Ahli Budaya Bela Fud Syaifuddin

oleh -11 views

SUMBAWA BESAR, SR (17/12/2015)

Keterangan Ahli Bahasa dari Kantor Bahasa NTB Kementerian Pendidikan RI, Kasman, cukup memberatkan posisi Fud Syaifuddin sebagai terdakwa kasus tindak pidana pemilu (Tipilu) yang disidangkan di PN Sumbawa Besar, Kamis (17/12). Bayangkan ada tiga unsur yang dikemukakan ahli bahasa ini yang dapat menjerat terdakwa yaitu penghinaan, ancaman dan fitnah. Terhadap hal ini Fud—sapaan akrab terdakwa, keberatan. Selain membantah kesimpulan Ahli Bahasa itu, Calon Wakil Bupati KSB terpilih ini mengajukan saksi meringankan yaitu Ahli Budaya, Agus Irawan dan saksi yang mengetahui keterlibatan Penjabat Bupati Abdul Hakim dengan salah satu pasangan calon, H Mustar.

Dalam kesaksiannya, Agus Irawan mengutip petikan pernyataan terdakwa Fud dalam kampanyenya. Dalam pernyataan itu ada kata “Salega” (Bahasa Sumbawa) yang sebelumnya diartikan dengan kata “hajar”. Menurut Agus, kata “Salega” itu artinya memaksimalkan sehingga pengertian ‘hajar’ itu sangat berlebihan. Agus memberikan contoh kalimat Bahasa Sumbawa “Ma mo tu mangan basalega” yang artinya “Ayo kita makan sepuas-puasny, yang bermakna mengingatkan. Ada juga kalimat yang artinya “Dia itu orang Cina”. Dalam terminologinya adalah menyatakan keterangan tempat, dan kata ‘Cina’ bukanlah hal yang tidak baik. Agus pun membacakan lawas (pantun khas Sumbawa) yang maknanya untuk belajar dengan orang Cina. Karena orang Cina memiliki keuletan dan etos kerja yang tinggi. Selain itu juga Abdul Hakim secara genetik juga keturunan orang Cina. Terkait unsur ancaman, Agus menyatakan tidak kalimat dari kampanye Fud yang mengandung unsur tersebut karena dalam pernyataannya terdakwa hanya mengingatkan. “Sesuatu baru dikategorikan ancaman apabila perkataan itu dilontarkan saat saling berhadapan,” jelasnya.

Baca Juga  Komisi I Nilai Pengadaan Tanah Segitiga Bulat Tidak Rasional

Saksi lainnya adalah H Mustar. Di hadapan majelis hakim dan JPU, Ia mengaku pernah dihubungi bawahan Abdul Hakim. Mustar diminta bertemu Abdul Hakim di Pendopo. Setelah sampai di Pendopo, seorang anggota DPRD KSB juga tiba yang meminta Mustar mendukung pasangan calon tertentu. Ajakan senada juga disampaikan Penjabat Bupati Abdul Hakim di Pendopo.

Sementara itu terdakwa mengaku menggunakan kata Cina tidak bermaksud mendiskriminasi. Dia menggunakan kata tersebut karena menganggap orang Cina adalah orang yang cerdas. Kemudian kata ‘hati-hati’ ditujukan untuk masyarakat agar tidak terpengaruh mengingat Abdul Hakim diindikasikan terlibat dengan salah satu pasangan calon. ‘’Orang Cina itu pintar. Saya harus hati-hati karena saya ingin menang dalam Pilkada ini,” ulasnya. Di bagian lain keterangannya terdakwa mengaku sudah mncoba berdamai dengan Abdul Hakim dengan menghubungi salah seorang bawahan Abdul Hakim agar dapat bertemu langsung dengan penjabat bupati tersebut untuk saling memaafkan. Setelah mendengar keterangan dari para saksi dan terdakwa, Majelis Hakim menutup sidang dan akan dilanjutkan besok dengan agenda tuntutan JPU. (JEN/SR)

 

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.