Kapolres Muhammad SIK: 5 Bekal Ramadhan Dalam Membangun Sumbawa

oleh -11 views

Khutbah Idul Fitri di Lapangan Pahlawan Sumbawa

SUMBAWA BESAR, SR (06/07/2016)

“Lima Bekal Ramadhan Dalam Membangun Tana dan Tau Samawa yang Hebat Bermartabat”.  Itulah judul khutbah yang disampaikan Kapolres Sumbawa, AKBP Muhammad SIK pada Pelaksanaan Sholat Idul Fitri (Ied) di Lapangan Pahlawan Sumbawa, Rabu (6/7) pagi tadi. Mengenakan baju koko putih, peci putih, dan leher dibalut sorban, Kapolres yang kerap berceramah di masjid-masjid ini mengulas lima bekal tersebut dengan suara mantap dan lantang diselingi bacaan firman Allah SWT dan hadist Rasulullah SAW yang terdengar fasih.

Di atas mimbar dan dihadiri ribuan jamaah, Kapolres menyebutkan, BEKAL PERTAMA dalam membangun masyarakat yang hebat dan bermartabat adalah mental dan kesabaran. Dijelaskannya, tarbiyah utama dalam bulan Ramadhan adalah melatih untuk mampu menahan hawa nafsu dari syahwat perut dan kemaluan. Sebulan penuh berusaha menahan keinginan dalam ketaatan  menjalankan perintah Allah SWT. “Sudah semestinya, belajar dari tarbiyah ramadhan, di masa-masa krisis ini kita bisa menahan diri dan nafsu kita dari memenuhi keinginan-keinginan berlebihan dan bermewah-mewahan dalam gaya hidup, dan hal lainnya yang tidak terlalu penting bagi kehidupan,” kata perwira yang telah disematkan gelar “Dea Guru” oleh Prof. Dr. Dien Syamsuddin ini.

Ramadhan semestinya melatih untuk tidak berperilaku boros dalam hal-hal konsumtif, dimana Allah SWT telah mengingatkan bahwa sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan” (QS Al-Isra 27). Sebaliknya, Allah SWT memuji hamba-Nya yang bersikap sederhana dalam membelanjakan kekayaannya sebagai salah satu sifat ibadurrohman. Sebagaimana firman-Nya “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan sesungguhnya  (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian” (QS. Al-Furqon: 67). Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat gaya hidup hemat nan bersahaja dalam banyak kesempatan. Sebuah gaya hidup yang tentu sangat bermanfaat dan harus dijalankan dalam menghadapi krisis di negeri ini. Berhemat untuk membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Ia mengilustrasikan, ketika akan berbuka, begitu banyak keinginan untuk menikmati aneka ragam makanan, namun setelah meminum seteguk air dan sedikit makanan pembuka, seolah-seolah badan sudah kembali segar dan terasa begitu kenyang. Itulah ilustrasi pembeda antara keinginan dan kebutuhan.

Kapolres Sumbawa AKBP Muhammad SIk saat menjadi khatib pada khutbah Idul Fitri 1437 H
Kapolres Sumbawa AKBP Muhammad SIk saat menjadi khatib pada khutbah Idul Fitri 1437 H

Sholat Ied Sumbawa 1

BEKAL KEDUA adalah semangat kerja keras dan disiplin. Ramadhan merupakan bulan yang berlimpah peluang amal ibadah. Dari mulai bangun malam untuk sahur, siang hari menahan lapar dahaga, hingga malam hari bertarawih dan tadarus dengan tetap penuh semangat. Bukan saja mengisi Ramadhan dengan amal ibadah, dalam kondisi berpuasa pun juga tetap terus menjalani aktifitas dan pekerjaan. Sesuatu yang sulit, namun atas ijin Allah mampu  menjalaninya. Sehingga semestinya ini menjadi semangat baru, bahwa di luar bulan Ramadhan harus bisa menjalani semuanya dengan lebih baik dan lebih giat. Karenanya dengan semangat Ramadhan, semangat kerja harus terjaga dengan baik, selain mendatangkan peluang-peluang kebaikan di dunia, juga menggugurkan dosa-dosa. Rasulullah SAW bersabda “Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT”. (HR. Thabrani). Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mu’min yang giat bekerja (HR. Thabrani).

Baca Juga  Gubernur Zul: Membangun Industrialisasi di Tengah Pandemi Covid

BEKAL KETIGA, Optimisme dan Tawakkal. Setiap hari di Bulan Ramadhan rela menahan lapar dahaga, sebagai sebuah optimisme bahwa  ujian ini akan segera berlalu. Bahwa rasa berat yang dirasakan akan segera usai dan berganti dengan kegembiraan. Rasulullah SAW telah menjanjikan, bahwa “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan yaitu kegembiraan ketika dia berbuka dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya”. (HR Muslim). Dengan semangat yang sama itulah semestinya tetap berdiri tegak menjalani kehidupan ini. Jika kehidupan ini ternyata sangat mempengaruhi kehidupan dan penghasilan selama ini, maka ingatlah saat lapar dahaga di bulan puasa, ada saatnya berbuka yang melegakan. Begitu pula Allah SWT berfirman “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyroh: 5-6). Dengan optimisme dan terus berusaha itulah, tercipta rasa tawakkal dalam diri, yang kemudian akan mengantarkan kemudahan dalam setiap urusan.

BEKAL KEEMPAT adalah “Semangat Kebersamaan dan Berbagi”. Saat Ramadhan banyak momentum kebersamaan yang indah untuk dikenang, dari mulai buka bersama, sholat tarawih dan juga tadarusan. Semua bersemangat dalam menyiapkan hidangan berbuka, salah satunya karena motivasi dari Rasulullah SAW: “Barang siapa yang memberi hidangan berbuka untuk orang yang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sama sekali.” (HR. Tirmidzi).

Demikian di akhir Ramadhan dilatih berbagi dengan mengeluarkan kewajiban zakat fitrah, yang hikmahnya selain sebagai bentuk mensucikan puasa dari noda dan dosa, juga berbagi untuk orang-orang miskin, agar mereka pun bisa menikmati hari raya penuh gembira, jauh dari lapar dan derita. Kebersamaan dan semangat berbagi itulah yang harus senantiasa dilestarikan di hari-hari luar Ramadhan, khususnya dalam membangun masyarakat Samawa yang hebat dan bermartabat. “Perasaan senasib sepenanggungan, bahwa kita tidak sendiri menghadapi hal ini insya Allah akan menjadikan segala sesuatu yang awalnya terasa berat menjadi lebih ringan. Begitu pula saling menolong dan berbagi, adalah wujud kepatuhan kita terhadap perintah Allah dalam Al-Quran,” ucap Kapolres. Selain itu Rasulullah SAW juga memotivasi untuk terus melanjutkan “silaturahim” dalam arti yang lebih luas, yaitu antara sesama kaum muslimin. Sabda Rasulullah: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali shillaturrohmi” (Muttafaqun ‘alaihi).

Baca Juga  Kesempatan Perempuan NTB untuk Berkarya Terbuka Lebar

BEKAL KELIMA adalah “Taqwa dan Spiritualitas”. Rejeki pemberian dari Allah SWT, harus diyakini akan mendapatkannya, apapun kondisi perekonomian yang terjadi di negeri ini. Hanya upaya untuk meraihnya, baik dengan bekerja keras, dan meningkatkan ketaqwaan diri kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan dengan rangkaian amal ibadahnya yang begitu padat, semestinya meningkatkan keimanan dan menempa ketakwaan jauh lebih baik dari sebelumnya. Salah satu kunci rezeki yang dijanjikan Allah SWT adalah dengan meninggalkan kemaksiatan dan banyak beristigfar sebagaimana yang biasa dilakukan khususnya dalam bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda “Seorang hamba benar-benar terhalang dari rizki karena dosa yang dilakukannya”. “Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rezeki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad). “Sungguh sangat disayangkan jika setelah usai Ramadhan, lalu kita kembali bermalasan dalam ibadah, bahkan naudzubillah kembali melakukan kemaksiatan-kemaksiatan terdahulu. Hal yang tidak kita sadari sungguh akan menutupi jalan rejeki kita, ataupun menjadikan rejeki kita tidak berkah, mudah habis begitu saja tanpa makna,” ujarnya. Sebaliknya bagi mereka yang senantiasa menjaga ketakwaan diri, ketaatan dalam ibadah serta ketakutan berbuat maksiat, dijanjikan Allah SWT. “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq:2-3)

Di akhir pidatonya, Kapolres mengajak untuk membina persatuan dan kesatuan dalam membangun tana dan tau Samawa yang hebat bermartabat. Karena tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, dan tidak ada kekuatan tanpa persatuan dan kesatuan. Karenanya langkah awal untuk mewujudkannya, harus saling mengenal, menghargai, dan bertoleransi. Bukan sebaliknya saling menutup diri, melecehkan, menghina membangga-banggakan kelompok, suku bangsa, maupun daerah masing-masing. Sebab sifat-sifat seperti itu merupakan cikal bakal perpecahan, pertikaian , dan tidak mustahil penyebab terjadinya disintegrasi bangsa hingga hancurnya negeri ini. “Perbedaan ideologi, organisasi, agama, adat istiadat, suku bangsa dan bahasa harus menjadi jembatan emas guna memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, mulai detik ini kita samakan langkah, seragamkan                gerak, satukan persepsi, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Perbedaan jangan melahirkan perpecahan, tapi hendaknya perbedaan menjadikan kita harus saling menghargai dan melengkapi,” demikian Kapolres. (JEN/SR)Kapolres Idul Fitri 1437Kajari Idul Fitri Ralat

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.