Adopsi Konsep BSS untuk Peningkatan Populasi Kerbau

oleh -0 views

SUMBAWA BESAR, SR (06/12/2015)

UPTD Kerbau Sumbawa Bersinergi yang baru saja diresmikan dan dijadikan Laboratorium sekaligus pusat riset kerbau nasional, diharapkan dapat meningkatkan populasi kerbau yang setiap tahunnya mengalami penurunan. Sebab melalui UPTD ini, akan terjadi sinergisitas antara peternak, perguruan tinggi dan pemerintah dalam rangka penyediaan sarana prasarana serta kebijakan strategis. Demikian diungkapkan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, H Ilham Mustami S.Ag saat ditemui SAMAWAREA usai mendampingi Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI meresmikan UPTD Kerbau di Kecamatan Maronge, Sabtu (5/12) kemarin.

Sinergisitas antar para pihak ini juga sangat penting dalam pengelolaan pakan, kesehatan hewan dan ketersediaan air. Mengingat saat ini pakan semakin sulit, potensi air makin berkurang dengan bertambahnya areal pertanian yang mengancam dan makin menyempitkan lahan gembala. Meski bernilai tinggi, namun pemeliharaan kerbau lebih sulit, sehingga masyarakat banyak yang beralih untuk memelihara sapi. Solusinya mengusahakan bagaimana sumber pakan yang selama ini tidak terpakai dan tidak dimanfaatkan seperti jerami dan limbah jagung bisa diolah menjadi pakan bernilai tinggi untuk memenuhi pakan kerbau.

Diakui Haji Ilham—sapaan akrab politisi Hanura ini, angka kelahiran kerbau sangat rendah dan angka kematian bayi kerbau sangat tinggi. Pasalnya perubahan cuaca yang cukup ekstrim membuat kondisi kerbau dalam kondisi kurus, daya tahan menurun dan rentan terhadap penyakit. “Ini salah satu yang akan diklirkan dengan Keberadaan UPTD kerbau,” tandasnya.

Baca Juga  Pengadaan Tanah Pembangunan Tower di Empat Titik Selesai !

Yang paling penting adalah merubah pola fikir masyarakat yang selama ini masih menganggap beternak kerbau sebagai mata pencaharian sampingan dan pertanian sebagai pencaharian utama. Padahal di NTB, nilai tukar petani terhadap padi hanya 0,8 persen dan jagung 1,1 persen. Sedangkan ternak 2,1 persen. Hal ini membuktikan beternak sangat menguntungkan dibandingkan yang lain. Jika semuanya sudah terpenuhi baik pakan, kesehatan dan pola pikir masyarakat berubah, Haji Ilham optimis dengan sinergisitas di UPTD kerbau, populasi kerbau dalam tiga tahun akan meningkat. Sebaliknya jika ini tidak dilakukan maka kerbau di Sumbawa hanya tinggal nama.

Di bagian lain Haji Ilham memuji sisi positif program bumi sejuta sapi (BSS). Karena itu untuk jangka panjang, konsep BSS bisa dikombinasikan dengan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) yang merupakan lembaga perkumpulan saling memberikan manfaat dari sarana hingga penjualan. Sebab tak dipungkiri populasi sapi melalui BSS ini meningkat signifikan. “Konsep ini bisa diadopsi untuk mengembangkan kerbau di Sumbawa,” sarannya.

Sedangkan untuk jangka pendek, UPTD menyiapkan sarana pengepakan pakan jerami dan jagung serta alat pemotongan yang bisa digunakan oleh peternak. Jerami dibawa ke laboratorium, dilakukan pengepakan lalu disimpan di dalam gudang pakan. Upaya ini dinilai cukup efisien untuk pengembangan kerbau dalam tahap awal. Karena itu Ia berharap dukungan pemerintah propinsi maupun pusat untuk tetap mempertahankan posisi Sumbawa sebagai kabupaten kerbau, melalui bantuan bibit dan sarana prasarana. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD