Ziarah Tambora Jamah 9 Tempat, Gelar 9 Pertunjukan

oleh -22 views

Boyong Puluhan Seniman Dunia

SUMBAWA BESAR, SR (11/04/2016)

Perjalanan wisata budaya “Alunan Semesta Gili Ngali—Gili Tapan, dimulai. Kegiatan yang digagas Budayawan Nasional Taufik Rahzen dan didukung penuh Pemkab Sumbawa dan Kementerian Pariwisata ini menjadi bagian “Ziarah Tambora” dalam mendukung suksesnya Pesona Tambora 2016. Perjalanan tersebut semakin berbobot karena melibatkan sedikitnya 40 seniman nasional dan internasional. Di antaranya Ray Sahetapi (Aktor Indonesia), Jean Couteau (Perancis), Sean Hayward (Amerika), Kate Liddle, Jade Flahive, dan Anita Rhona Watson—ketiganya dari England, Dilki Pahanthihage (Srilanka), Ellen Begw Jordan (Wales), Victor Hugo Hidalgo dan Leon Berto Medelin dari Mexico, serta beberapa seniman nasional lainnya termasuk Mustafa Daood, Galih Srimara, Ayu Laksmi dan Garin Nugroho. Mereka menggelar setiap pertunjukan di 9 tempat yang dikunjungi dan disinggahi mulai dari Kuta Lombok hingga Kota Bima.

Tapan Ngali 1Cuaca yang begitu hangat beranjak siang tampak cerah dengan ombak yang cukup bersahabat. Tampak puluhan kapal hias telah siap menyambut dan mengantar rombongan “Ziarah Tambora” yang bersandar rapi di Dermaga Pelabuhan Sangor Kecamatan Maronge, Minggu (10/4) pagi. Lautan manusia memadati titik star menjadi bagian dari hajat laut yang biasanya diselenggarakan saat mulainya letusan Tambora hingga puncaknya. Upacara ini merupakan tolak bala sekaligus rasa syukur komunitas nelayan Teluk Saleh terhadap pengalaman sejarah. Mereka juga menjadi saksi perjalanan sejarah Ziarah Tambora hingga 12 April besok. Terlihat dalam rombongan di antaranya Wakil Bupati Sumbawa, Drs H Mahmud Abdullah dan sejumlah pejabat daerah.

Tapan Ngali 2Perjalanan laut yang semarak ini melintasi gugusan pulau-pulau kecil ‘terapung” di tengah laut. Dari kejauhan terlihat gundukan bukit bulat hijau terhampar dengan pasir putih yang mempesona. Itulah Pulau Mariam yang kini telah berganti nama dengan sebutan Pulau Gambus. Pulau inilah yang pertamakali dituju dan disinggahi setelah menempuh perjalanan 45 menit dari pesisir Labuhan Sangor. Dinamakan Pulau Gambus, karena pulau tak berpenghuni dengan luas sekitar 4 hektar ini mirip seperti alat gambus. Di tempat ini rombongan beristirahat sejenak, sambil menikmati keindahan pulau yang telah didaulat menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi. Para seniman pun memanfaatkan waktu tersebut untuk menggelar pertunjukan world music yang mengutamakan gaya musik gambus lautan. Sebab kawasan Teluk Saleh yang di dalamnya Pulau Gambus merupakan tempat pertemuan hampir semua suku laut di Indonesia. Samawa, Mbojo, Sasak, Makasar, Bugis, Maluku, Buton, Bajo, Madura, Timor, Mandar dan Melayu. Melalui perhelatan dan pertunjukan musik ini, diharapkan mempersatukan tradisi gambus lautan dalam bentuk silaturahmi, pembelajaran bersama dan upacara. Para seniman ini berkolaborasi mengalunkan irama lagu dan syair nan syahdu yang juga dijadikan sarana dalam ‘berdialog’ dengan masyarakat yang ikut serta menyemarakkan kegiatan itu. Hari beranjak siang, perjalanan pun dilanjutkan ke Gili Tapan. Sekitar 20 menit melintasi Pulau Putri yang terletak antara Gambus—Tapan, rombongan disambut warga setempat melalui upacara adat. Gili Tapan merupakan salah satu pulau kecil yang berada di Teluk Saleh wilayah Kecamatan Maronge Kabupaten Sumbawa. Pulau yang cukup menawan ini dihuni sekitar 70 kepala keluarga, yang semuanya berprofesi sebagai nelayan. Pulau kecil yang tidak memiliki sumber air bersih ini didominasi oleh warga asal Pulau Saelus Sulawesi Selatan. Rombongan pun bermalam di pulau yang secara geografis terletak di tengah meredian Indonesia, menyimpulkan keseimbangan, jalan tengah, harmoni dan perdamaian.

Baca Juga  Komisi II Minta Lahan Pengganti BBU Sering di Leseng dan Kakiang Tidak Dibayar
alunan gambus di Gili Gambus. Tampak Taufik Rahzen dan Wabup Sumbawa Drs H Mahmud Abdullah dan para seniman dunia
alunan gambus di Gili Gambus. Tampak Taufik Rahzen dan Wabup Sumbawa Drs H Mahmud Abdullah dan para seniman dunia

Berbagai kegiatan untuk mengisi di malam yang sepi dengan gundukan tenda-tenda perkemahan di salah satu bukit pulau tersebut. Perjalanan berlanjut ke Gili Ngali. Gili yang berjarak tidak terlalu jauh ini, mulai diwacanakan sebagai lokasi Sirkuit MotoGP500. Wacana ini semakin menggeliat setelah direspon positif Pemda Sumbawa dan Kementerian Pariwisata. Di pulau yang dulunya dikenal sebagai pusat kerajaan kuno yakni Ngali Siwa ini kembali para seniman menampilkan kepiawaiannya dalam berseni. Selain itu pidato nusantara oleh Ray Sahetapy. Menjelang sore rombongan hijrah dari Gili Ngali menuju Pulau Satonda. Di pulau ini digelar pertunjukan layaran film dan api unggun. Esoknya, Rabu (13/4) rombongan dijadwalkan menyambangi Labuan Kananga dan perkebunan kopi. Para seniman ini selain menghadiri pembukaan Museum Maritim oleh Bupati Bima yang dimeriahkan dengan performance art dari “Aku Bima, Ami Buka, Musik Srimara, dan Hiden Sound Otto Sidharta”. Mereka juga mengunjungi kebun kopi lalu pabrik kopi pukuk. Di tempat ini juga digelar Pabrik kopi pukuk  di akhiri Sarasehan Coffe Creative Camp.

Pulau Gambus
Pulau Gambus

Perjalanan ternyata masih panjang karena ada beberapa agenda penting yang harus dituntaskan. Sebab Kamis (14/4) rombongan harus tiba di Desa Pancasila. Desa ini dinamai oleh pemerintahan orde baru yang menjadikan Tambora sebagai salah satu tanah idaman bagi para transmigran. Dibangunlah berbagai kawasan pemukiman yang mengelilingi gunung Tambora, dan salah satu desa terbesarnya dinamakan Desa Pancasila. Di desa ini, digelar Pembukaan Pasar Rakyat dan Expo Karya Kreatif, Sosialisasi Destinasi Patiwisata Budaya, Karnaval dan Pertunjukan yang dibuka secara resmi oleh Bupati Dompu. Malamnya digelar Malam Multikultur yang menampilkan Srimara, Bambang Besur, Ayu Laksmi, dan musik local.
Jumat (15/4) pagi, diskusi terarah tentang Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata dengan menghadirkan Agus Hartono, Taufik Rahzen, Asfarinal, dan Nurdin Alimudin. Usai makan siang Seniman ZAT (Ziarah Tambora) melakukan perjalanan ke perkemahan Dorocanga. Pukul 14.00 mereka kembali untuk mengikuti Pasar Rakyat dan Expo Karya Kreatif. Acara lainnya adalah Karnaval Pesona Tambora dan Malam Pertunjukan atau Kawah Sastra. Masih di Dorocanga, acara berlanjut Sabtu (16/4) pagi dengan acara puncak Festival Pesona Tambora dan Pertunjukan World Music. Sorenya perjalanan menuju Bima, dan tiba di Kotamadya Bima, Minggu (17/4). Di kota administrative satu-satunya di Pulau Sumbawa, dilaksanakan Seminar Ziarah Tambora “Refleksi dan Aksi”. Kemudian Pameran Foto Dokumentasi ZAT Ziarah Tambora, Pertunjukan World Music. Gambus Bima, Kolaborasi Tapan dan Layaran Film. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD