggaraan pekerja migran di daerah. “Apa yang kami lihat di Sumbawa merupakan sebuah potensi. Potensi sebuah keberlangsungan kerjasama yang erat, sinergi antar-institusi, dan kesempatan besar menyukseskan kepentingan Indonesia di dunia internasional dimulai dari tingkatan masyarakat yang benar-benar dekat dengan topik yang diperjuangkan,” kata Direktorat Kerja Sama Fungsional ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, J. S. George Lantu dalam sambutan singkatnya.

Baca Juga  H Ilham Mustami Caleg Hanura Peraih Suara Tertinggi

Seminar ASEAN 2Berbicara tentang Kabupaten Sumbawa, Ia teringat bahwa cukup banyak orang-orang yang disebut sebagai “pahlawan devisa” berasal dari sini. Kisah-kisah sukses dari para pekerja migran yang menginspirasi banyak orang tentunya menyebar, dan semua patut bangga akan hal tersebut. Namun, tidak hanya kisah sukses yang telah diketahui, sebab cukup banyak kisah kurang menyenangkan dan pilu tentang pekerja migran Indonesia di antaranya berasal dari Sumbawa. Buruh migrant ini mengalami perampasan hak dalam bentuk penyiksaan, pelecehan, hingga pulang tinggal nama.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno L. P. Marsudi juga mengetahui secara langsung dan mendukung kegiatan yang digelar saat ini. Menteri menginstruksikan bahwa perlindungan pekerja migran merupakan isu prioritas dalam praktik diplomasi Indonesia. Asosiasi negara-negara Asia Tenggara, ASEAN, merupakan salah satu lingkup utama pergaulan internasional Indonesia, dan pekerja migran merupakan salah satu kepentingan penting Indonesia dengan banyaknya warga negara yang aktif mencari nafkah di negara-negara ASEAN. Saat ini Kementerian Luar Negeri sedang berjuang, bernegosiasi, beradu strategi di meja perundingan dengan 9 negara anggota ASEAN lainnya untuk mengesahkan instrumen hukum perlindungan dan pemajuan hak-hak pekerja migran. “Bayangkan, sejak 2007, ASEAN telah menyepakati perlunya perlindungan pekerja migran, namun sampai hampir 10 tahun kemudian belum terealisasi sebuah instrumen implementasi kesepakatan tersebut,” tukasnya. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.