Studio Baca Untuk Literasi Anak Sumbawa

oleh -31 views

OlehNurnaningsih, Intan Muliana, Muhammad Fajri, Ahmad Buhori, Egy Permana Putra

SUMBAWA BESAR, SR (14/06/2016)

Studio Baca merupakan suatu komunitas yang lahir atas inisiasi salah seorang pejuang anak yang berasal dari Sumbawa, Miftahul Arzak. Ini berawal dari idenya untuk memperjuangkan hak anak melalui literasi membaca yang ia sampaikan pada event Parlemen Muda Indonesia. Bekerjasama dengan Forum Anak Sumbawa (FAS) dan bersama dengan teman seperjuangannya (perintis pengurus taman bacaan) mereka bahu membahu mewujudkan hal tersebut. Di Forum Parlemen Muda Indonesia, Mifta bertemu Nila Tamzil (founder Taman Bacaan Pelangi di Flores) dan kemudian berniat bersama mengembangkan taman bacaan di Sumbawa. Sejak itu, Taman Bacaan Pelangi menjadi salah satu donatur buku untuk Studio Baca. Konsep Studio Baca sendiri adalah mengembangkan taman bacaan secara gratis ke kecamatan–kecamatan lain di Sumbawa yang berniat mengembangkan Taman Bacaan di desanya.

Pada perjalanannya, di akhir Tahun 2015 Miftah yang kini bertindak sebagai Manager Umum, bersama kawan–kawannya kemudian membuat konsep baru tentang taman bacaan dengan nama Studio Baca yang kemudian melebarkan cakupan kerja mereka ke bidang lain, seperti Studio Belajar (komunitas belajar untuk anak–anak) dan Studio Enterpreneur yang memberikan pelatihan kewirausahaan bagi anak–anak. Masing–masing program kemudian memiliki penanggung jawab tersendiri. Rina Yulianti sebagai penanggung jawab program Studio Baca, Siti Kasmarini sebagai penanggung jawab program Studio  Belajar, dan Luluk Wulandari sebagai penanggung jawab Studio Entrepreneur.

Baca Juga  Kartini Juga Mengaji

Hingga sekarang, komunitas yang tercatat memiliki 10 anggota (di luar penanggung jawab dan ketua) ini telah menyalurkan buku–buku bacaan kepada banyak taman baca/perpustakaan, seperti di Desa Semamung Kecamatan Moyo Hulu, Kelurahan Samapuin Kecamatan Sumbawa, Kebayan Kelurahan Uma Sima, Desa Karang Dima Kecamatan Badas, sampai Pulau Bungin Kecamatan Alas. Mereka menargetkan buku–buku dan program mereka kepada anak–anak usia 7 sampai 12 tahun. Sebuah langkah menggiring dan mengawal literasi anak–anak yang patut dicontoh.

Kiprah komunitas ini sudah diangkat oleh media lokal, tentu saja sebagai informasi yang dapat menginspirasi banyak orang. Meski begitu, komunitas ini juga aktif bermedia sosial, hal ini ditujukan sebagai langkah menyebar informasi dan inspirasi bagi banyak orang. Lewat media sosial juga komunitas ini bisa dikenal oleh banyak orang. Bahkan banyak donatur yang kemudian mendonasikan bantuan kepada anak–anak Sumbawa melalui komunitas ini setelah mendapat informasi tentang sepak terjang mereka melalui postingan–postingan di sosial media. Namun demikian, pemerintah daerah masih belum menyambut gerakan mereka. Untuk saat ini, kerjasama dengan instansi pemerintah seperti Arpusda atau mungkin Dinas Pendidikan adalah suatu hal yang menjadi harapan komunitas tersebut, selain tentu saja harapan besar mereka, yaitu melihat anak–anak Sumbawa yang cerdas dan berwawasan luas di masa depan. Suatu cita–cita mulia yang sangat mungkin dapat terwujud. (*)

Baca Juga  Riset dan Penelitian Dosen UTS Terbanyak se-Bali Nusra

 

bankntb DPRD DPRD