Lindungi Reklamasi Eks Tambang, PTNMR Wujudkan Kebun Raya

oleh -70 views

MANADO, SR (30/05/2016)

Proses penambangan PTNMR terbilang singkat, hanya 10 tahun. Namun tanggungjawab sosial pasca tambang lebih panjang. Sejak penutupan tambang Tahun 2004 lalu, hingga kini tanggungjawab itu telah berlangsung selama 12 tahun.

Ribuan pohon tampak berdiri tegak dan lebat. Sinar mataharipun nyaris tak terlihat karena kerapatan tanaman di sepanjang jalan yang dilalui rombongan wartawan dan managemen PTNNT serta pejabat KSB dan Pemprov NTB menuju lubang pit galian tambang PTNMR. Penambangan emas yang dilakukan perusahaan asal Amerika ini nyaris tak meninggalkan bekas. Basecamp karyawan, fasilitas pendukung produksi tambang, dan galian untuk penempatan material sudah tak terlihat lagi. Satu-satunya sisa yang masih ada hanya bekas galian tambang yang berubah menjadi danau buatan. Danau berair biru yang dikelilingi hutan belantara tersebut kini telah dijadikan destinasi wisata. Inilah proses reklamasi yang dilakukan PTNMR pasca penutupan tambang. Penanaman pohon ini bukan hanya dilakukan di lokasi tambang, tapi juga rehabilitasi hutan bakau di kawasan pesisir Ratatotok dan Buyat. Sebanyak 50.000 pohon bakau telah ditanam dan tumbuh subur di lahan seluas sekitar 10 hektar tersebut.

Newmont Minahasa

rombongan wartawan menuju lubang tambang PTNMR
rombongan wartawan menuju lubang tambang PTNMR

Untuk mencapai danau lubang pit tersebut, rombongan yang didampingi Manager Environmental PTNMR, Jerry Kojansow, harus menggunakan mobil hardtop double gardan. Sebab jalan yang sebelumnya mulus dan bisa dilalui mobil mercy sekalipun, kini mulai kembali berubah alami, berbatuan, menanjak dan bergelombang dengan goncangan yang memaksa rombongan berpegang erat di bagian mobil jika tidak ingin terjatuh. Jarak tempuh tidak terlalu jauh, tapi karena jalan yang melambat akibat medan yang sulit, membuat perjalanan cukup alot. Rasa lelah dan tegang seketika hilang, berganti dengan pemandangan yang menakjubkan. Rombongan dapat melihat danau buatan itu dari ketinggian—tempat khusus yang ditata sedemikian rupa. Tentu keberadaan danau tersebut menjadi kekayaan baru Ratatotok, selepas dari PTNMR. Demikian dengan lokasi tambang yang kini sudah berubah menjadi hutan belantara dengan beragamnya vegetasi tumbuh-tumbuhan dan spesies yang hidup di dalamnya. Mungkin saat ini bisa terjaga karena masih dalam pengamanan dan pengawasan PTNMR hingga KK berakhir akhir 2016 ini. Bagaimana nanti jika PTNMR hengkang ? Ini yang harus dipikirkan mengingat ancaman selalu mengintai mulai dari illegal logging dan aktivitas pertambangan tradisional yang kini sudah merambah lokasi konsesi PTNMR.

Baca Juga  Mensos RI Pastikan Korban Gempa Lombok Ditangani Maksimal

Newmont Minahasa 1Newmont Minahasa 2Salah satu upaya yang dilakukan PTNMR agar tetap menjaga hasil reklamasinya adalah menjadikan kawasan hutan lokasi eks tambang menjadi kebun raya. Jika ini terwujud maka Kebun Raya di Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara di eks lahan tambang emas adalah yang pertama di dunia. “Inisiatif awal pembangunan Kebun Raya di Ratatotok adalah keinginan PTNMR untuk menjaga hutan hasil reklamasi dengan meningkatkan status kawasan hutan,” kata Jerry Kojansow kepada SAMAWAREA di Manado belum lama ini.

Menurut Jerry, sapaan akrabnya, untuk mewujudkan kebun raya, PTNMR melibatkan pemerintah kabupaten, propinsi, Kebun Raya Bogor, Kementerian Kehutanan, Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, serta Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara. Upaya ini membuahkan hasil dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. SK.175/Menhut-II/2014 tanggal 19 Februari 2014 tentang Penetapan Hutan Dengan Tujuan Khusus untuk Hutan Penelitian, Pengembangan dan Pendidikan Lingkungan dalam Bentuk Kebun Raya pada Kawasan Hutan Produksi Terbatas di Kabupaten Minahasa Tenggara seluas 221 hektar pada area lahan bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya.

Newmont Minahasa 5Newmont Minahasa BakauMasterplan dan Maket Kebun Raya ini disusun Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dan LIPI. Kebun Raya di Ratatotok merupakan kebun raya pertama di dunia yang merupakan kebun raya dari eks tambang emas. Rencana Pembangunan Kebun Raya di Ratatotok diperkuat lagi dengan payung hukum yaitu Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) No. 3 Tahun 2015. Sesuai Perda tersebut, Kebun Raya ini akan dinamakan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri.

Dijelaskan Jerry, pembangunan infrastruktur kebun raya akan memakan waktu 5–7 tahun. Pembangunan hingga selesai diperkirakan akan lebih dari 10 tahun. “Pembangunan kebun raya di Ratatotok masuk dalam “Road Map Pembangunan Kebun Raya Non Perkotaan Tahun 2015 – 2019” dari Dirjen Penataan Ruang Kementerian PU dan Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya – LIPI. Dan pembangunannya akan dimulai setelah mendapatkan persetujuan penganggaran negara lewat APBN yang akan dilaksanakan oleh pemerintah pusat,” ungkapnya, seraya menambahkan bahwa Bupati Minahasa Tenggara pada akhir November 2015 lalu telah menyerahkan proposal pembangunan kebun raya ini kepada Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Yayasan Kebun Raya Indonesia.

Newmont Minahasa danau 1

Lubang tambang emas PT Newmont Minahasa Raya (PTNMR) di Ratatotok, Manado, kini sudah menjadi danau sekaligus destinasi pariwisata Kabupaten Minahasa tenggara, Provinsi Sulawesi Utara
Lubang tambang emas PT Newmont Minahasa Raya (PTNMR) di Ratatotok, Manado, kini sudah menjadi danau sekaligus destinasi pariwisata Kabupaten Minahasa tenggara, Provinsi Sulawesi Utara

Untuk diketahui, analisis vegetasi di Hutan Ratatotok eks tambang PTNMR terdapat 86 jenis dan 30 suku pohon di antaranya Nauclea Chinensis, Peltophorum Pterocarpum, Trema Oreintalis, Dracontomelon Dao, Cananga Odorata dan Alstonia Spectabilis. “Hasil survei Tim Peneliti Universitas Sam Ratulangi menemukan 155.814 pohon tumbuh baik di area reklamasi berasal 145 spesies dari 59 family,” sebutnya.

Baca Juga  Iman Ulet Jaya: Pemuda Harus Difasilitasi

Di hutan sekundernya juga ditemukan jenis-jenis yang berpotensi sebagai tanaman hias yaitu jenis Aglaonema Sp, Begonia Isoptera, Nervillia Sp, Homalomena Cordata dan Amorphophallus Sp. Sedangkan keanekaragaman satwanya terdapat 73 jenis burung, dan 109 spesies burung yang bermigrasi dan menetap. Ada juga hewan-hewan endemik Sulawesi seperti Burung Rangkong Sulawesi dan Tarsius Sp (monyet kerdil Sulawesi) termasuk beberapa yang berstatus terancam kepunahan di antaranya Tarsius Spectrum dan Macaca Nigra. Belum lagi beberapa jenis serangga penting sebagai polinator, pengurai, predator, dan parasi.

Bukan hanya di daratan, PTNMR merubah Teluk Buyat menjadi sensasi baru dunia pariwisata bawah laut di Sulawesi Utara. Terdapat puluhan titik lokasi penyelaman eksotis dengan hamparan karang “reefball” (terumbu buatan). Di sekitar reefball itu terdapat 26 famili, 72 genera, 150 spesies dan 9.006 individu ikan hidup sehat. “Keindahan laut itu menjadi potensi wisata diving karena salah satunya terdapat karang otak terbesar di dunia,” timpal Jerry. Upaya ini dilakukan PTNMR sekaligus untuk menjawab tuduhan para pegiat lingkungan beberapa tahun silam yang menyatakan kondisi Laut Buyat dan Teluk Ratatotok rusak parah akibat pembuangan limbah tailing. NMR didakwa sebagai penghancur keanekaragaman hayati kehidupan laut dan meminta perusahaan tambang tersebut bertanggung jawab. Tudingan itu terbantahkan setelah Putusan Mahkamah Agung RI yang membebaskan PTNMR dari seluruh tuduhan pencemaran Teluk Buyat.

Newmont Minahasa HutanSemua parameter lingkungan yang dilakukan PTNMR telah memenuhi semua standar baku mutu yang diperlukan. Kemudian penilaian proses reklamasi PTNMR mencapai nilai 93 dari total 100 dimana nilai 80 sudah merupakan kriteria baik sesuai Permenhut No. 60/MenhutII/2009). Kondisi ini sebagai bukti bahwa reklamasi yang dilakukan PTNMR telah berhasil, sehingga tanpa keraguan Dirjen Minerba menyetujui penutupan tambang PTNMR, di samping persetujuan penghentian pinjam pakai PTNMR oleh Menteri Kehutanan, yang diikuti dengan penyerahan area pinjam pakai tersebut kepada Pemprov Sulut. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.