Menyusuri Jejak Tambang PTNMR di Buyat dan Ratatotok

oleh -89 views

MANADO, SR (30/05/2016)

Aktivitas penambangan PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR) telah resmi dihentikan sejak 12 tahun yang lalu. Namun demikian perusahaan tambang asal Amerika ini tetap berkomitmen untuk melaksanakan kewajiban mengembalikan lokasi tambang seperti semula bahkan lebih baik dari sebelumnya. Karenanya perusahaan yang berdiri di Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun 1986 lalu ini tengah melakukan kegiatan reklamasi. Upaya pasca tambang ini sebenarnya sudah mulai dilakukan PTNMR sejak penambangan dimulai pada Tahun 1996. Reklamasi yang dikerjakan tidak hanya mencakup penanaman tetapi juga penataan lahan dan kegiatan pembangunan lainnya. Kini PTNMR tengah menunggu berakhirnya kontrak karya pada Tahun 2016 ini. Bagaimana kondisi terkini pasca tambang PTNMR ?  Inilah yang dikunjungi 10 orang wartawan Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat dari berbagai media massa baik cetak maupun online, 22—26 Maret 2016.

Difasilitasi PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT), rombongan wartawan mendapat kesempatan untuk melihat dari dekat hasil dari kegiatan pasca tambang yang telah dilakukan PTNMR. Mereka adalah Zainuddin (SAMAWAREA), Didi Dirgantara (Pulau Sumbawanews), Khairil W Zakaria (Antara News), Hendra Ardiansyah (Sumbawa News), Heriandi (Suara NTB), Imam Taufik (Sumbawa Barat Post), Andi Subandi (Sumbawa Ekspres), Sutan Zaitul Ikhlas (Kobar), Ishak (Radar Sumbawa), dan Agung Widiastono (Tribun Sumbawa). Rombongan wartawan yang didampingi Ruslan Ahmad dan Lalu Budi Karyadi dari PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT) ternyata tidak sendiri karena ada rombongan lain juga berangkat pada hari, dan tujuan yang sama ke Manado. Rombongan tersebut terdiri dari para pejabat KSB dan Pemprov berasal dari Dinas Pertambangan, Dinas Kehutanan, dan Badan Lingkungan Hidup. Mereka didampingi Ahmad Salim dari PTNNT. Dua rombongan besar inipun meninggalkan Bandara Internasional Lombok (BIL) pukul 07.00 Wita. Setelah transit di Bandara Soekarno Hatta Jakarta, rombongan tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado sekitar pukul 14.00 Wita melalui penerbangan Batik Air yang cukup menegangkan. Sebab saat itu cuaca buruk menyebabkan pesawat jenis Boeing ini mengalami turbulensi dengan goncangan yang cukup keras.

Jerry Kojansow, Environmental Manager PTNMR  saat mempresentasikan  proses penambangan PTNMR
Jerry Kojansow, Environmental Manager PTNMR saat mempresentasikan proses penambangan PTNMR

Kunjungan Manado 2

Di bandara, rombongan sudah ditunggu dan dijemput pihak PT NMR yang kemudian perjalanan berlanjut ke Buyat dan Ratatotok Minahasa Tenggara yang berjarak sekitar 150 kilometer. Perjalanan darat ini cukup melelahkan. Untuk sampai tujuan harus menempuh perjalanan selama 4 jam melalui jalan yang berkelok-kelok. Rombongan tiba di basecamp PTNMR sekitar pukul 20.00 Wita. Basecamp tersebut terletak di antara Pantai Buyat dan Pantai Lakban. Pantai ini sempat terkenal setelah adanya isu lingkungan. PTNMR diisukan mencemari Teluk Buyat hingga akhirnya persoalan tersebut diselesaikan melalui jalur hukum. Suasana basecamp tampak lengang. Sebelum diramaikan rombongan wartawan dan pejabat NTB, basecamp itu dalam keadaan kosong. Hanya ada petugas security dan juru masak yang dipanggil khusus untuk menyambut kedatangan rombongan. Kondisi tersebut membuktikan jika PTNMR sudah tidak beroperasi lagi.

Pantai Lakban Ratatotok, Manado
Pantai Lakban Ratatotok, Manado

Kunjungan manado Lakban 2

Suasana Pantai Lakban yang dipermak PTNMR menjadi destinasi pariwisata
Suasana Pantai Lakban yang dipermak PTNMR menjadi destinasi pariwisata

Letak basecamp tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2 kilometer dari Desa Buyat, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Namun sangat dekat dengan Pantai Lakban yang telah dijadikan destinasi wisata dan selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal dan domestik terutama pada hari libur kantor, Sabtu—Minggu. Suasana sekitar basecamp benar-benar dirasakan rombongan setelah pagi harinya. Wartawan bisa menikmati indahnya Pantai Buyat yang berada di sebelah barat dan Pantai Lakban di sebelah kiri basecamp. Untuk Pantai Lakban, telah dipermak khusus dengan dana Corporate Social Responsibility (CSR) PTNMR. Banyak wahana yang tersedia, di samping deretan pedagang kaki lima yang menyediakan beragam kuliner. Dengan teluk yang tenang membuat para pemancing betah seharian untuk mengail ikan, di samping kehadiran sunrise nampak jelas di pagi hari. Di bagian lainnya terdapat panggung—tempat diselenggarakan pentas seni dan aneka lomba terutama pada perayaan HUT Kabupaten Minahasa Tenggara dan hari-hari besar.  Belum lagi jembatan kayu sepanjang 50 meter yang dibuat unik dan sangat pas untuk berfoto-foto termasuk pra wedding. “Kondisi Ratatotok dan sekitarnya sekarang sangat berbeda sebelum Newmont beroperasi. Semua berkembang pesat,” kata Jerry Kojansow, Environmental Manager PTNMR saat menyambut rombongan.

Baca Juga  Lahan BPTHMT Serading Terbakar, TNI-Polri Sigap Padamkan Api
Masjid dan Gereja dibangun dalam satu areal, menandakan dua umat beragama hidup berdampingan secara damai
Masjid dan Gereja dibangun dalam satu areal, menandakan dua umat beragama hidup berdampingan secara damai

Jerry—sapaan akrabnya mulai menceritakan proses kegiatan pertambangan yang mulai berproduksi Tahun 1996, sejak kontrak karya (KK) ditandatangani Tahun 1986 lalu. Saat PTNMR mengawali kegiatannya, Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara hanya memiliki 2 desa dan Tahun 2011 berkembang menjadi 15 desa menyusul pemekaran Kecamatan Ratatotok. Sebagai daerah pertambangan tentu menjadi magnet bagi orang-orang di segala penjuru untuk datang mengadu nasib yang kemudian menetap, menikah dan beranak pinak. Tak mengherankan jika daerah tersebut didiami beragam suku seperti Gorontalo, Sangir, Minahasa, Bugis, Jawa, dan Bolaang Mongondow. Warga setempat memeluk Agama Islam dan Kristen yang hidup berdampingan secara damai. Hal ini berdampak pada membludaknya jumlah penduduk yang mencapai 11.487 (data 2011). Seiring kian berkembangnya suatu daerah dan bertambahnya penduduk, permasalahan semakin komplek. Untuk meretas permasalahan ini, PTNMR mengambil peran strategis melalui program pembangunan berkelanjutan mulai Tahun 1996 hingga 2006—dua tahun setelah penutupan tambang pada Tahun 2004. Yaitu Program Pendidikan. PTNMR membangun gedung sekolah sekaligus meningkatkan mutu pendidikan melalui pemberian beasiswa dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, bahkan tenaga pendidik. PTNMR juga berperan dalam meningkatkan minat baca dengan membangun perpustakaan. “Dulu masyarakat di sini paling tinggi mengenyam pendidikan sampai SMP, kini sudah ada yang menjadi sarjana. Dan kami juga membiayai putra-putri di sini yang ingin menjadi perawat dan bidan,” kata Jerry.

Untuk program kesehatan, PTNMR membangun puskesmas, pustu, dan posyandu. Selain itu secara intensif memberikan pengobatan gratis, pelatihan bidan kampung, pengadaan alat kesehatan dan mobil ambulans. Peningkatan kapasitas dokter juga menjadi perhatian PTNMR dalam rangka memenuhi kebutuhan dokter spesialis. Semua ini dilakukan untuk meningkatkan derajat kesehatan serta menjamin hak dasar masyarakat setempat.

Selanjutnya program pengembangan ekonomi. Masyarakat Buyat dan Ratatotok sebagian besar berprofesi sebagai petani dan nelayan. Meski daerah itu kaya potensi namun tidak tergarap secara maksimal dan dikelola sangat tradisional. PTNMR melakukan pendampingan sekaligus memberikan bantuan dana kepada para nelayan untuk budidaya rumput laut, bantuan mesin ketinting untuk usaha penangkapan ikan, budidaya kerapu, pengasapan ikan, usaha virgin coconut oil, hingga kucuran kredit mikro bergulir. Petani pun demikian. PTNMR memberikan bantuan traktor tangan, peralatan penggiling jagung, di samping pengembangan kapasitas untuk usaha industri rumah gula aren, dan pembuatan abon ikan. “PT Newmont selalu menggelar berbagai pelatihan di bidang peternakan, pertanian dan kemaritiman,” ungkap Jerry.

Baca Juga  Giliran PETANG Galang Dana Korban Banjir Lotim
RSUP Ratatotok yang dibangun PTNMR senilai Rp 66 Milyar
RSUP Ratatotok yang dibangun PTNMR senilai Rp 66 Milyar
salah satu SPDN yang dibangun PTNMR untuk memenuhi kebutuhan BBM para nelayan.
salah satu SPDN yang dibangun PTNMR untuk memenuhi kebutuhan BBM para nelayan.

Dengan intervensi PTNMR, ekonomi dan status social masyarakat di wilayah lingkar tambang meningkat drastis. Hal ini dibuktikan dengan hasil survey dari sejumlah lembaga termasuk Tim Peneliti Fakultas Ekonomi Universitas Sam Ratulangi. Survey tersebut mencatat bahwa pada Tahun 1994 pengeluaran konsumsi per keluarga setiap tahun rata-rata hanya Rp 2.050.175 dengan pendapatan Rp 1,4 juta, setelah ada Newmont meningkat menjadi Rp 7,2 juta—7,4 juta pada Tahun 2002 dengan pendapatan Rp 8,5 juta. Seiring dengan peningkatan kesejahteraan, pengeluaran masyarakat per keluarga pada Tahun 2011 melonjak signifikan tercatat Rp 15,4 juta dengan pendapatan Rp 21.5 juta. Demikian dengan rumah permanen dari hanya 2,2 persen pada Tahun 1994 menjadi 35—57 persen Tahun 2002, lalu meningkat 69 persen pada Tahun 2011.

Program lainnya yang dilaksanakan PTNMR adalah perbaikan dan pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, perumahan di Pantai Buyat, kantor desa dan balai pertemuan di tiap desa, kantor camat, RSUD, lapangan sepak bola, kantor Koramil dan Polsek Ratatotok. Kemudian pembangunan pasar, terminal, talud sungai, gorong-gorong dan saluran air, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pelabuhan perikanan, serta SPDN untuk melayani kebutuhan bahan bakar minyak bagi para nelayan. Selain itu pembangunan instalasi dan pemipaan air bersih untuk Ratatotok dan Buyat. “Alhamdulillah kami sejahtera dengan keberadaan Newmont Minahasa Raya ini,” ucap H Dahlan Ibrahim—mantan Kades Ratatotok Timur kepada rombongan wartawan.

H Dahlan Ibrahim—mantan Kades Ratatotok Timur
H Dahlan Ibrahim—mantan Kades Ratatotok Timur
Ketua Koperasi Nelayan, Ustad Dahari Pakaya
Ketua Koperasi Nelayan, Ustad Dahari Pakaya

Haji Dahlan yang biasa disapa Hakim Tua—sebutan Kades, mengakui bahwa saat PTNMR masih beroperasi mereka tidak kesulitan memasarkan hasil tangkapan ikan. Sebelumnya ikan tidak ada harganya, hanya ditukar dengan beras dan barang lainnya. Setelah ada PTNMR, ikan bernilai tinggi karena dibeli dengan harga yang pantas, dengan ukuran per kilogram. Bahan bakar minyak pun demikian. Ketika itu nelayan harus bersusah payah mendapat BBM dengan jarak tempuh belasan kilometer dan harus menyeberangi lautan, kini berada di depan mata setelah PTNMR menfasilitasi keberadaan SPDN berkapasitas 60 kiloliter (KL) per bulan dan pembangunan dermaga sekaligus TPI pada Tahun 2012. Hingga kini SPDN dan TPI yang dikelola Koperasi Karya Maritim itu masih beroperasi. “Tidak beroperasinya lagi PT Newmont membuat kami kehilangan. Bukan kami tidak bisa mandiri, tapi perusahaan itu telah mengangkat derajat kami baik pendidikan, kesehatan, maupun social ekonomi,” cetus Ustadz Dahri Pakaya, selaku ketua koperasi nelayan ini.

Sejak penutupan tambang, PTNMR telah menyerahkan tanggungjawab keberlanjutan program pengembangan ekonomi kemasyarakatan kepada yayasan yang dibentuknya. Adalah Yayasan Minahasa Raya, Yayasan Ratatotok Buyat, dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara. Diharapkan melalui pembinaan yayasan tersebut masyarakat sudah bisa mandiri sebagai bentuk kesiapan dalam menghadapi pasca tambang. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.