Nelayan Badas Keluhkan Keberadaan Rumpon

oleh -26 views

SUMBAWA BESAR, SR (01/03/2016)

Rumpon dalam bahasa kelautan adalah karang buatan yang dibuat oleh manusia dengan tujuan sebagai tempat tinggal ikan. Rumpon merupakan rumah buatan bagi ikan di dasar laut yang dibuat secara sengaja dengan menaruh berbagai jenis barang di dasar laut secara kontinyu.Rumpon ikan di berbagai lokasi dibuat dengan memasukkan benda-benda seperti ban, dahan dan ranting dengan pohonnya sekaligus ke dalam laut. Benda tersebut dimasukkan dengan diberikan pemberat berupa beton, batu–batuan dan lainnya sehingga posisi dari rumpon tidak bergerak karena arus laut. Benda yang dimasukkan ke dalam laut dapat terus ditambah secara kontinyu untuk menambah massa rumpon.

Namun maraknya rumpon yang lepas kendali ini dikeluhkan karena menilai sangat berdampak langsung bagi para nelayan tradisional khususnya di Perairan Teluk Badas Kecamatan Labuhan Badas. “Ikan-ikan semakin kecil dan sedikit,” kata Febriyan Anindita SH—Pendamping Hukum Forum Nelayan Tradisional (Frontal) Labuhan Sumbawa, kemarin.

Jika ini terus dibiarkan tanpa ada pengaturan, ungkap Iyan—akrab ia disapa, masa depan generasi mendatang terancam tidak lagi menikmati jenis-jenis ikan yang dulunya berlimpah di perairan ini. Untuk diketahui, kegiatan usaha penangkapan ikan di Kabupaten Sumbawa seluruhnya dilakukan oleh nelayan dengan alat tangkap skala kecil. Menurut data dari Balai Riset Perikanan Laut terdata jumlah nelayan 6.749 orang (3.199 di antaranya rumah tangga perikanan). Dengan armada yang tersedia, produksi menjadi berorientasi pada wilayah pesisir dengan waktu tangkap antara 8-10 bulan per tahun, di mana kisaran trip penangkapan antara 20-25 hari/bulan.

Baca Juga  Bupati Apresiasi Kementan Dorong Produk Sumbawa Tembus Pasar Mancanegara
Febriyan Anindita SH, Pendamping Hukum Frontal
Febriyan Anindita SH, Pendamping Hukum Frontal

Terhadap kondisi tersebut, Senin (29/2) beberapa perwakilan Forum Nelayan Tradisional (Frontal) Labuhan Sumbawa mendatangi Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sumbawa. Mereka menggelar pertemuan di ruang keopala dinas setempat untuk menyampaikan keluhan nelayan tradisional terkait keberadaan rumpon di Perairan Teluk Badas. “Keberadaan rumpon dalam kurun waktu 3 tahun terakhir sangat berdampak bagi hasil tangkapan nelayan tradisional yang hanya menggunakan alat tangkap seadanya,” ungkap Iyan.

Keberadaan rumpon sudah mengkapling wilayah perairan Sumbawa yang semestinya diperuntukkan bagi publik khususnya nelayan tradisional. Dan tidak jarang terjadi pencurian ikan yang berasal dari kapal tangkap asal luar daerah. Ia meminta ketegasan pemerintah untuk menindak dan menghentikan segala aktivitas rumpon yang selama ini belum diatur lebih lanjut sebagaimana amanat Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 26 tahun 2014 tentang Rumpon. Dalam pasal 8 ayat 4 mengatakan bahwa kewenangan pemerintah daerah dalam menerbitkan izin rumpon harus diatur dengan Peraturan Daerah (Perda). “Kami menilai, meskipun pernah ada izin yang pernah diterbitkan Pemda, itu illegal karena aturan turunan belum lahir yang mengatur akan tata cara keberadaan rumpon di Kabupaten Sumbawa,” demikian Febriyan. (Iyan)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.