Ponpes Dea Malela, Dari Desa Berkiprah untuk Dunia

oleh -102 views

SUMBAWA BESAR, SR (20/07/2016)

Pembangunan Bale Dea Guru “Bait Kalla” dan Masjid Saidah di Pondok Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Olat Utuk, Desa Pemangong, Kecamatan Lenangguar, Kabupaten Sumbawa, segera dimulai. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama yang dilakukan Wakil Presiden RI, Dr. H Jusuf Kalla, Rabu (20/7). Orang nomor dua di negeri ini tiba di Lapangan Lenangguar  sekitar pukul 10.30 Wita menggunakan helikopter yang bertolak dari Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin III. Wapres yang didampingi Menteri PUPR, Basoeki Hadimulyo, Menteri PAN-RB Yuddi Crisnandi, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah SE, Wakil Ketua DPD RI Farouk Muhammad, Gubernur NTB M Zainul Majdi dan Kapolda NTB Brigjen Pol Umar Septono SH MH ini disambut hangat Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin selaku Pembina Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela (YPKDM). Tampak hadir Bupati Sumbawa HM Husni Djibril B.Sc, Ketua DPRD dan anggota Forkopimda Sumbawa serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Untuk diketahui dinamakan Bait Kalla untuk Bale Dea Guru, karena pembangunan rumah untuk para kyai di Ponpes Dea Malela ini merupakan sumbangan Wapres Jusuf Kalla. Demikian dengan Masjid Saidah juga bantuan penuh keluarga almarhum Hj Saidah—pemilik tower kembar di Jakarta dan juga mertua dari artis Inneke Koesherawati.

Wapres JK 1Dalam sambutan penerimaan, Prof. Dr. H.M. Din Syamsuddin mengatakan, pembangunan Pesantren Modern Internasional Dea Malela adalah ide dan keinginan yang tertunda dan baru bisa diwujudkan ketika dirinya sudah tidak menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Dipilihnya nama Dea Malela, sebagai bentuk penghormatan kepada Imam Ismail Dea Malela—seorang ulama besar kelahiran Gowa Makassar yang hijrah di Desa Pemangong, Kecamatan Lenangguar untuk mengembangkan syiar agama Islam di Tana Samawa. Upaya ini bukan untuk mengkultuskan seseorang melainkan mengambil inspirasi dan semangat dari tokoh Islam yang tidak banyak orang mengetahuinya. Dea Malela ditangkap Kolonial Belanda dan dibuang ke Afrika Selatan. Di negara yang sangat asing baginya, Dea Malela mampu menjadi tokoh dan ulama besar.

Baca Juga  Ciptakan Permen Penangkal Covid, Pelajar SMPN 1 Sumbawa Raih Juara
Prof. Dr. Din Syamsuddin, Pendiri Ponpes Dea Malela
Prof. Dr. Din Syamsuddin, Pendiri Ponpes Dea Malela
Wapres RI Dr. H Jusuf Kalla
Wapres RI Dr. H Jusuf Kalla

Keberadaan Ponpes bertaraf internasional ini tidak seperti pesantren lainnya yang berada di kota-kota besar. Pesantren Dea Malela ini berada di daerah terpencil yang tidak terdeteksi Google Maps. Namun pihaknya ingin membuktikan dari desa ini mampu berkiprah untuk dunia dan membangun peradaban dunia. “Ini kami niatkan dan rancang agar Sumbawa menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam dunia,” cetusnya.

Ia mengaku telah banyak berkunjung ke banyak negara Islam. Dia menyaksikan pendidikan Islam di beberapa negara tersebut belum berjaya dan belum mampu melahirkan ilmuwan muslim sejati sebagaimana abad pertengahan lalu yang berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karenanya selain SMP dan SMA, ungkap Prof Din, ke depan di lokasi Ponpes Dea Malela ini akan dibangun Universitas Islam Indonesia Internasional. “Kami ingin membuka mata dunia bahwa Indonesia sebagai negara mayoritas penduduknya muslim harus menjadi kiblat ilmu pengertahuan dunia Islam maupun dunia secara keseluruhan,” ucapnya.

Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc
Bupati Sumbawa, HM Husni Djibril B.Sc
Wapres RI, Dr. H. Jusuf Kalla
Wapres RI, Dr. H. Jusuf Kalla

Terkait dengan Ponpes Dea Malela, Prof Din menyebutkan untuk tahap awal santrinya berjumlah sekitar 60 orang. Selain berasal dari sejumlah daerah di dalam negeri juga beberapa negara seperti Timor Leste, Kamboja, Thailand, Vietnam, Singapore, Beijing, Moskow, London dan Jepang. Semua santri angkatan pertama akan dibebaskan dari biaya pendidikan. System pendidikan yang diterapkan pun berbeda dengan sekolah maupun pesantren pada umumnya yakni menekankan pendidikan nilai dan karakter melalui proses belajar yang intensif, dan mengintegrasikan keimanan dengan wawasan keilmuan dan kepribadian paripurna. Untuk sejarah islam lebih menekankan pada sejarah peradaban. Bahkan mata pelajaran pendidikan moral pancasila (PKN) akan diletakkan pada konteks Indonesia dan dunia. Selain itu para siswa setempat memiliki daya saing di era global karena mereka akan mengusai tiga bahasa asing yakni Arab, Inggris dan Mandarin. “Kami ingin menjadi lembaga pendidikan berkeunggulan tingkat global untuk melahirkan sumber daya insan beriman yang mandiri, kreatif, inovatif dan kompetitif,” imbuhnya.

Baca Juga  Siswa SDIT Samawa Cendekia Panen Jagung

Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi MA menyampaikan terima kasih kepada Wakil Presiden atas kepedulian yang tiada putusnya untuk NTB. Salah satu buktinya adalah kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dengan membantu kiprah Ponpes Dea Malela ini dengan membangun Bale Dea Guru “Bait Kalla”. “Selain dikenal sebagai pemimpin bangsa, beliau juga adalah wirausawahan terkemuka Indonesia. Beliau berasal dari Makassar yang jaraknya sangat jauh dari NTB tapi memiliki kepedulian untuk kemajuan NTB,” ujarnya.

Karena itu Gubernur meminta putra NTB tidak ketinggalan berkiprah lebih baik dari putra Makassar. “Kalau sekarang ada Bait Kalla di sini, nanti akan ada Bait Fahri, Bait Faruk dan bait-bait lainnya. Insya Allah ikhtiar ini muaranya untuk berkontribusi bagi peradaban dunia,” demikian Gubernur. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.