Populasi Kerbau Kritis, Harus Ada Langkah Penyelamatan

oleh -15 views

SUMBAWA BESAR, SR (29/03/2016)

Populasi ternak kerbau dari tahun ke tahun di Kabupaten Sumbawa terus mengalami penurunan. Padahal kerbau merupakan ternak asli Sumbawa dan lebih dulu ada daripada sapi. Namun ironisnya, pemerintah daerah melalui dinas terkait lebih cenderung mendorong pengembangan sapi daripada kerbau. Padahal secara ekonomis, ternak kerbau jauh lebih menguntungkan daripada sapi. Selain harganya yang lebih mahal, masyarakat mendapat nilai tambah dari peternakan kerbau, salah satunya pendapatan dari susu kerbau (jadi, Red).

Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag yang juga praktisi kerbau, mengakui keberadaan kerbau di Sumbawa kian kritis. Upaya sudah dilakukan di antaranya menjalin kerjasama dengan pemerintah Italia, yang salah satu implementasinya adalah keberadaan UPTD kerbau di Kecamatan Maronge yang tujuannya sebagai pilot project tata kelola peternakan kerbau. Selain itu UPTD juga menjadi pusat riset untuk mengatasi rendahnya angka kelahiran dan tingginya angka kematian kerbau karena tata kelola beternak kerbau selama ini dilakukan secara tradisional. UPTD juga menjadi tempat untuk menangani penyakit atau masalah-masalah yang sering dialami oleh peternak kerbau seperti Antrax, SE, flu, cacing, dan lainnya. Namun demikian keberadaan UPTD harus didukung dengan adanya intervensi program dari pemerintah daerah melalui leading sector terkait. Untuk meningkatkan populasi kerbau, dapat dilakukan dengan cara mengadopsi program Bumi Sejuta Sapi (BSS) menjadi Bumi Sejuta Kerbau (BSK). Sebab meski tanpa BSS, populasi sapi terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Harus ada program khusus untuk menanggulangi penurunan populasi kerbau yaitu mengadopsi program BSS, dengan target 1 juta ekor setiap 10 tahun,” ucapnya kepada SAMAWAREA, Senin (28/3) kemarin.

Baca Juga  Wagub NTB Apresiasi Program Merdeka Belajar Jarak Jauh PT Telkomsel
Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag
Wakil Ketua DPRD Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag

Selain BSK, lanjut Haji Ilham, bagaimana merubah pola pikir masyarakat tentang memelihara kerbau, dari yang hanya pendapatan sampingan menjadi pendapatan utama. Selama ini masyarakat menganggap memelihara kerbau lebih sulit daripada sapi. “Padahal tidak, memelihara kerbau untungnya berlipat-lipat daripada sapi,” katanya.

Nilai tambah itu antara lain adalah kerbau barapan. Ketika telah mengikuti event barapan kebo dan menjadi juara atau telah memiliki nama, harganya bisa mencapai 300 kali lipat dari biasanya. Kerbau barapan yang berumur 1—2 tahun saja harganya sekitar Rp 15 juta—20 juta per ekor. “Kalau sapi biar dipelihara sampai 30 tahun harganya segitu-segitu saja,” ujar Haji Ilham.

Keuntungan kedua, adalah produksi susu untuk industri hilir, bisa dijadikan palopo (penganan khas Taliwang), dan Permen Jadi. Selama ini produksi susu kerbau sangat minim padahal kebutuhan sangat besar. Karena minimnya produksi ini, menyebabkan susu kerbau sebagai bahan pembuat permen jadi di Kecamatan Moyo Hilir. “Kalau sudah banyak orang barapan, banyak orang produksi jadi, sudah banyak industri hilirnya, maka secara berangsur-angsur masyarakat beralih dari memelihara sapi ke memelihara kerbau, karena nilai ekonomisnya lebih tinggi,” demikian Haji Ilham. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.