Haji Saat Merasa Tidak Dianggap Sebagai Orang Sumbawa

oleh -3 views

Tidak Diundang Peringatan HUT Sumbawa

SUMBAWA BESAR, SR (22/01/2016)

Upacara HUT Kabupaten Sumbawa ke-57 di Kantor Bupati Sumbawa, Jumat (22/1), terlihat janggal. Dari deretan tamu undangan tidak terlihat calon bupati dan wakil bupati dari pasangan SAAT JAYA dan JIWA. Muncul tanda tanya apakah ketidakhadiran ini karena keengganan atau memang tidak diundang. Bahkan beberapa tokoh Sumbawa yang selama ini tidak pernah absen menghadiri undangan HUT Sumbawa juga tidak terlihat, seperti Sambirang Ahmadi S.Ag M.Si (mantan Ketua PKS Sumbawa), H Sadaruddin S.Sos (mantan pejabat Pemda), dan Inderson LA (mantan Anggota DPRD Sumbawa).

Menanggapi hal itu mantan Calon Bupati Sumbawa, H Asaat Abdullah ST dalam jumpa persnya, Jumat (22/1), menyampaikan permohonan maaf karena tidak hadiri HUT Sumbawa. Ketidakhadirannya bukan karena disengaja atau karena keengganan, tapi karena memang tidak diundang. Menurut etika, haram hukumnya hadir jika tidak diundang. Ia mengaku sangat menyesalkannya, sedih dan terpukul. “Saya kalah dalam Pilkada tidak pernah meneteskan air mata. Tapi ketika tidak bisa menghadiri hari ulang tahun daerah tercinta ini karena tidak diundang, saya menangis,” ucap Haji Saat—sapaan akrab mantan birokrat yang pernah mengabdikan diri membangun Sumbawa selama 37 tahun, 4 tahun 6 bulan menjadi Kadis PU dan menjadi calon bupati.

Ternyata imbas Pilkada masih terasa. Ia mengira usai Pilkada semuanya tuntas tidak ada lagi perbedaan mana lawan politik dan tim sukses, karena secara legowo semua menerima siapa bupati dan wakil bupati Sumbawa terpilih. Bahkan dia adalah orang pertama yang menyampaikan ucapan selamat kepada HUSNI MO jauh sebelum ditetapkan KPU. Dengan sikap lapang dada, Ia tidak pernah berniat melakukan aksi atau menggugat hasil Pilkada. Dia juga mendorong simpatisannya untuk menerima dan mendukung calon terpilih. Hal ini dilakukan karena tercintaannya terhadap Sumbawa, agar daerah ini tetap kondusif dan proses demokrasi berjalan dengan baik, di samping menjaga kebersamaan masyarakat yang sempat terkotak-kotak untuk melebur dan memiliki pemimpin yang satu bagi pembangunan Tana Samawa. Namun kenyataan dan harapannya justru berkata lain. Upaya pengkotak-kotakan masyarakat masih terpelihara. Orang yang berseberangan dikucilkan, sebagaimana dialaminya saat ini yang merasa tidak dianggap sebagai masyarakat Sumbawa. Ia menyaksikan bagaimana pihak tertentu termasuk oknum di birokrasi yang mencoba mengadu domba antara diri dan simpatisannya dengan bupati dan wakil bupati terpilih. Terkesan ada pihak yang ingin merusak kemesraan dan kebersamaan yang coba dibangun Bupati dan Wakil Bupati terpilih dengan merangkul lawan politik agar stabilitas pemerintahan mendatang bisa berjalan dengan baik. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan. Ia yang selama ini diam dan berniat untuk beristirahat panjang, tergugah untuk bangkit agar tidak diremehkan.

Baca Juga  1 April Logistik Pemilu Didistribusikan

Di hari ulang tahun Sumbawa ini ia hanya berpesan kepada pemimpin mendatang untuk tetap memelihara prilaku dan budaya Tau Samawa yang saling beme, saling satingi, egaliter dan menghargai perbedaan. Ia juga ingin mengucapkan Dirgahayu Kabupaten Sumbawa. “Meski saya tidak diundang upacara peringatan HUT Sumbawa, saya ucapkan selamat ulang tahun untuk Sumbawaku, Sumbawamu dan Sumbawa kita bersama,” pungkasnya. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD