Inilah Alasan Polisi Tetapkan JH Sebagai Tersangka

oleh -23 views

SUMBAWA BESAR, SR (06/11/2015)

Penetapan JH—oknum pejabat di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) dalam kasus tindak pidana menyuruh menempatkan keterangan palsu ke dalam akta autentik, sudah melalui penyelidikan dan penyidikan yang cukup panjang. Dari proses ini, penyidik Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polres Sumbawa telah memeriksa sejumlah saksi, bahkan melibatkan ahli hukum pidana untuk mengurai kasus tersebut. Dari keterangan saksi dan bukti dokumen yang ada, polisi akhirnya menetapkan JH sebagai tersangka dan dijerat pasal 268 ayat 1 dan 2 KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara. Mengapa JH bisa jadi tersangka ?

Kapolres Sumbawa yang dikonfirmasi SAMAWAREA melalui Kasat Reskrim, IPTU Tri Prasetiyo, Jumat (6/11), mengatakan, dugaan tindak pidana yang menjerat tersangka (JH) ini berawal dari kasus jual beli tanah antara JH dan Adhe Santya Halim—seorang pengusaha Sumbawa. JH menjual tanahnya seluas 1,9 hektar yang berada di wilayah Benete, KSB. Karena lahan itu belum bersertifikat, JH bersedia mengurus sertifikat lahan dimaksud atas nama Adhe. Namun setelah sertifikat terbit, lahan yang tercantum hanya 31,85 are. Artinya terdapat kekurangan 1,6 Ha dari luas lahan yang telah dibeli. Tentu saja Adhe protes dan secara persuasif

meminta kekurangan tanah yang telah dibayar itu kepada JH. Sebagai bentuk itikad baik, JH pun menyerahkan tiga buah sertifikat yang lahannya berlokasi di Kabupaten Sumbawa sebagai jaminan pada Tahun 2003 lalu. Karena melihat niat baik JH, Ade menerima sertifikat tersebut sebagai jaminan hingga akta tanah di Benete sesuai dengan luas lahan yang dibeli. Setelah lama ditunggu, JH tidak terdengar khabarnya. Akhirnya Adhe menggugat JH secara perdata di PN Sumbawa. Dari proses gugatan ini terungkap jika JH sudah menggandakan sertifikat lahan yang dijaminkan kepada Adhe. Duplikat sertifikat itu diterbitkan sebelum tiga akta asli tersebut dijaminkan. Tragisnya lagi, lahan di sertifikat itu sudah dijual kepada orang lain. Ulah JH ini membuat Adhe merasa dirugikan. Usut punya usut melalui warkah dari BPN, terungkap jika sertifikat yang dijaminkan itu dilaporkan hilang oleh JH yang kemudian memperoleh surat keterangan hilang dari Polres Sumbawa. JH melaporkan sertifikat itu hilang di rumahnya. Surat keterangan inilah yang dijadikan salah persyaratan untuk menerbitkan duplikat sertifikat dimaksud. Padahal secara nyata sertifikat ini dijaminkan kepada Adhe Rajawali—sapaan akrab Boss SPBU Kebayan dan Utan ini. Dapat disimpulkan dalam warkah itu JH menempatkan keterangan palsu. ‘’Atas dasar ini kami melakukan penyitaan barang bukti dan pemeriksaan saksi-saksi termasuk saksi ahli,” ungkap IPTU Tri.

Baca Juga  Pasar Terbakar, 36 Lapak Sayur Hangus

Berdasarkan keterangan saksi ahli, bahwa rangkaian warkah sehingga timbulnya sertifikat merupakan akta autentik, dimana perbuatan JH ini diduga melanggar pasal 266 KUHP yakni menyuruh orang menempatkan keterangan tidak benar atau palsu dalam akta autentik. JH pun dipanggil sebagai tersangka setelah sebelumnya sempat hadir sebagai saksi.

Adhe Rajawali
Adhe Rajawali

Hal senada dikatakan Adhe Santya Halim yang akrab disapa Adhe Rajawali. Menurutnya, apa yang diputuskan hakim dan disampaikan Kasat Reskrim itu sudah benar dan sesuai laporannya. Ia mengaku telah membeli tanah kepada JH di wilayah Benete, KSB seluas 1,9 hektar. Lahan itu dibeli seharga Rp 12 juta, yang saat itu harga tanah di sana hanya Rp 3—4 juta per hektar. Namun setelah Tahun 2011, JH mengatakan jika lahan yang dijual bukan 1,9 Ha melainkan hanya 19 are. Padahal ungkap Adhe, kwitansi jual beli jelas-jelas tertera 1,9 hektar. Untuk mengelabuinya, JH membuat surat kesepakatan, perubahan kwitansi jual beli yang mencantumkan luas lahan 19 are bukan 1,9 Ha, serta dokumen lain, yang semua tertera tandatangan Adhe dan istrinya yang sebenarnya itu dipalsukan. (JEN/SR)

CAPTION: Kasat Reskrim Polres Sumbawa, IPTU Tri Prasetiyo

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.