JK: Membangun Pendidikan Sama dengan Restoran

oleh -8 views
Wapres RI Dr. H Jusuf Kalla

SUMBAWA BESAR, SR (20/07/2016)

Wakil Presiden RI, Dr. H. Jusuf Kalla meminta semua pihak untuk membantu mewujudkan cita-cita Prof. Dr. Din Syamsuddin yang ingin membuktikan bahwa Ponpes Dea Malela yang berada di desa terpencil mampu berkiprah membangun peradaban dunia. Selain itu menjadikan Sumbawa menjadi pusat keunggulan pendidikan Islam dunia. “Ini adalah cita-cita yang sangat luhur karena tujuannya membangun peradaban dan harus kita hargai,” kata JK—akrab Wapres disapa pada Peletakan Batu Pertama Pembangunan Bale Dea Guru “Bait Kalla” dan Masjid Saidah di Pesantren Modern Internasional Dea Malela, Rabu (20/7) siang.

Membangun pendidikan kata JK, sama dengan restauran. Orang tidak memilih tempat tapi lebih memilih mutu. Meski restaurannya mewah jika menunya dirasakan tidak enak, maka tidak banyak orang yang berminat. Sebaliknya meski kecil dan berada di lorong-lorong ketika menunya enak dan lezat, kemanapun orang akan mendatanginya. “Inilah pendidikan, bukan dilihat dari tempatnya tapi dari mutunya,” ujar JK.

Wapres Disambut 2Memang saat ini Ponpes Dea Malela sangat susah mendatangkan siswa meski diundang dan digratiskan. Namun beberapa tahun ke depan JK meyakini orang-orang akan datang berbondong-bondong bahkan memaksa untuk menyekolahkan anaknya meski biayanya mahal. Tentunya pendidikan di Ponpes tersebut harus berkualitas. Mengingat Dea Malela adalah pesantren modern maka harus sesuai zaman bahkan mendahului zamannya. Artinya pendidikan yang diberikan hari ini harus bermanfaat untuk 10 tahun kedepan. “Jangan diajarkan hal yang sudah lama, nanti tidak laku. Modern bukan hanya karena prilaku tapi bagaimana outputnya nanti menjadi kebutuhan pada 10 atau 15 tahun nanti. Apa itu, harus menguasai ilmu dan tekhnologi agar tidak tergilas oleh persaingan dunia yang semakin ketat,” katanya.

Baca Juga  Lantunan Sholawat Iringi Pembangunan Masjid “Megah” Al Muflihun SMANDA 

Kemudian internasional, Dea Malela harus memiliki standar mutu minimal sama dengan pendidikan perguruan tinggi lainnya. Dengan pendidikan yang berkualitas akan melahirkan generasi-generasi islami yang bermutu. Sebab ketika berbicara Islam di Indonesia, ada dua kebanggaan. Pertama, sebagai umat dengan jumlah terbesar bukan hanya di Indonesia tapi di dunia. Kedua, adalah kemampuan. Ketika berbicara 100 orang kaya di Indonesia, hanya 10 persen orang Islam. Karena 90 persen orang miskin berasal dari umat Islam. “Kenyataan ini harus menjadi motivasi bagi kita khususnya umat Islam untuk bangkit. Jadi jangan hanya nikahnya yang didengungkan menjadi sunah Rasul tapi Rasulullah sebelumnya adalah seorang pengusaha (pedagang). Artinya menjadi pengusaha adalah sunah rasul, ini yang harus didengungkan agar umat islam tidak didera kemiskinan,” imbuhnya.

Untuk itu pendidikan di Ponpes Dea Malela harus mampu melahirkan santri-santri yang memiliki keahlian dan kreatifitas. Dengan dua hal ini masyarakat Sumbawa tidak selalu berada di posisi konsumen melainkan akan menjadi masyarakat yang produktif dan inovatif. “Semoga Ponpes ini memberikan inspirasi bagi ponpes dan perguruan tinggi lainnya dalam melahirkan manusia-manusia yang kreatif,” tandasnya. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD