Amin Beberkan Alasan Keluar dari Golkar

oleh -3 views

SUMBAWA BESAR, SR (22/06/2016)

Wakil Gubernur NTB, H Muhammad Amin SH M.Si telah berpindah ke Partai Nasdem meninggalkan Partai Golkar yang selama ini telah membesarkan namanya. Ia diberikan rekomendasi oleh pimpinan pusat untuk menjabat sebagai Ketua DPW Nasdem NTB. Selama ini dia dikenal kader Golkar yang paling loyal dan berperan penting membesarkan partai berlambang pohon beringin ini khususnya di Kabupaten Sumbawa dengan beberapa periode sebagai Ketua DPD di tengah dinamika politik yang luar biasa. Bahkan dengan beberapa periode juga, Golkar di Kabupaten Sumbawa berhasil meraih suara dan perolehan kursi terbanyak, sehingga jabatan sebagai pimpinan DPRD untuk Golkar tetap langgeng hingga saat ini. Yang paling prestisius dari karier politiknya adalah Golkar mengantarkan Haji Amin—akrab Ia disapa, menjadi Wakil Gubernur mendampingi KH M Zainul Majdi MA memimpin NTB. Namun badai politik mendera Partai Golkar di tingkat pusat yang berimbas hingga ke daerah. Kepengurusan Golkar terbelah menjadi dua yang kemudian dikenal dengan Golkar Kubu AL dan Golkar Kubu ARB. Kepengurusan ganda dan di tengah kevakuman secara mengejutkan terbit SK pemecatan terhadap kader Golkar di daerah termasuk menimpa Haji Amin dkk, meski hingga kini masih berproses di tingkat peradilan. Hal ini menyusul adanya gugatan karena pemecatan tersebut dianggap tidak memiliki dasar hukum (legal standing). “Di berbagai tempat yang saya kunjungi pertanyaannya hampir sama, apa alasan saya memilih Nasdem dan meninggalkan Golkar,” kata Haji Amin saat ditemui SAMAWAREA di kediamannya, Selasa (21/6) malam.

Baca Juga  Polisi Koordinasi Pemda Tertibkan Café Sampar Maras

Meski telah berpindah haluan ke Nasdem, Haji Amin menegaskan tidak pernah meninggalkan Golkar, maupun kader dan simpatisannya. Sebab dalam membangun daerah ini dilakukan secara bersama-sama dengan semua partai politik termasuk partai besutan Setya Novanto tersebut. Mengapa demikian, karena Golkar adalah partai politik yang memiliki potensi dan sebaran anggota legislative merata di seluruh kabupaten/kota. “Sebagai kepala daerah kita tidak akan pernah meninggalkan Golkar. Golkar adalah mitra dalam upaya bersama-sama membangun daerah ini,” cetusnya.

Namun untuk persoalan organisasi, lanjut Haji Amin, dia sudah tidak lagi menjadi bagian dari Golkar, sebab secara aturan kepartaian tidak dibenarkan memiliki dua KTA (Kartu Tanda Anggota). Kepindahannya ke Nasdem, ungkapnya, karena tidak ingin menghabiskan energi di tengah dinamika konflik yang cukup panjang. Ia selaku kepala daerah tidak mungkin memberikan contoh dan suri tauladan kepada masyarakat umum. “Masa’ kepala daerah mau berpolemik terus di partai, lalu kapan urus rakyatnya. Karena itu saya tidak ingin terus berada di pusaran itu meski selama ini saya tidak merasa melanggar norma atau kaidah partai,” tukasnya.

Alasan lain memilih Nasdem, memiliki hubungan emosional dengan pendiri Partai yang mengusung restorasi tersebut. Dia dan Surya Paloh pernah sama-sama di Golkar. Selain partai ini racing star, dan progresif, dengan platform yang mendukung tema restorasi. “Ini menarik bagi masyarakat, bukan partai lain tidak bagus tapi ini saya lihat memiliki kelebihan,” ucapnya.

Baca Juga  Tim Polda NTB Ungkap Narkoba di BTN Bukit Permai Sumbawa

Selanjutnya, sebagai kepala daerah ia juga politisi sehingga membutuhkan partai politik untuk eksistensinya sebagai politisi serta memastikan pemerintahan dan pembangunan berjalan dengan lancar terutama jalinan kemitraan dengan DPRD dan partai politik sebagai kekuatan politik. Ketika ditanya alasan memilih Nasdem karena ingin menjadikan partai tersebut kendaraan politik dalam menghadapi suksesi pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB Tahun 2018 mendatang, Haji Amin membantahnya. Sejauh ini dia mengaku belum memikirkannya karena masih ada tiga tahun sisa jabatan dalam melaksanakan tugas-tugas sebagai Wakil Gubernur.

Namun yang jelas, Nasdem juga memilihnya karena berbagai alasan. Nasdem mungkin tidak perlu bekerja keras dan bermandi peluh untuk mendapatkan barang jadi. “Itulah hebatnya Nasdem pandai menangkap peluang. Saya di Nasdem istilahnya extra ordinary. Karena Nasdem mendukung dulu baru mengenal saya. Biasanya dikenal dulu baru didukung,” ujarnya tanpa maksud memuji diri. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD