Netizen Prihatin Konstruksi Bangunan IGD RSUD Sumbawa

oleh -28 views
Gedung IGD RSUD Sumbawa

Serahkan pada Ahlinya

SUMBAWA BESAR, SR (24/02/2016)

Ambruknya plafon Instalasi Gawat Darurat RSUD Sumbawa yang baru dibangun, mendapat sorotan beragam dari para netizen. Tidak sedikit yang bernada sinis dan menyesalkan hal itu terjadi, dan sebagiannya lagi memberikan masukan.

Salah satunya, Wirawan Ahmad, menilai bahwa banyak kasus yang dihadapi SKPD sebenarnya berasal dari masalah yang berada di luar tupoksi sebenarnya. Utamanya adalah pada urusan “bangun membangun” gedung kantor dan fasilitas umum lainnya. Diknas biasanya berurusan dengan urusan pembangunan sekolah. Dikes biasanya berurusan dengan urusan pembangunan Puskesmas. SKPD lain biasanya berurusan dengan urusan pembangunan kantor. Masalah itu akan terus terjadi karena kompetensi pengelola proyek baik itu PPK ataupun PPTK yang ada di SKPD tersebut memang tidak cakap dalam urusan bangun-membangun. “Pernyataan saya mungkin bisa didebat dengan mengemukakan alasan bahwa urusan perencanaan dilaksanakan konsultan, pelaksanaan dilaksanakan kontraktor dan urusan pengawasan juga dilakukan konsultan. Betul, tetapi akan jauh lebih baik jika empat pihak yang bertanggung jawab pada satu proyek pembangunan yakni Pengguna Anggaran/KPA, PPK, Panitia pengadaan dan Panitia Penerima Hasil Pekerjaan memiliki kompetensi teknis dan manajerial yang memadai pada urusan “bangun membangun” ini,” kata Wirawan melalui postingan di akun facebooknya. Sebelum jatuh banyak korban, lanjut Wirawan, baik korban dari sisi hukum maupun dari sisi kualitas bangunan, kembalikan urusan “bangun membangun” ini pada khittahnya yakni dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum. Tugas PU memang membangun infrastruktur dan Fasum. “Biarkan PU membangun, SKPD tinggal terima jadi,” tukasnya lagi. Biarkan manajemen RSUD fokus kepada pelayanan pasien, Diknas mengurusi manajemen pendidikan, Dikes mengurusi perbaikan pelayanan kesehatan dan SKPD lain mengurusi urusan pokoknya masing-masing.

Baca Juga  Lahirkan Pahlawan Kemanusiaan, PT SJR/PAMA Gelar Donor Darah

Plafon IGD 1Postingan ini mendapat respon dari netizen lainnya. Misalnya Ritha Asdin yang menilai ide dan gagasan Wirawan benar, terukur dan mendasar. Suhartono juga sependapat dengan Wirawan. Suhartono yang berprofesi sebagai bankir di BUMN ini mengaku pernah berpengalaman di bidang pengadaan ketika bertugas di Kantor Wilayah Denpasar. “Kalau di perusahaan saya, pengadaan bangunan dilakukan oleh unit khusus dan berjenjang berdasarkan nominal.
Kalau untuk membangun gedung kantor cabang, dilakukan oleh Divisi Umum di Kantor Pusat yang memang memiliki civil engineer dan kompetensi dalam pengadaan bangunan gedung,” jelasnya. Sedangkan untuk membangun ruangan ATM, lanjut Suhartono, bisa dilakukan oleh Unit Umum di Kantor Cabang yang kini dipimpinnya, karena nominalnya tidak terlalu besar dan spesifikasinya tidak terlalu rumit. Kewenangan nominal memutusnya pun berjenjang. Kantor Cabang kelas 3 hanya diperkenankan memutus pengadaan maksimal Rp 100 juta. Sedangkan sampai dengan Rp 1 Milyar ada di Kantor Wilayah. Di atas itu, kewenangan memutus pengadaan ada di kantor pusat. Dengan kewenangan memutus berjenjang seperti itu saja, masih saja ada permasalahan yang terjadi, apalagi jika pengadaan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kompetensi yang cukup. “Dapat dikatakan bahwa jika di pengadaan, jujur saja belum cukup. Pelaksana Pengadaan harus tahu detail ketentuan/peraturan umum dan khusus. Termasuk harus tahu, apakah kita dikadali oleh kontraktor atau bahkan oleh pengawas proyek, yang mestinya berada di sisi pemilik proyek,” papar Suhartono dengan cerdasnya.

Baca Juga  Pelayanan RSUD Asy-Syifa Membuat Pasien Puas dan Nyaman

Seperti diberitakan SAMAWAREA, plafon gedung baru Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Sumbawa seketika ambruk. Beruntung saat kejadian situasi sepi karena tidak ada orang atau pekerja. Ambruknya sebagian plafon bangunan megah itu sungguh ironis. Pasalnya bangunan itu baru dibangun dan belum diserahterimakan meski secara kasat mata pengerjaannya sudah tuntas. Menurut pekerja setempat, plafon yang berada di bagian teras ini ambruk akibat hujan yang mengguyur kemarin malam. Diduga kuat air itu masuk melalui atap yang bocor lalu mengendap di plafon. Makin lama beban kian berat membuat plafon tak mampu menahannya hingga akhirnya amruk. Celakanya lagi ambruknya plafon bukan yang pertama tapi sebelumnya sudah dua kali terjadi. Patut diduga pengerjaannya secara asal-asalan. Jika dibiarkan maka bangunan megah yang menghabiskan dana miliaran rupiah ini tidak bisa bertahan lama, bahkan dikhawatirkan akan menimbulkan korban jiwa jika ambruk, dan korban tindak pidana jika terjadi penyimpangan dalam pengerjaannya. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD