Dikes Sumbawa Berhasil Tekan AKI

oleh -15 views

SUMBAWA BESAR, SR (29/12/2015)

Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Sumbawa pada Tahun 2015 ini mengalami penurunan. Bahkan penurunan tersebut sesuai target yang ditetapkan. Ini tidak terlepas dari kerja keras para bidan. Kepala Seksi Kesehatan Ibu Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, HJ Nur Atika SST menyebutkan taget AKI pada Tahun 2015 di bawah angka 10. Dalam catatan hingga akhir Tahun 2015 ini, AKI hanya 9 orang yang artinya telah memenuhi target yang telah ditetapkan. Angka ini juga menurun jika dibandingkan Tahun 2014 lalu yang mencapai 15 kasus. “Target MDG’s 102 per 100 ribu kelahiran hidup. Kalau dikonversikan kita sudah mencapai MDG’s,” sebutnya.

Menurunnya angka kematian ibu, ungkap Hj Nur Atika, mempengaruhi IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat). IPKM Sumbawa yang sebelumnya di posisi di atas 300 kini meningkat menjadi urutan 102 dari 500 kabupaten/kota di Indonesia. Tolok ukurnya di antaranya angka kematian ibu, kesehatan reporoduksi, imunisasi dasar, dan lainnya. Kondisi ini patut disyukuri dan apa yang telah dicapai harus direfleksikan. Tentunya segala hal yang dianggap belum maksimal dievaluasi melalui doa dan dzikir bersama yang digelar belum lama ini. Pencapaian ini juga karena bidan sebagai ujung ombak pelayanan telah melaksanakan tugasnya dan programnya dengan baik. Seperti membangun jaringan (pemantapan system rujukan). Dengan memantapkan sistemnya tidak ada lagi yang saling menyalahkan sebagaimana yang terjadi selama ini. Misalnya dari puskesmas rujuk ke rumah sakit. Ketika muncul persoalan, kesannya rumah sakit kerap menyalahkan puskesmas dengan alasan terlambat dan sebagainya. Karenanya bidan di puskesmas dan rumah sakit telah memiliki komitmen bersama untuk menangani sebuah kasus. “Untuk kasus-kasus komplikasi harus segera dirujuk. Ada juga yang terencana yang jauh-jauh hari sudah harus dirujuk untuk mengurangi kepanikan pada proses rujukan,” ungkap Hj Atika.

Baca Juga  Gerak Cepat, Gubernur Bantu Bocah Pengidap Sindrom Selaput Otak
Hj Nur Atika SST bersama para bidan
Hj Nur Atika SST bersama para bidan

Diakui Hj Atika, banyak masalah rujukan bukan karena kesalahan teknis (medis) melainkan non medis yang berkaitan dengan identitas kependudukan pasien. Bidan sudah berusaha mendaftarkan pasien menjadi peserta BPJS tapi terkendala dengan identitas kependudukan seperti tidak memiliki KTP dan KK yang menjadi persyaratan mutlak BPJS. Meski demikian masalah administrasi ini adalah persoalan kesekian, karena yang diutamakan adalah nyawa pasien. Memang diakui Hj Atika, untuk menangani ibu hamil dan melahirkan  dari kalangan tidak mampu diakomodir dalam program Jampersal. Tapi untuk Tahun 2015, program tersebut tidak ada dan pemerintah daerah sudah mengantisipasi dengan mengalokasikan dana bansos sebesar Rp 600 juta untuk menanggulangi warga yang tidak memiliki KTP atau KK, meski jumlahnya melebihi jumlah pasien yang membutuhkan penanganan. Ke depan kondisi ini dapat teratasi karena pemerintah pusat berencana untuk kembali meluncurkan Program Jampersal Tahun 2016. Dan pada Tahun 2016 ini juga, Dikes Sumbawa menargetkan AKI di bawah 7 kasus. Untuk mencapai hal tersebut, kendala di lapangan akan diinventarisir dan diatasi. Misalnya akses dari daerah terisolir ke pusat pelayanan kesehatan yang jaraknya sangat jauh dan sulit dijangkau sehingga terlambat dalam perjalanan menyebabkan kondisi ibu hamil yang dirujuk bertambah parah hingga menyebabkan kematian. Dengan dana Jampersal nanti, dialokasikan untuk rumah tunggu kelahiran (RTK) atau semacam rumah singgah guna memperpendek jarak dan mempercepat penanganan. “RTK ini tersebar di 24 kecamatan. Kemarin sudah dibentuk RTK Ropang, Lunyuk, Orong Telu, Batu Lanteh, Labuan Badas, dan Tarano. Sejumlah kecamatan ini dinilai memiliki akses yang sangat sulit,” demikian Hj Atika. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD