Debat Kian Menarik, Paslon Saling Lempar Pertanyaan

oleh -15 views

SUMBAWA BESAR, SR (27/10/2015)

Debat Kandidat Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa semakin menarik. Ketiga pasangan saling lempar pertanyaan. Meski demikian, pertanyaan tersebut mampu dijawab secara lugas karena berkaitan dengan visi misi dan program yang mereka diusung.

Jack Morsa S.Adm—H Irwan Rahadi ST (JIWA) menjadi pasangan pertama yang mengajukan pertanyaan kepada pasangan HM Husni Jibril B.Sc—Drs H Mahmud Abdullah (HUSNI MO). Menurut JIWA, banyak pelecehan seksual terhadap anak dan perempuan di Kabupaten Sumbawa. Apa langkah strategis yang akan dilakukan HUSNI MO untuk menyikapi sekaligus memberikan perlindungan terhadap prempuan dan anak.

Terhadap pertanyaan itu HUSNI-MO mengatakan bahwa kekerasan yang menimpa anak dan perempuan terjadi di lingkungan masyarakat. Untuk mengurangi kejahatan itu HUSNI MO akan mendorong partisipasi masyarakat dengan cara membentuk jaringan dari atas hingga tingkat RT. Pelibatan masyarakat dinilai sangat penting dalam mengidentifikasi, melaporkan sekaligus memberikan perlindungan kepada korban kekerasan dari kalangan perempuan dan anak. “Kami sejak saat ini sudah membentuk jaringan itu mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, desa, dusun bahkan RT. Ini kami lakukan untuk mewujudkan Kabupaten Sumbawa sebagai daerah yang aman dan layak bagi perempuan dan anak,” jawabnya.

Tak hanya HUSNI MO, pasangan JIWA juga melontarkan pertanyaan kepada pasangan H Asaat Abdullah ST—Chandra Wijaya Rayes ST (SAAT JAYA). Ditanya JIWA, apa langkah SAAT JAYA dalam mengurangi pengiriman TKI illegal ke luar negeri. Menurut SAAT JAYA, langkah awal adalah memperkuat regulasi yang ada. Karena sampai sekarang TKI illegal asal Kabupaten Sumbawa yang berada di luar negeri mencapai 5000—6000 orang. Ini karena dari awal rekrutmen sudah terjadi manipulasi data baik umur dan status. Karena itu pada pra penempatan persoalan ini harus benar-benar diverifikasi agar datanya valid dan tidak terjadi manipulasi. Status illegal ini juga bisa terjadi setelah keberangkatan yang dilakukan secara legal. Sebab banyak TKI Sumbawa yang sudah berada di luar negeri melebihi masa kontrak atau dikenal dengan overstay, lari dari majikan dan kasus lainnya. Ini terjadi karena PJTKI dengan sengaja mendiamkan dan tidak memulangkan TKI tersebut mengingat tanggung jawab perusahaan pengerah tenaga kerja bukan hanya pada pra, dan saat penempatan, tapi juga purna penempatan.

Baca Juga  PKPI KSB Optimis Raih 3 Kursi di Pemilu 2019

Untuk diketahui, kasus buruh migran tahun 2014 adalah 154 kasus, sementara jumlah remitansi yang disumbangkan buruh migran sebesar Rp 101.700.921.437,10,- dan jumlah penempatan CTKI Tahun 2014 mencapai 4.337 orang. Melihat jumlah devisa yang sangat besar yang disumbangkan TKI melalui remitansi, maka harus ada fungsi perlindungan yang sebanding dari pemerintah daerah. Untuk itu SAAT JAYA akan menyediakan skema perlindungan dan asuransi yang manusiawi bagi TKI mulai dari proses pemberangkatan, pemulangan, hingga purna TKI.

Strategi selanjutnya adalah memperketat fungsi pengendalian dan pengawasan SKPD teknis agar tidak terjadi manipulasi data TKI dalam pemberangkatan buruh migran ke luar negeri. Memberikan pembinaan dan pelatihan intensif bagi eks TKI dan memfasilitasinya agar mampu mengembangkan usaha mandiri atau menjadi wirausaha baru. Komisi Perlindungan TKI (KPTKI) diperkuat hingga tingkat desa, memperkuat fungsi LLK/BLK sebagai balai pelatihan dan sertifikasi tenaga kerja. Selain itu mengurangi TKI penata laksana rumah tangga dan memperbanyak TKI formal berbasis  keahlian.

Debat Kedua pertanyaan 1Sesi kedua, giliran SAAT JAYA melontarkan pertanyaan. Kepada JIWA, SAAT JAYA menanyakan bagaimana singkronisasi sector fisik dan demokgrafi dengan bidang pariwisata dalam mendukung serta menarik minat wisatawan ke Sumbawa. Menurut JIWA, destinasi wisata membutuhkan infrastruktur yang memadai. Tidak bisa berbicara promosi wisata jika destinasinya tidak ditunjang dengan infrastruktur yang baik. Sumbawa memiliki potensi wisata alam yang luar bisa  mulai dari Air Terjun Mata Jitu Pulau Moyo Labua Aji, dan Air Terjun Agal Marente. Untuk mencapai obyek tersebut peran pemerintah daerah bagaimana mewujudkan infrastruktur dasar dalam menunjang wisata tersebut. Paling penting juga, sebelum infrastruktur dibuat, Pemda harus memiliki rencana induk tentang pengembangan pariwisata. Tata ruangnya harus jelas. “Jangan sampai membangun hotel, tapi di sebelahnya ada membangun gudang,” katanya. Demikian dengan penyiapan sumberdaya manusia (SDM) sebagai pendukung. Untuk berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, SDM harus ditunjang dengan kemampuan dalam berkomunikasi. JIWA akan mendorong Guru Bahasa Inggris untuk memberikan pendidikan bahasa kepada masyarakat.

Baca Juga  Kadisdikpora NTB: Jadikan Imtaq Sebagai Pondasi Utama Pelajar

Selanjutnya HUSNI MO mengajukan pertanyaan kepada dua calon tersebut. Kepada SAAT JAYA, HUSNI MO menanyakan bagaimana pasangan nomor urut 2 itu mensinergikan upaya pengembangan pariwisata dengan mempertahankan nilai-nilai luhur budaya Samawa. Dijelaskan SAAT JAYA, bahwa keharusan bagi mereka untuk meningkatkan nilai pariwisata tanpa lepas dari nilai-nilai luhur budaya Samawa. Budaya dan kesenian lain yang memperkaya khasanah budaya daerah ini sepanjang tidak bertentangan dengan adat istiadat budaya Samawa, akan terus didorong untuk berkembang. “Asal tidak melenceng dari itu, Sumbawa akan welcome terhadap segala sesuatu yang mendukung meningkatnya wisata dan budaya Sumbawa,” tandasnya.

Budaya dan agama di Sumbawa adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Seperti dua sisi dari satu mata uang. Itu tertuang dalam prinsip etik yaitu “adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah.” Karenanya budaya Samawa tidak boleh melenceng dari agama. Atas dasar itu SAAT JAYA menetapkan program unggulan penggalangan Gerakan Sumbawa Mengaji sebagai bagian dari identitas kebudayaan tau dan Tana Samawa. “Kami akan mempertahan identitas kebudayaan Samawa sebagai modal sosial pembangunan, seperti taket ko nene’ kangila boat lenge, yang tercermin dalam kepribadian tau dan Tana’samawa,” bebernya.

Tradisi-tradisi kebersamaan, seperti boat adat nyorong, basiru, bakalewang, dan lainnya akan dikembangkan sebagai kekayaan khazanah dan kearifan lokal. SAAT JAYA juga mengembangkan kurikulum pendidikan berbasis budaya lokal, mempromosikan industri kreatif seperti batik/tenun Sumbawa, memperbanyak event-event kebudayaan skala lokal hingga nasional, seperti rangkaian kegiatan dalam Festifal Moyo, menggagas Sail Samota, serta memperkuat peran Dewan Kesenian.

Sementara JIWA yang juga mendapat pertanyaan yang sama dari HUSNI MO menjelaskan, bahwa JIWA akan mengembangkan nilai-nilai religius dan budaya yang berlandaskan adat barenti ko syara, syara barenti ko kitabullah. Salah satu program unggulannya adalah gema masjid dengan mengembalikan nilai-nilai religius dan prinsip-prinsip hidup. JIWA juga akan mengembangkan wisata budaya dan bertekad menjadikan Sumbawa sebagai Jogjanya NTB. Untuk mewujudkan hal ini, JIWA akan memberikan perhatian maksimal kepada Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) untuk mengelola pariwisata budaya daerah. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.