Perjalanan Rektor UTS: Menghargai Pencapaian dan Efisiensi Kerja (1)

oleh -33 views

Catatan Harian Mengikuti “Innovation Systems and Science Park Managemet” di Lund University, kota Lund Swedia (27 November–10 Desember 2015)

SWEDIA, SR (27/11/2015)

Hari Kamis dini hari, pukul 00.45 Pesawat Qatar Airways, membawa 24 orang rombongan peserta pelatihan Innovation Systems and Science Park Management terbang ke Stokcholm, melalui transit di Kota Doha, Qatar. Pelatihan ini adalah inisiatif dari BPPT sebagai salah satu penerima program pembangunan 100 STP (Science Technopark) se-Indonesia yang merupakan program dari Presiden Joko Widodo. Ibu Dr. Yenni Bakhtiar dari BPPT sebagai Ketua Rombongan menjelaskan bahwa BPPT berminat melakukan pelatihan ini karena pernah mendapat kunjungan dari manajemen Ideon Science Park milik Lund University. Sementara dana pelatihan diambil dari proyek Rispro Kemenristek-Dikti di bawah Direktur Kualifikasi SDM, DITJEN SD IPTEK-DIKTI . Maka tak heran sebagian besar peserta berasal dari BPPT, dan sebagian lagi dari Kemenristek-Dikti yang juga mengundang perwakilan dari STP yang digawangi oleh Kemenristek-Dikti. Saya hadir sebagai Rektor Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) mewakili STP Sumbawa.

Oleh Arief Budi Witarto, Ph.D. 
Rektor Universitas Teknologi Sumbawa 
Email, rektor@uts-sumbawa.ac.idwitarto@gmail.com

Menghargai Pencapaian

Setelah hampir 24 jam di perjalanan yang cukup melelahkan, rombongan tiba dengan selamat di bandara Arlanda, kota Stockholm, Ibukota Swedia. Bagi para ilmuwan, Stockholm adalah kota yang jadi idaman karena setiap tahun, di sini diumumkan dan diberikan penghargaan Nobel di bidang Kimia, Fisika dan Kedokteran, yang merupakan puncak dari penghargaan ilmiah di dunia sampai saat ini. Di bandara Arlanda yang merupakan gerbang utama ke Swedia inilah saya merasakan benar bahwa bangsa ini benar-benar menghargai pencapaian warganya.

Apabila kita tiba di bandara-bandara di Indonesia, umumnya yang kita lihat adalah iklan komersial dengan wajah-wajah artis sebagai penghiasnya. Baru pertama kali ini saya melihat bandara yang dindingnya diisi oleh foto besar wajah-wajah tokoh masyarakat Swedia. “Stockholm Hall of Fame” sebutannya berada di tempat pengambilan bagasi sehingga pasti dilihat seluruh tamu dari berbagai penjuru dunia – sebuah pemilihan tempat yang cerdas. Selain Alfred Nobel tentunya, foto wajah atlet tenis Bjorn Borg sampai atlet sepakbola Zlatan Ibrahimovic terpampang di sini. Juga berbagai kalangan yang kurang dikenal di Indonesia tapi tenar dan dibanggakan oleh warga Swedia mulai dari pengusaha, pejuang sosial kemasyarakatan, sastrawan dan aktor/aktris. Ketika sampai di bandara lokal di kota Malmo, Ibukota provinsi Skania, hal yang sama juga saya lihat. Walau bukan di tempat pengambilan bagasi, ada satu bagian dinding bandara yang dihiasi oleh foto-foto wajah para “pahlawan” masyarakat, kebanggaan provinsi Skania. Zlatan Ibrahimovic ternyata juga berasal dari provinsi ini karena fotonya terpampang di situ.

Baca Juga  Dermaga Sandar Pantai Pink Baik untuk Wisatawan dan Pariwisata

Saya jadi teringat artikel opini pengajar ITB, Acep Iwan Saidi yang dimuat di Harian Kompas (17.11.2015) berjudul “Professor dan Absurditas” yang menceritakan pengalaman penulis mengunjungi sebuah Pusat Riset di sebuah Universitas di India. Alih-alih dipenuhi dindingnya dengan foto para pejabat Rektor/Dekan selama ini seperti lazimnya di Perguruan Tinggi Indonesia, tapi malah di India, dinding itu diisi dengan foto-foto para “pahlawan” ilmu pengetahuan dari Albert Einstein, dsb. Pengajar ITB itu kemudian menjadikan ini suatu pelajaran bahwa para pengajar Perguruan Tinggi harus lebih dihargai karyanya daripada jabatan Dekan/Rektor dengan cara memajangnya fotonya bila menghasilkan karya-karya luar biasa.

. Stockholm Wall of Fame di Bandara Airlanda, Stockholm, Swedia (foto asli penulis)
Stockholm Wall of Fame di Bandara Airlanda, Stockholm, Swedia (foto asli penulis)

Tidak kebetulan, tapi karena pemahaman yang sama, sejak menjadi Dekan Fakultas Teknobiologi UTS, saya sudah membuat “Wall of Fame” seperti itu. Di ruang kelas Prodi Bioteknologi, saya memajang prestasi para mahasiswa maupun dosen. Mulai dari artikel yang ditulis mahasiswa di harian Kompas, sampai profil dosen yang juga ditulis oleh media massa, dan sertifikat penghargaan yang sudah dicapai baik oleh mahasiswa maupun dosen. Tidak setengah-setengah, pigura yang digunakan pun, berwarna emas, dengan bentuk ukiran dan dibawa langsung dari Jakarta karena di Sumbawa masih jarang. Cara ini saya lakukan untuk memberi motivasi kepada generasi mahasiswa berikutnya, bahwa siapa berkarya bisa dilihat oleh seluruh orang. Oleh karena itu, pemilihan dindingnya juga di tempat yang akan dilihat oleh seluruh sivitas Prodi Teknobiologi.

Cara ini nampak sederhana, tapi saya lihat masyarakat Swedia konsisten menggunakannya – minimal di dua bandara yang saya lihat. Bisa jadi inilah cara mereka menghargai warganya, tidak hanya yang sudah meninggal sebagai pahlawan perang seperti lazimnya di Indonesia, tapi siapa pun yang masih hidup dan jadi idola serta dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Dalam konteks STP, sudah jelas ini sangat relevan karena Technopark Sumbawa yang berfokus pada hilirisasi hasil penelitian, penghargaan kepada para pekerja kreatif yang menghasilkan produk baik barang maupun jasa, menjadi kunci kesuksesan.

Efisiensi Kerja

Ada 21 provinsi di Swedia dan provinsi Skania adalah salah satunya yang berpenduduk sekitar 1,2 juta, sementara Kabupaten Sumbawa punya penduduk sekitar 1/3-nya saja. Jumlah penduduk kota Lund – salah satu kota di Provinsi Skania – dimana Lund University berada adalah sekitar 82 ribu orang, kira-kira setara dengan penduduk Kecamatan Sumbawa.  Untuk luas wilayah, Provinsi Skania memiliki luas 11 ribu km2, sementara Kabupaten Sumbawa sekitar 6,6 ribu km2. Sementara rata-rata pendapatan masyarakat (GDP per-kapita) Provinsi Skania sekitar Rp. 43,5 juta/bulan, sedang untuk penduduk provinsi NTB sekitar Rp. 1 juta/bulan saja. Dari mana muncul perbedaan yang sangat mencolok itu?

Baca Juga  TK Sari Asih dan SDN Kerato Tembus Nasional  

Gambar 2. Anjungan check-in mandiri dan bagasi mandiri – dibelakang alat ini – di bandara Arlanda, Stockholm (Foto asli oleh penulis)

Untuk sementara ini saya melihat salah satu penyebab utama adalah “efisiensi kerja”. Ketika berada di Bandara Internasional Hamad di kota Doha untuk transit, ada banyak pekerja di berbagai posisi, termasuk di toilet yang terus menunggui dan segera membersihkan setelah dipakai – persis kondisi di Indonesia. Tapi di bandara Arlanda di Stockholm dan bandara Malmo di Malmo, Swedia, tidak ada lagi pekerja seperti itu. Petugas kebersihan, hanya datang sesekali untuk inspeksi dan membersihkan yang kotor. Memang gaji pegawai di sini mahal, selain jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak. Hal ini yang mendorong inovasi berbagai produk dan sistem yang mengefisiensikan keterlibatan orang seperti contoh di atas.

Contoh yang mengherankan adalah self-service bagagge. Cara kerjanya miirip dengan pom bensin self-service. Penumpang mencheck-in kan bagasi menggunakan anjungan mandiri lalu selain mendapat boarding pass juga mendapat stiker tag bagasi. Kemudian penumpang menaruh sendiri bagasi yang sudah ditempel tag-nya ke ban konveyor dengan alat timbang seperti lazimnya ada di konter check in di Indonesia. Tapi di sini, konter itu tapi tanpa penjaga, sehingga kemudian penumpang harus membaca barcode di tag itu dengan alat yang ada, sendiri pula. Bila timbangan melebihi 23 kg, maka ban konveyor tidak akan berjalan untuk mengantar tas bagasi ke dalam, tapi hanya berjalan bila sudah memenuhi syarat tersebut. Ini sistem yang baru pertama kali saya lihat. Kalau anjungan mandiri untuk check in, di Bandara Soetta juga sudah ada seperti di corner Air Asia, Terminal 3.

Upaya efisiensi kerja ini tentu menghasilkan banyak hal positif, seperti menghemat biaya yang pada akhirnya harga produk lebih murah sehingga masyarakat merasakan manfaatnya langsung. Apabila 1 pekerjaan dikerjakan oleh 3 orang dengan 3 pekerjaan dikerjakan oleh 1 orang, tentu berbeda hasilnya. Pilihan terakhir, membuat penghasilan orang meningkat, walau belum tentu juga identik dengan mengakibatkan pengangguran. Karena efisiensi melahirkan pekerjaan-pekerjaan baru. Inilah yang kiranya perlu dicontoh, bahwa efisiensi waktu dan pekerjaan perlu jadi perhatian bersama kita.  (*)

bankntb DPRD DPRD