Giliran Warga Dusun Setema Tuntut Sisa Penjualan Tanah

oleh -10 views

Setelah Dusun Arung Santek dan Brang Kua

SUMBAWA BESAR, SR (15/04/2016)

Persoalan lahan di Dusun Setema, Desa Labuan Aji, Pulau Moyo, Kecamatan Badas, belum usai. Setelah terjadi keributan warga Dusun Arung Santek dan Dusun Brang Kua yang menuntut uang hasil penjualan tanah, serta kasus pembakaran bungalow dan pengrusakan alat berat milik investor, kini bakal muncul masalah lain meski berada dalam satu rangkaian. Pasalnya 60 warga Dusun Setema selaku pemilik tanah menuntut sisa dana penjualan tanah kepada investor. Warga Setema baru mendapatkan Rp 2,15 miliar dari harga total Rp 3,15 M dari 90 hektar tanah yang dijual. Artinya masih ada sisa Rp 1 Miliar lagi yang belum diterima. Sementara sisa uang tersebut telah diberikan kepada 197 warga Arung Santek dan Brang Kua tanpa sepengetahuan warga Setema selaku pemilik tanah. Kondisi membuat investor bingung dan terancam tidak dapat melanjutkan investasi di pulau yang telah ditetapkan sebagai destinasi pariwisata dunia ini.

Camat Badas, Heri Heriyanto Diaz S.Sos yang dikonfirmasi SAMAWAREA, Kamis kemarin, mengakui permasalahan di Desa Labuan Aji sangat komplek. Bukan hanya tuntutan warga Brang Kua dan Arung Santek, serta kasus pembakaran Bungalow dan alat berat, tapi yang baru muncul adanya tuntutan dari warga Setema. Saat ini warga Setema telah memberikan kuasa kepada Ketua LPM, Ahmad, untuk menagih uang Rp 1 miliar sisa pembayaran tanah dari Rp 3,150 miliyar kepada investor. Sebab warga Stema baru mendapat Rp 2,15 miliar yang diterima pada pencairan pertama. Sebenarnya kewajiban investor terkait jual beli tanah sudah selesai. Sebab investor (Daeng Syamsuddin) sudah membayar tanah seluas 90 hektar itu sebesar Rp 3,15 miliar. Hanya yang menjadi persoalan sebagian hasil penjualan tanah itu diambil oleh warga yang tidak berhak atau bukan pemilik tanah. Ini bisa terjadi karena ulah Kades Labuan Aji yang mengambil kebijakan sepihak tanpa kompromi dengan warga Setema selaku pemilik lahan. “Hanya untuk memenuhi janji dan komitmennya, kades sepakat untuk menyerahkan sisa hasil penjualan tanah sebesar Rp 1 M kepada warga di dua dusun yaitu Arung Santek dan Brang Kua,” kata Camat Heri—akrab Ia disapa.

Baca Juga  Polda NTB Jamin Keamanan Pembangunan Sirkuit MotoGP

Dari informasi yang diperoleh Camat Heri, kalau dana Rp 1 M ini sudah dihibahkan oleh warga Setema. Namun Ahmad—Ketua LPM Desa Labuan Aji yang ditunjuk sebagai perwakilan warga Setema membantah dengan tegas informasi itu. Justru warga Setema menagih sisa hasil penjualan tanah. Sebagaimana kronologisnya yang sebelumnya dibeberkan Camat Badas, bermula dari jual beli tanah seluas 90 hektar milik 60 kepala keluarga (KK) masyarakat di Dusun Setema. Dalam proses jual beli itu, warga setempat mendelegasikan Alwi sebagai perwakilan untuk bernegosiasi dengan Daeng Syam—selaku pembeli. Disepakatilah harga jual per hektarnya Rp 35 juta sehingga totalnya mencapai Rp 3,150 milyar. Proses pencairan tanah dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama Rp 2,15 milyar atau per KK di Dusun Setema memperoleh uang Rp 34 juta yang ditransfer langsung ke rekening masing-masing. Artinya masih tersisa Rp 1 milyar yang belum dicairkan pembeli. Mendengar adanya proses pembelian tanah ini warga di dua dusun lainnya yaitu Arung Santek dan Brang Kua, menuntut jatah. Padahal tanah yang dibeli investor itu milik warga Setema, dan tidak ada kaitannya dengan warga di dua dusun tersebut. Namun Kades Labuan Aji, Suhardi mengambil inisiatif membuat kesepakatan dengan masyarakat dua dusun itu akan membagi rata hasil penjualan tanah milik warga Setema. Kesepakatan itu tanpa sepengetahuan dan persetujuan warga Setema selaku pemilik hak. Kesepakatan itu dicapai melalui musyawarah yang dihadiri Ketua BPD, Ketua LPM, dan unsure kadus dari Brang Kua dan Arung Santek. Karena pencairan tahap pertama langsung ke rekening warga Setema, warga dua dusun ini ribut. Kembali Kades Labuan Aji membuat komitmen untuk membagikan sisa pembayaran tanah Rp 1 milyar kepada 197 warga di dua dusun tersebut. Akhirnya uang sisa itupun diserahkan Daeng Syam (investor) kepada Zulkarnain–orang yang dipercaya warga dari dua dusun itu, meski tanpa sepengetahuan 60 KK warga Dusun Setema selaku orang yang berhak. Namun yang sampai kepada warga Arung Santek dan Brang Kua hanya Rp 900 juta, atau Rp 4 juta per warga. Sedangkan Rp 100 jutanya diberikan kepada oknum tertentu.

Baca Juga  Antisipasi Arus Mudik, Polisi Bangun Posyan dan Pospam

Kades: Sisa Harga Tanah Masih Ada

Terkait hal ini, Kades Suhardi menjelaskan jika dana Rp 1 M yang diberikan kepada warga Arung Santek dan Brang Kua ini bukan dari harga tanah tersebut, melainkan pemberian Alwi sebagai kompensasi atas keuntungan yang diperoleh dari penjualan tanah itu. Pemberian itu karena Alwi memiliki tanggung jawab moril terhadap kesepakatan yang dibuat saat rapat pertama di Dusun Brang Kua yang dihadiri semua kepala dusun dari tiga dusun. Sejauh ini sisa harga tanah warga Setema masih ada di investor. Berdasarkan surat perjanjian yang ditandatangani Alwi di kantor polisi, bahwa sisa pembayaran tanah Rp 1 M itu akan dibayarkan Juli 2016 mendatang. “Jadi hak-hak warga Setema masih ada,” demikian Kades Suhardi. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.