Menyerah Setelah Diburu Polisi dan Dihantui Arwah Korban  

oleh -11 views
Kapolsek Lape, AKP Satrio

Kisah Pelaku Pembunuhan Ngali

SUMBAWA BESAR, SR (15/06/2016)

Keberadaan RW alias Rus (27) tersangka pembunuh Sukriadi (25) warga Dusun Ngali Kecamatan Lape, sebenarnya sulit dideteksi polisi. Jajaran polsek Lape sudah menyisir sejumlah lokasi yang dicurigai, namun hasilnya nihil. Namun tersangka akhirnya menyerahkan diri, dan mengakui perbuatannya, karena kerap dihantui arwah korban. Ternyata selama ini tersangka bersembunyi di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Menurut pengakuan tersangka kepada penyidik sebagai yang diungkapkan Kapolsek Lape, AKP Satrio kepada SAMAWAREA, Rabu (15/6) siang tadi, bahwa sebelum kasus pembunuhan tersebut terjadi, malam itu tersangka berpapasan dengan korban yang baru pulang dari ladangnya. Entah mengapa keduanya terlibat perkelahian karena tersangka belum mau buka mulut. Hanya pengakuan tersangka saat itu dia melihat korban hendak mencabut parang. Ketika korban mencabut parang, tersangka langsung merebutnya dan berhasil. Korban sempat mengatakan agar tersangka tidak macam-macam karena dia masih memiliki sebilah pisau. Mendengar hal itu, tersangka menyerang korban dengan mengayunkan parang. Serangan ini tidak mengena sasaran karena kondisi ketika itu gelap gulita. Kembali tersangka menyerang hingga mengenai leher korban. Setelah itu tersangka meninggalkan korban di TKP. Namun di tengah jalan muncul saksi mengendarai sepeda motor. Saksi ini hendak ke ladangnya yang tidak jauh dari ladang korban. Melihat ada yang datang karena lampu sepeda motor tepat ke arahnya, tersangka yang tidak mengenakan baju berusaha menyembunyikan parang dengan cara mengepit di bagian pahanya. Setelah saksi lewat, tersangka membuang parang itu ke ladang kacang ijo tidak jauh dari TKP. Saksi terus melaju dan menemukan korban yang tergeletak bersimbah darah. Korban sempat mengatakan jika dia ditebas oleh tersangka Rus dan meminta saksi untuk menolongnya. Saksi pun berusaha menaikan korban ke atas motornya yang rencananya akan dibawa ke rumah sakit. Tapi urung dilakukan karena takut kembali bertemu dengan tersangka di tengah jalan, saksipun membawa korban ke ladang ayah korban (Mastar). Sesampai di pintu ladang, korban diturunkan lalu saksi berteriak memanggil ayah korban. Saksi lalu pergi meninggalkan korban karena takut bermasalah. “Itulah mengapa ayah korban mengira itu suara korban padahal sebenarnya itu suara saksi,” kata Kapolsek.

Baca Juga  Setelah Melawan, Bocah SD ini Lolos dari Dugaan Penculikan

Pihak Polsek yang melakukan olah TKP sempat heran karena menemukan dua TKP yang di antaranya berjarak sekitar 300 meter. Muncul keraguan, mustahil korban yang dalam kondisi luka parah berjalan sejauh itu dari TKP pertama ke TKP kedua. Jika hal tersebut terjadi mengapa sepanjang jalan tidak ditemukan ceceran darah. Inipun terjawab setelah polisi mengetahui identitas saksi. Tidak adanya ceceran darah karena saksi berusaha menyumbat aliran darah yang keluar dengan kain sarung milik korban. Untuk mendapatkan keterangan saksi ini, polisi sempat menemui kesulitan. Sebab saksi dalam kondisi trauma hingga jatuh sakit. Karena itu pihak polsek meminta bantuan kepala dusun untuk mengevakuasi saksi jauh dari perkampungan. Dari situlah saksi akhirnya bercerita dan memberikan informasi. Polisi langsung menetapkan tersangka dalam DPO. Rupanya setelah menganiaya korban, tersangka pulang ke rumah dan meminta keponakannya untuk mengantarnya ke Utan dengan alasan ingin bertemu anaknya yang tinggal bersama mertua. Belum sempat bertemu anaknya, tersangka tergerak hati untuk kabur keluar daerah setelah menumpang truk fuso yang kebetulan melintas. Tersangka pun meluncur hingga ke Surabaya dan ngekost disana. Karena kehabisan uang dan selalu dihantui arwah almarhum, tersangka kembali ke Sumbawa dan langsung menyerahkan diri ke Polres. “Tersangka menumpang ojek dari Terminal Sumer Payung menuju Polres Sumbawa,” demikian Kapolsek Yoyo. (JEN/SR)

 

bankntb DPRD DPRD