JIWA Sebut IPM Sumbawa Posisi 10, Saat Jaya 6

oleh -6 views

HUSNI MO Kritisi JIWA dan SAAT JAYA  

SUMBAWA BESAR, SR (09/10/2015)

Ketersediaan tenaga medis masih menjadi persoalan di Kabupaten Sumbawa. Hal inilah yang menjadi salah satu penyebab angka harapan hidup dinilai masih memprihatinkan. Saat ini Kabupaten Sumbawa sangat kekurangan dokter spesialis terutama ahli jantung dan mata. Hal ini disebabkan tenaga medis tidak betah atau enggan untuk tinggal di Sumbawa. Pada Debat Kandidat yang digelar KPU Sumbawa, persoalan ini mengemuka. Program apa saja yang nanti akan diambil pasangan calon jika nanti terpilih pada Pilkada Sumbawa untuk periode 2016-2021 dalam rangka menjamin ketersediaan tenaga medis khussunya dokter spesialis, di samping mengdongkrak angka harapan hidup masyarakat.

Menjawab hal itu, Pasangan Jack Morsa S.Adm—H Irwan Rahadi ST (JIWA) menyebutkan, bahwa angka harapan hidup Kabuopaten Sumbawa masih berada di peringkat 10 di NTB. Jika JIWA terpilih angka tersebut akan ditekan dan ini sangat tergantung pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan peningkatan PDRB yang bermuara pada terciptanya kesejahteraan masyarakat. Untuk IPM tentu tidak terlepas dari pendidikan melalui peningkatan SDM dan sarana prasarana pendukung.

Terkait dengan ketersediaan tenaga medis, JIWA akan meletakkan kebijakan bagaimana dokter-dokter spesialis yang ada merasa aman dan nyaman. JIWA akan menjamin pendapatan dan fasilitas pendukung. Selain itu program JIWA akan menyekolahkan putra asli daerah yang berasal dari kalangan tidak mampu tapi pintar untuk menjadi dokter. Ini dilakukan agar nantinya mereka tidak lari dari Sumbawa karena memang daerah kelahirannya. JIWA telah memprogramkan pengadaan 150 dokter untuk 5 tahun kepemimpinannya. Tak hanya itu JIWA akan mengidentifikasi seluruh fasilitas kesehatan agar memenuhi standar pelayanan yang layak. JIWA juga akan membenahi pelayanan BPJS, sebab selama ini meski mengantongi BPJS masih diminta membayar. “Kami komitmen akan menjamin kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa,” tandasnya.

Baca Juga  Batu Dulang-Tepal Tagih Janji Gubernur

Sementara Pasangan H Asaat Abdullah ST-Chandra Wijaya Rayes atau yang dikenal dengan SAAT-JAYA sedikit berbeda dengan pasangan JIWA terutama predikat angka harapan hidup masyarakat Sumbawa. Disebutkan SAAT JAYA, angka harapan hidup Sumbawa berada di posisi 6 dari kabupaten/kota di NTB (bukan posisi 10  sebagaiman disebutkan JIWA).

Untuk meningkatkan IPM, lanjutnya, telah tertuang dalam visi misi pasangan berjargon Saatnya Sumbawa Jaya ini yaitu mewujudkan Sumbawa Pintar Sehat dan Berbudaya. “Kami ingin menargetkan IPM Sumbawa bergerak dari kategori sedang ke kategori tinggi dan tercapai dalam 5 tahun,” cetus Haji Saat—sapaan akrab calon Bupati Sumbawa. Untuk merealisasikan visi tersebut SAAT JAYA menetapkan 9 program unggulan di antaranya PERCEPATAN PENDIDIKAN dengan memberikan beasiswa untuk 2.500 siswa, mahasiswa, guru, pengawas dan tenaga kesehatan. Menuntaskan wajib belajar 12 tahun dalam tiga tahun dan menuntaskan rehabilitasi sekolah dalam dua tahun. Meningkatkan mutu pendidik dan fasilitas pendidikan secara merata, serta menggiatkan kerjasama dengan kampus-kampus lokal. Di samping itu memprogramkan pengembangan desa sehat mandiri dengan mempercepat pembangunan infrastruktur sanitasi dan air bersih berbasis rumah tangga, menggalakan gerakan PHBS, sadar jamban, dan kali bersih, meningkatkan kapasitas Kelompok Dasawisma dan kader-kader Posyandu.

Untuk menjamin ketersediaan tenaga medis, Saat Jaya telah memprogramkan PERCEPATAN LAYANAN KESEHATAN dengan merekrut 150 dokter dan 400 bidan/perawat, menguatkan puskesmas rawat inap dan sarana prasarana penunjang, meningkatkan insentif kader-kader Posyandu, dan menekan angka kematian bayi dan ibu serta angka gizi buruk menjadi nol kasus pada Tahun 2021. “Dokter yang ada sekarang hanya 76 orang dan masih kekurangan 150 sampai 200 dokter. Kami akan secara bersungguh-sungguh untuk mewujudkannya,” ujarnya.

Baca Juga  387 Orang Meninggal Dunia, Tanggap Darurat Gempa Lombok Diperpanjang,

Tak mau kalah, Pasangan HM Husni Jibril B.Sc—Drs H Mahmud Abdullah atau dikenal dengan Paket Husni-Mo mengkritisi jawaban dua pasangan lainnya. Menurutnya tidak sembarang menentukan tenaga medis dan dokter spesialis sampai 100-an orang karena ada standar perhitungannya. Disebutkan Husni Mo, setiap 100 ribu penduduk harus tersedia 16-17 dokter, ketika jumlah penduduk Sumbawa 300 ribu lebih persiapannya hanya 55 dokter dan ini tidak cukup besar. “Jadi keliru kalau sampai 150 dan 200 dokter,” tukasnya. Untuk itu konsep yang dibangun Husni Mo adalah dokter spesialis harus dilahirkan dari dari putra daerah ini. Yang sudah menjadi dokter harus diberi ruang untuk melanjutkan pendidikan ke spesialis, yang selama ini kesempatan itu belum diperoleh. “Kami akan memberikan dana khusus melalui APBD,” katanya. Ia menginginkan agar setiap tahun lahir 10 dokter, dan jika selama 5 tahun sudah mencapai 50 dokter dan ini sudah mencukupi kekurangan dokter sesuai dengan jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa. Kemudian tenaga medis lainnya, seperti perawat dan bidan masih sangat kekurangan. Untuk puskesmas yang rawat inap baru 6, yang tidak rawat inap masih 19 unit. Keberadaan tenaga medis di sejumlah puskesmas ini masih sangat minim. “Kami berupaya mengisi temaga medis. Dan puskesmas rawat inap harus harus hadir di tengah masyarakat wilayah kecamatan sehingga keberadaannya merata di semua wilayah,” pungkasnya. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.