TR: ZAT, Perjalanan Sejarah untuk Perpaduan Budaya

oleh -39 views

SUMBAWA BESAR, SR (11/04/2016)

Ziarah Tambora yang masih berlangsung hingga saat ini menjadi bagian dari Festival Pesona Tambora 2016. Perjalanan ini akan melewati dan menyinggahi 9 tempat dari Kuta Lombok hingga Kota Bima, menggelar 9 pertunjukan dan 5 seminar seni dan budaya. “Perjalanan ini bertujuan untuk melakukan pertemuan budaya dan silaturrahim, penciptaan kreatif dan merespon alam,” ungkap Budayawan Nasional, Taufik Rahzen sekaligus inisiator dari kegiatan besar ini.

Ketika Tambora Chalenge yang juga bagian dari Festival Tambora itu lebih menekankan aspek olaharga atau kekuatan fisik, raga, atau material, ungkap TR—sapaan akrab budayawan asli Sumbawa ini, maka Ziarah Tambora lebih pada aspek kultural, budaya dan rasa. Antara olahraga dan olahrasa ini dinilai sama-sama melakukan perjalanan.

Tapan Gili Ngali 8Disebutkan TR, perjalanan diikuti puluhan seniman nasional dan internasional, selain menikmati pesona alam Pulau Sumbawa juga menggelar pertunjukan, diskusi dan refleksi sejarah. Dari perjalanan ini, mereka ingin melihat seni-seni apa yang ada di dalam masyarakat untuk bisa disandingkan dengan seni-seni yang berasal dari berbagai negara ini. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat di daerah yang dikunjungi tidak merasa asing, sebaliknya mereka merasa didukung yang kemudian dengan sendirinya mengembangkan karya seninya. “Misalnya kegiatan Festival Semesta di Wisma Praja Sumbawa, ada gambus dari Tarano berkolaborasi dengan tim Billa dan Mustofa Daood. Aspek inilah yang penting bagi mereka. Sebab mereka saling berjumpa, bukan hanya belajar dari yang satu, tapi yang satu juga belajar dari yang lain,” sebut TR. Artinya para seniman dunia ini datang dan melakukan perjalanan bukan untuk menggelar konser atau sebuah pertunjukkan agar ditonton orang lain. Karena orang yang menonton mereka sekaligus juga yang ditonton. “Semuanya sama. Mereka ingin memperlihatkan betapa mudahnya berkarya. Saat mereka tiba, bertemu lalu memainkan karyanya, dan berkolaborasi dengan siapa saja,” jelas TR.

Baca Juga  Menteri KKP Disarankan Tidak Pilih Dirjen Bermasalah

Tapan Ngali 10Lalu apa konstribusi dari kegiatan tersebut jika dikaitkan dengan upaya pengembangan pariwisata khususnya di Pulau Sumbawa ? menurut TR, sudah pasti daerah yang dikunjungi para seniman dunia ini akan masuk dalam peta Maps Pariwisata. “Selama ini siapa sih yang mengenal Gili Tapan, Gili Gambus, dan Gili Ngali. Dengan kehadiran para seniman ini orang mulai berfikir kenapa orang ke sana dan jenis kegiatan apa yang perlu ada. Inikan samasekali belum pernah terbuka. Sekarang karya seniman ditempelkan di pulau-pulau itu, seperti perahu batu, ada masjid lama dirubah menjadi museum, kemudian ada karya-karya pertunjukan,” beber TR.

Selain itu pulau atau tempat yang disinggahi langsung menjadi destinasi, tanpa harus direncanakan meski dengan keterbatasan yang ada. Sebab orang bisa datang melihat secara langsung dan meresponnya. “Lihat saja respon para seniman ini, mereka tidak menyangka apa yang dilihat dan dirasakannya, bukan hanya pesona alamnya, tapi juga antusias dan keramahan masyarakat dalam menyambut mereka. Inilah yang saya maksudkan itu, orang datang langsung lalu meresponnya,” demikian TR. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.