Mahasiswa UNSA Ciptakan Alat Perangkap Tikus Modern

oleh -65 views

SUMBAWA BESAR, SR (27/04/2016)

Banyak cara yang dilakukan untuk mengembangkan suatu barang/alat konvensional menjadi modern dan bermanfaat. Itulah yang dilakukan Hasyim Muhammad—salah seorang mahasiswa Universitas Samawa (UNSA). Dengan pengetahuan dan kreatifitasnya, Hasyim yang kini semester 8 Program Studi (Prodi) Pendidikan Fisika tersebut, mampu menciptakan alat perangkap tikus yang sederhana, efektif, hemat dan ramah lingkungan. Penciptaan alat ini karena terinspirasi dari sebuah alat perangkap tikus yang konvensional. Jaman dulu orang menangkap tikus dengan tiga macam cara, yaitu menggunakan kandang besi biasa, lem tikus dan racun tikus. Hasyim menilai ketiga cara tersebut memiliki banyak kelemahan. Misalnya kandang besi. Meski tikusnya tertangkap, kadang itu tidak dilengkapi alarm sehingga tidak diketahui kapan tikus itu terperangkap. Demikian dengan lem tikus, yang hanya sekali pakai dan langsung dibuang. Sedangkan racun tikus, memang efektif tapi menyisakan bangkai tikus yang membusuk dan menimbulkan bau menyengat. “Kondisi ini yang membuat saya terinspirasi untuk mengembangkan perangkap tikus eletrik dengan menggunakan barang-barang bekas yang mudah ditemukan dan tidak dibeli, kecuali bel yang berfungsi sebagai alarm,” kata Hasyim yang ditemui kemarin.

Perangkap TikusAlat yang dikembangkan Hasyim sangat aman. Perangkat tikus itu dibuat seperti model rumah yang di dalamnya terdapat beberapa alat, seperti flat seng dan triplek, kardus bekas, lem sebagai perekat, tupperware bekas, kabel dan stop kontaknya. Alat ini juga hemat energi, meskipun telah dihubungkan dengan listrik, listriknya akan mengalir ketika tikus terperangkap. “Arus listriknya sangat efektif untuk membunuh tikus dan alarm akan berbunyi ketika tikus terperangkap,” jelas Hasyim mengemukakan keunggulan hasil pengembangannya.

Baca Juga  PT Taspen Bantu UTS untuk Masjid dan Beasiswa

Alat semacam ini diakui Hasyim, adalah yang pertama di Sumbawa. Memang ada kemiripan dengan alat perangkap tikus di daerah lain. Tapi alat di daerah lain itu cukup berbahaya bagi keselamatan jiwa manusia karena tidak dilengkapi safety berupa rumahan. Ketika diinjak, manusia akan tersengat listrik dan bisa berakibat fatal bagi keselamatannya. “Alat yang saya rakit ini merupakan generasi pertama, dan terkesan klasik. Kedepannya saya akan kembangkan lebih praktis lagi dan pastinya sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam skala rumah tangga,” ujarnya.

Sementara itu Romi Aprianto, M.Sc selaku Kaprodi Pendidikan Fisika UNSA mengatakan, alat sederhana ini memiliki multi fungsi, tidak hanya menjerat tikus  tapi juga bisa mendeteksi banjir atau keadaan pasang surut air, termasuk mendeteksi hama di sawah. “Tinggal bagaimana nanti bisa dikembangkan dan dibuat lebih sempurna,” sambung dosen yang akan mengambil gelar doktornya pada salah satu universitas di Singapura. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD