HUSNI-MO Kritisi JM Tidak Adil Dalam Pembangunan

oleh -5 views

SUMBAWA BESAR, SR (09/10/2015)

Keberadaan infrastruktur di suatu daerah dapat menjadi factor utama dalam meretas keterisoliran, dan menjadi pemicu kemajuan serta pertumbuhan ekonomi. Setiap tahun infrastruktur ini harus ditingkatkan dalam mendukung pelayanan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun keberadaan infrastruktur ini dinilai belum memadai dan merata di setiap wilayah khususnya Kabupaten Sumbawa. Tentunya ini menjadi PR besar bagi pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa yang terpilih untuk mengemban estafet kepemimpinan sebelumnya. Pastinya harus ada komitmen untuk meningkatkan infrastruktur di semua wilayah.

Pada Debat Kandidat yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU), Kamis (8/10) kemarin, Pasangan H Asaat Abdullah ST—Chandra Wijaya Rayes ST sangat memahami kondisi infrastruktur di daerah ini karena menjadi pelaku dan terbilang pakar dalam persoalan tersebut ketika yang lainnya masih dalam tataran teori. Pasangan ini hanya tinggal melanjutkan sedikit pekerjaannya yang belum tuntas, jika diberikan kesempatan mengemban amanah rakyat untuk periode 2016—2021.

Dalam paparannya, pasangan dikenal dengan sebutan SAAT-JAYA ini mengatakan bahwa komitmen untuk meningkatkan infrastruktur di semua wilayah sudah tertuang di dalam visi dan misinya. Visi tersebut adalah Percepatan Penuntasan Infrastruktur, yaitu menuntaskan jalan mantap dalam tiga tahun selesai 100%, merintis program hotmix masuk desa, mempercepat pembangunan 3 bendungan, 6 embung, 250 daerah irigasi desa, dan 500 sumur bor untuk meningkatkan lahan  produktif seluas 49.200 hektar, serta membangun Jalan Usata Tani (JUT) 400 kilometer. Menuntaskan pembangunan jaringan listrik dan sarana air bersih di desa-desa terpencil serta memfasilitasi pembangunan tower telekomunikasi untuk desa-desa terisolir, mauoun mempercepat pembangunan 5 kawasan pariwisata unggulan berbasis budaya dan alam.

Dalam kesempatan yang sama SAAT JAYA juga menjawab pertanyaan pasangan JIWA mengenai jalan di wilayah selatan, Batu Lanteh, dan Orong Telu yang sampai sekarang belum dapat terpenuhi. Disebutkan SAAT JAYA, jalan wilayah selatan dari Sumbawa–Batu Dulang adalah jalan propinsi yang dibangun pada Tahun 1975. Kemudian jalan Batu Dulang—Tepal terus menuju Lenangguar dengan panjang 98 Kilometer sudah pernah dikerjakan pada Tahun 1995 dan kebetulan H Asaat Abdullah ST (Calon Bupati Sumbawa) adalah Pimpronya. Jadi SAAT JAYA lah yang pertama kali merintis untuk membuka jalur akses tersebut. Diakui SAAT JAYA untuk meningkatkan akses jalan tersebut masih terkendala terbatasnya anggaran yang dialokasi untuk infrastruktur dari sebelumnya hanya 1,78—2 persen dari dana APBD dan sekarang meningkat menjadi 4 persen karena ada Perda Jalan yang merupakan Perda inisiatif DPRD. Artinya dari Rp 1,4 T dana APBD Sumbawa pendanaan jalan hanya sekitar Rp 60 M untuk membiayai jalan sepanjang 951,51 kilometer. Strategi yang dilakukan dengan keterbatasan dana ini adalah menggunakan skala prioritas, salah satunya membuat UPR untuk wilayah selatan sepanjang 98 Km dengan menyiapkan alat berat di lokasi. Namun jika SAAT JAYA terpilih ditargetkan jalan tersebut akan tuntas dalam waktu tiga tahun.

Baca Juga  PP Belum Terbit, Pengisian 50 Sekdes Ditangguhkan

Sementara Pasangan HM Husni Jibril B.Sc—Drs H Mahmud Abdullah (Husni-Mo) menilai ada ketidakadilan pemerataan pembangunan infrastruktur di Kabupaten Sumbawa selama ini. Ada kecamatan yang samasekali tidak ada peningkatan infrastruktur, sebagian lagi hanya 10-20 persen, dan sebaliknya ada kecamatan yang infrastrukturnya memadai. Ia juga mengkritisi pembangunan jalan menggunakan skala prioritas berdasarkan kepentingan. Tak mengherankan masih banyak daerah terisolir yang tidak tertangani dan terlayani. Itulah 10 tahun kepemimpinan Drs H Jamaluddin Malik yang dinilai HUSNI MO tidak berkeadilan dalam pembangunannya. “Saya berada di Kecamatan Utan, sangat jauh tertinggal dengan pembangunan di Moyo Hilir dan Kecamatan Empang,” tukasnya.

Karenanya ketika HUSNI MO ditakdirkan memimpin Sumbawa akan memberikan perhatian utama pada persoalan infrastruktur ini. Pembangunan infrastruktur terutama jalan akan dilakukan secara secara adil dan menggunakan system kewilayahan. “Pembangunan infrastruktur di semua kecamatan harus sama dan merata agar memenuhi rasa keadilan dalam upaya meretas kesenjangan,” tandasnya.

Namun tudingan dan penilaian HUSNI-MO terhadap kepemimpinan JM ditepis pasangan JIWA (Jack Morsa—H Irwan Rahadi). Pasangan bernomor urut 1 ini mengingatkan untuk tidak saling menyalahkan. Menurutnya sebagai calon pemimpin tentunya menjadi tauladan dari masyarakat. Kekurangan yang dilakukan JM (Drs H Jamaluddin Malik) adalah kerja JIWA nantinya untuk melengkapinya jika diberikan amanat oleh masyarakat untuk memimpin Sumbawa. JIWA mengaku sangat memahami mengenai kondisi infrastruktur jalan di Kabupaten Sumbawa. Dari 951 kilometer jalan kabupaten, yang dalam kondisi mantap hanya 62 persen, dan jalan propinsi 70 persen dalam kondisi baik dari total panjang 365 kilometer.  “Kita tidak perlu menyalahkan siapa-siapa. Insya Allah kalau JIWA menang akan melakukan koordinasi yang baik ke tingkat propinsi dan pusat, bagaimana APBD propinsi kita bawa pulang untuk pembangunan ke Kabupaten Sumbawa dengan memanfaatkan 8 wakil kita di DPRD Propinsi,” ujarnya.

Baca Juga  Resmi Diketok, APBD Sumbawa 2018 Capai 1,666 Triliun

Yang paling penting lagi, harus mengidentifikasi permasalahan pembangunan jalan, seperti terkendala kawasan hutan lindung. Tugas pemerintah adalah bagaimana mengeluarkan dan memanfaatkan hutan lindung untuk pembangunan jalan. Hal ini mengingat keberadaan jalan sangat penting, karena menyankut pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karenanya JIWA menjamin dalam tiga tahun permasalahan infrastruktur ini akan dituntaskan. (JEN/SR)

BPSK dukacita dukacita bankntb

No More Posts Available.

No more pages to load.