Akhiri Ekspedisi, Bupati Tancap Bendera di Pulau Kalong

oleh -17 views
Tancap Bendera di Pulau Kalong

Ekspedisi Bahari Sumbawa 2015 (BAGIAN 3-HABIS)

SUMBAWA BESAR, SR (04/10/2015)

Sumbawa adalah salah satu kabupaten kepulauan di Indonesia dengan potensi kelautan yang sangat besar. Tercatat terdapat 63 pulau kecil dengan keindahan dan ekosistem bawah laut yang masih terjaga. Keberadaannya dinilai sebagai kekayaan yang diharapkan mampu memberikan konstribusi nyata bagi peningkatan ekonomi daerah dan terciptanya kesejahteraan masyarakat. Karenanya, pemerintah daerah memiliki perhatian yang sangat besar terhadap pulau-pulau ini. Untuk melihat dari dekat dan mengidentifikasi potensi gugusan pulau tersebut, salah satu upaya dengan melaksanakan Ekspedisi Bahari. Kegiatan yang telah dimulai Tahun 2014 lalu ini untuk mengetahui secara langsung dan lebih mendalam tentang kondisi kelautan dan pulau-pulau kecil di wilayah perairan Kabupaten Sumbawa. Setelah mengulang sukses melaksanakan Ekspedisi Bahari I di wilayah bagian timur Sumbawa, Tahun 2015 kembali digelar Ekspedisi Bahari II di wilayah perairan Kabupaten Sumbawa bagian barat. Ekspedisi selama dua hari, 2-3 Oktober 2015 yang langsung dipimpin Bupati Sumbawa Drs H Jamaluddin Malik ini mengunjungi gugusan Pulau Kramat, Bedil, Temudong, Pulau Panjang, Pulau Bungin, Pulau Kaung dan Pulau Kalong.

Pasir Putih Pulau Kalong
Pasir Putih Pulau Kalong

Setelah melewati Pulau Bedil, Pulau Temudong, dan Pulau Panjang, kapal INKA MINA yang mengangkut rombongan Bupati Sumbawa tiba di Pulau Kalong. Diberi nama Pulau Kalong karena sebelumnya di pulau tersebut banyak terdapat kalong (kelelawar). Tipologi pantai pada umumnya berpasir putih, tidak berpenduduk namun terdapat beberapa rumah singgah nelayan. Pulau Kalong berdekatan dengan Pulau Namo yang merupakan salah satu pulau di Kabupaten Sumbawa Barat tepatnya Desa Poto Tano, Kecamatan Poto Tano. Pulau Kalong adalah pulau terakhir yang menjadi tempat persinggahan rombongan Ekspedisi Bahari Sumbawa 2015. Inilah yang menjadi alasan bagi rombongan untuk mengukir sejarah dalam perjalanan selama dua hari ini, 2-3 Oktober 2015. Sebab Bupati Sumbawa beserta rombongan yang tiba di Pulau Kalong langsung menancapkan bendera berlambang Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa. Hal tersebut mempertegas bahwa Pulau Kalong berada di wilayah administratif Kabupaten Sumbawa, kendati saat ini masih berproses terkait adanya klaim Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) atas pulau dengan sejuta pesona dan kekayaan alamnya. Penegasan ini ditandai dengan bukti sejarah selain tapal batas kecamatan juga nelayan yang kerap singgah di Pulau Kalong berasal dari Desa Labuan Mapin yang menjadi bagian dari Kecamatan Alas Barat. Selain itu di Pulau Kalong dan perairannya, dimanfaatkan sebagai lokasi budidaya mutiara yang dikelola PT Selat Alas. Ijin pengelolaannya pun dikeluarkan pemerintah Kabupaten Sumbawa dan hingga kini terus diperpanjang. Perebutan oleh dua kabupaten ini menjadikan nama Pulau Kalong semakin dikenal luas, di samping potensi alam dan sumberdaya yang dimiliki.

Baca Juga  BRI Sumbawa Salurkan Bantuan PKH Capai 98 Persen
Lokasi Budidaya Mutiara di Pulau Kalong
Lokasi Budidaya Mutiara di Pulau Kalong

Menurut Bupati Sumbawa, Drs H Jamaluddin Malik, sebenarnya sengketa Pulau Kalong ini tidak akan terjadi jika dikembalikan pada data dan peta awal. Apalagi dalam UU menegaskan bahwa ketika terjadi pemekaran kabupaten maka batas antara kabupaten induk dan kabupaten yang dimekarkan adalah batas kecamatan terakhir. Demikian jika terjadi pemekaran kecamatan, maka batas kecamatan tersebut adalah batas desa terakhir. “Ini sudah sangat jelas, jadi tidak seharusnya dipersengketakan,” tukas JM—sapaan akrab Bupati.

Beberapa kali sudah digelar pertemuan untuk menyelesaikan tapal batas ini. KSB menginginkan agar garis batas digeser sesuai keinginannya yang konsekwensinya wilayah Sumbawa berkurang ratusan hektar. Bahkan dua pulau milik Sumbawa akan hilang yaitu Pulau Kalong dan Pulau Panjang karena diambil KSB. Menurut versi pemerintah KSB, masuknya Pulau Kalong dalam wilayah administratifnya, sudah mendapat dukungan Pemerintah Provinsi NTB yang ditandai dengan terbitnya SK Gubernur. Selain itu diperkuat dengan sejumlah dokumen antara lain sertifikat, baik itu sertifikat hak milik, sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) maupun Sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB). Terlepas dari sengketa tapal batas ini, Pulau Kalong menyimpan berbagai keindahan, mulai dari perpaduan panorama laut, pantai, bentang pulau, ekosistem darat dan laut, hingga pemandangan alam di sekitarnya. Potensi ini dapat dikembangkan untuk pariwisata berbasis bahari karena bisa memberikan kenyamanan tinggi bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan pulau tersebut.

Say Hello di Pulau Bungin
Say Hello di Pulau Bungin

Setelah hampir dua jam bercengkerama dengan keindahan Pulau Kalong sembari santap siang, rombongan pun beranjak untuk menuntaskan rute ekspedisi yakni menuju Pulau Bungin. Rombongan hanya mendekat dan tidak singgah di pulau terpadat di dunia ini. Dari atas kapal terlihat pulau yang didiami mayoritas Suku Bajo dari Sulawesi semakin luas dari sebelumnya hanya 8,5 hektar. Ini terlihat dengan mulai bertambahnya gundukan-gundukan batu karang yang menjadi awal pembangunan rumah bagi masyarakat Bungin. Gundukan ini juga yang menjadi tanda lahirnya keluarga baru melalui proses perkawinan.

Baca Juga  Setelah Bima, Filantra Bantu APD Tenaga Medis di Sumbawa
Ekspedisi finish di Pelabuhan Alas
Ekspedisi finish di Pelabuhan Alas

Dari Bungin, rombongan mengakhiri ekspedisinya di Pelabuhan Alas. Di sana sudah menunggu sejumlah mobil dan bus yang telah siap sedia membawa rombongan kembali ke Sumbawa, tentunya dengan membawa sejuta kenangan sekaligus harapan agar potensi kelautan dan pulau-pulau kecil yang terekam dalam Ekspedisi Bahari Sumbawa 2015 ini dapat dikelola secara maksimal dan dikembangkan secara terpadu untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. (JEN/SR)

 

bankntb DPRD DPRD