Kuasai Data, Ungkapkan Fakta, Modal SAAT JAYA Atasi Masalah

oleh -10 views

SUMBAWA BESAR, SR (12/11/2015)

Memahami keinginan masyarakat harus diawali dengan identifikasi permasalahan. Dan dalam mengatasi permasalahan itu harus mampu mengidentifikasi potensi yang ada. Karena itu pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa, H Asaat Abdullah ST—Chandra Wijaya Rayes ST tidak ingin menjadi pemimpin yang tidak menguasai dan memahami kondisi masyarakatnya. Pasangan yang dikenal dengan sebutan SAAT JAYA ini harus mampu mengelola potensi dalam mengatasi persoalan masyarakatnya tanpa menimbulkan persoalan baru. Karena itu SAAT JAYA ingin menjadi dokter yang mampu mendiagnosa penyakit rakyatnya agar tidak salah memberikan resep yang justru berdampak pada terjadinya mall praktek. Pesan tersirat dan tersurat ini disampaikan calon pemimpin masa depan bernomor urut dua tersebut pada Debat Kandidat Jilid III di Lapangan Desa Sepakat, Kecamatan Plampang, Kamis (12/11). Dalam debat itu pasangan yang didukung Hanura, Nasdem, PKPI dan PPP ini mampu memaparkan data dan mengidentifikasi potensi. Sebenarnya ini tidak mengherankan karena pasangan tersebut telah menjadi bagian yang ikut terlibat dalam sejarah pembangunan di daerah ini sehingga sangat mengetahui siapa berbuat apa, dan apa yang diperbuat untuk rakyat.

Dalam paparannya SAAT JAYA menyebutkan bahwa penyakit masyarakat di bidang pertanian adalah keterbatasan sumberdaya air dan infrastruktur. Untuk itu, SAAT JAYA berkomitmen untuk mempercepat realisasi pembangunan tiga bendungan, yaitu Labangka Kompleks, Beringin Sila dan Kerekeh, 6 embung (Penyempeng, Sangkok Bawi, Tiu Rarang, Tiu Sabangka, Brang Nunang, dan Jurumapen), serta 250 daerah irigasi desa termasuk cekdam, dan 500 sumur bor. Dengan terwujudnya ikhtiar SAAT JAYA ini akan mampu meningkatkan lahan produktif pertanian seluas 49.200 hektar. Di atas lahan produktif tersebut dapat meningkatkan produktifitas komoditi-komoditi unggulan, seperti padi dan jagung. Sekarang Sumbawa memiliki potensi lahan untuk komoditi unggulan padi seluas 91.991 hektar. Yang sudah dimanfaatkan seluas 84.382 Ha. Dengan luas tersebut, sudah mampu memproduksi padi sebanyak 371.175 ton per tahun. Bahkan pada Bulan Juli 2015 ini Sumbawa mampu mengekspor padi/beras ke NTT sebanyak 8.950 ton.

Komoditi unggulan berikutnya adalah jagung dengan potensi lahan 28.581 Ha, dan yang sudah dimanfaatkan 24.782 Ha. Yang paling besar berada di Labangka dengan luas 10.000 Ha. Peningkatan produksi jagung setiap tahunnya rata-rata mencapai 46%. Bahkan Sumbawa sudah eksport jagung ke Pilipina sebanyak 134 ribu ton per Juli 2015. Artinya dengan meningkatnya lahan produktif pertanian, Sumbawa memiliki peluang untuk membangun industri pengolahan jagung dan industri tepung beras di Sumbawa. Dengan industri ini, Sumbawa bisa meningkatkan nilai tambah bagi petani dan membuka lapangan kerja baru. Karenanya SAAT JAYA berkomitmen membangun pabrik industri pengolahan jagung sebagai tepung dan pakan ternak, terutama di Labangka. Dengan adanya industri pengolahan jagung, tidak akan lagi eksport jagung dalam bentuk mentahan, tapi sudah dalam bentuk tepung dan pakan ternak. Atau dengan kata lain, dalam 5 tahun ke depan tidak akan ada lagi import tepung dan pakan ternak karena sudah bisa memproduksi sendiri. Untuk memperkuat infrastruktur penunjang, komitmen SAAT JAYA sangat jelas yaitu membangun jalan usaha tani sepanjang 400 kilometer. SAAT JAYA berkomitmen mempermudah akses petani terhadap sumber-sumber benih unggul dengan memperbanyak sumber benih/penangkaran benih pertanian, serta melindungi petani dari fluktuasi dan ketidakstabilan harga gabah, jagung, dan kelangkaan pupuk. Khusus untuk Kecamatan Plampang dan sekitarnya, dengan melihat potensi komoditi sawo yang cukup besar, SAAT JAYA berkomitmen mendorong berkembangnya sentra industri pengolahan sawo baik skala rumah tangga mauPUN industri kecil di Plampang. Demikian dengan komiditi bawang sangat baik berkembang di bagian timur. Untuk itu SAAT JAYA akan menjadikan kawasan timur Sumbawa sebagai sentra pengembangan varietas bawang unggul. Selanjutnya SAAT JAYA berkomitmen melindungi wilayah hutan sekitar Dodo, Jaran Pusang dan Penyempeng sebagai daerah tangkapan air bagi masyarakat Labangka, Plampang, Maronge, Empang dan Tarano, dengan memperkuat daerah tangkapan air sebagai sumber air baku dan irigasi masyarakat sekitarnya.

Baca Juga  Nasib Marbot Masjid: Terbaring Lemah, Badan Melepuh, Berobatpun Tak Mampu

Untuk pengembangan peternakan juga disentil dalam debat tersebut. Menurut SAAT JAYA, sebelum melakukan terobosan pengembangan ternak, SAAT JAYA merasa sangat perlu untuk menggambarkan potensi peternakan Kabupaten Sumbawa. Disebutkan, potensi lahan ternak Sumbawa sekarang mencapai 30.788,20 hektar dengan kemampuan produksi ternak sebanyak 320.373 ekor. Komoditi unggulan Sumbawa adalah sapi dan kerbau. Saat ini potensi ternak adalah Sapi Bali tahun 2014 berjumlah 214.177 ekor dengan tingkat pertumbuhan rata-rata pertahun 9,36%. Sapi Sumbawa populasinya mencapai 4.490 ekor dengan tingkat pertumbuhan rata-rata pertahun 16,79%. Kerbau Sumbawa populasinya 48.000 ekor dan terus mengalami penurunan, rata-rata 4,5% selama Tahun 2011-2014. Kuda Sumbawa populasinya berjumlah 37.786 dan mengalami menurun rata-rata 0,5% selama Tahun 2011-2014.

Dengan memperhatikan tren positif pertumbuhan populasi Sapi Bali dan Sapi Sumbawa yang terus meningkat, sepantasnya Sumbawa dipertahankan sebagai kabupaten penopang utama Bumi Sejuta Sapi (BSS) di NTB. Namun demikian, tren pertumbuhan kerbau cenderung menurun, padahal Sumbawa dulunya adalah basis peternakan kerbau. “Karena itu, kami berkomitmen mengembalikan Sumbawa sebagai basis peternakan kerbau dengan cara mengoptimalkan peran UPT Kerbau di Kecamatan Maronge, menciptakan program bagi-bagi bibit ternak kerbau, serta menindaklanjuti hasil kerjasama pengembangan kerbau antara Pemerintah Kabupaten Sumbawa dengan Italia yang sudah dirintis pemerintah saat ini,” jelasnya.

Secara umum, SAAT JAYA akan mengoptimalkan keberadaan LAR, yang merupakan kearifan lokal pola ternak Tau Samawa. Untuk itu, akan dilakukan revitalisasi LAR dengan mengeluarkan SK Bupati tentang Penetapan Kawasan LAR dengan potensi lahan seluas 24.470 Ha yang tersebar di 60 lokasi, kemudian mengembangkan mekanisme pengelolaan LAR secara kolaboratif antara pemerintah–kelompok peternak dan dunia usaha. Melalui revitalisasi ini, pemerintah dapat membangun kerjasama pengembangan ternak modern dan terintegrasi. Hal ini sejalan dengan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Silvopastura 2014, yang memberikan ruang pengembangan ternak dalam kawasan hutan. Kawasan tersebut akan dilengkapi dengan infrastruktur pendukung, mulai dari infrastruktur air, pakan ternak, hingga sarana, prasarana dan tenaga kesehatan hewan. Pengelolaan kawasan ternak akan disinergikan dengan pemanfaatan hasil hutan produksi dengan konsep agroforestri, sehingga sektor peternakan bisa bersinergi dengan sektor kehutanan dan pertanian. Sedangkan di sektor hilir kamitmen SAAT JAYA sangat jelas, yaitu mendorong berkembangnya industri pengolahan daging. Untuk itu pihaknya akan mengundang para investor yang berminat, memperkuat dan menambah RPH-RPH, dan memfasilitasi pasar hasil-hasil peternakan. Dengan demikian Sumbawa bisa meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan bagi petani ternak dan membuka lapangan kerja baru. Pada akhirnya, jika SAAT-JAYA menang, maka tidak ada lagi penjualan ternak utuh ke luar daerah. “Dan kami berkomitmen untuk menjadikan Sumbawa sebagai sentra agroindustri peternakan nasional,” tekadnya.

Baca Juga  Seru Acara NgomPol Bareng Djoko Edhi Abdurahman

Lalu apa strategi dalam meningkatkan produksi sektor perikanan dan kelautan di Kabupaten Sumbawa ? SAAT JAYA membeberkan gambaran potensi perikanan dan kelautan di daerah ini. Diterangkannya luas potensi daerah tangkapan ikan adalah 8.977.600 Ha dan yang sudah termanfaatkan baru 970.056,44 Ha atau 42,35% dari luas potensi yang ada dengan tingkat produksi sebesar 41.090.128 ton. Potensi areal perikanan budidaya 1.200 Ha dan pemanfaatannya baru 1,86 Ha atau 0,15% dengan tingkat produksi sebesar 197,60 ton. Untuk pengembangan budidaya rumput laut, potensi areal mencapai 14.950 Ha dan pemanfaatannya sebesar 5.940 Ha atau 39,7% dengan tingkat produksi 43.936 ton (basah).

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, komitmen SAAT JAYA adalah mendorong berkembangnya industri pengolahan rumput laut, terutama dengan memperkuat wilayah-wilayah potensial seperti Labuan Jambu/Labuan Aji, Teluk Santong, Sangoro dan sekitarnya, serta wilayah-wilayah potensial lainnya, sebagai sentra minapolitan rumput laut.

Untuk perikanan tangkap, SAAT JAYA akan mengupayakan pengadaan armada tangkap dengan kemampuan 10 GT, cool storage untuk tangkapan hasil budidaya udang dan ikan, mengembangkan budidaya ikan kerapu. SAAT JAYA juga akan memfasilitasi akses permodalan nelayan perikanan tangkap. Dalam hal ini sudah ada yang sukses sehingga bisa dijadikan model untuk desa-desa lain, seperti BUMDES lembaga keuangan mikro di Labuan Jambu yang modalnya sudah mencapai Rp 700 juta. Mendorong berkembangnya industri pengolahan rumah tangga berbasis hasil kelautan dan perikanan menjadi produk yang berdaya saing. Misalnya kerupuk atom di Empang dan Tarano, terasi serta masin Empang, yang citarasa siap bersaing sebagai produk khas Sumbawa. “Kita akan mendorong semua ini menjadi produk bercitarasa tinggi dan berdaya saing. Butuh sentuhan teknologi sehingga produk ini memiliki nilai tambah,” imbuhnya.

Selain itu, di sektor kemaritiman, SAAT JAYA berkomitmen untuk mempercepat realisasi darmaga umum Pelabuhan Teluk Santong sebagai penunjang mobilitas ekonomi masyarakat, mendorong berkembangnya industri garam. Mendorong Labuan Bontong sebagai sentra garam di Sumbawa timur, bersama dengan Labuan Mapin sebagai sentra garam di bagian barat. Menjaga potensi dan kelestarian laut dari tindakan pengeboman ikan (illegal fishing).

Di bagian lain paparannya, SAAT JAYA juga memberikan perhatian serius soal RTRW. RTRW ini didesain sehingga  mampu mengungkit pertumbuhan ekonomi. Upayanya adalah menjadikan kawasan timur Sumbawa sebagai kawasan ekonomi integratif berbasis agropolitan dan minapolitan, dengan mempercepat realisasi dermaga umum Teluk Santong. Memperkuat kawasan Teluk Saleh sebagai aquarium nasional dan jendela wisata bahari. Sekarang sudah dirintis dengan membangun jalur Samota. Memperkuat Labangka sebagai kawasan Kota Terpadu Mandiri (berbasis keunggulan pertanian, industri, peternakan). Memperkuat Empang Tarano dan Sumbawa selatan sebagai kawasan agropolitan (berbasis keunggulan pertanian, peternakan, kelautan, pariwisata, perdagangan dan jasa, perkebunan, pertambangan serta industri). Serta menjadikan Sili-Maci-Panubu-sebagai kawasan pariwisata unggulan. (JEN/SR)

bankntb DPRD DPRD