AKBP Muhammad SIK, Putra Satpam Jadi Kapolres

oleh -84 views
AKBP Muhammad SIK dan istri kini jadi Tau Samawa

Sumbawa Besar, SR (27/09/2015)

AKBP Muhammad SIK resmi menerima tongkat komando menggantikan AKBP Karsiman SIK MM sebagai Kapolres Sumbawa. Amanat ini diterimanya setelah selama dua tahun menjadi Kepala Satuan Patroli Jalan Raya (Kasat PJR) Direktorat Lalulintas Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (Dir Lantas Polda NTB). Meski telah menyandang jabatan baru sebagai orang nomor satu di jajaran Kepolisian Resort Sumbawa, namun kesederhanaan masih tampak pada diri perwira yang gemar bulutangkis, tenis, golf dan mantan pelari ini. Kesederhanaan ini bukan tanpa alasan, karena Muhammad bukan berasal dari kalangan berpunya, tapi masyarakat biasa yang hidup di bawah garis kemiskinan.

AKBP Muhammad SIK tak pernah membayangkan bisa menjadi Kapolres dengan pangkat dua melati di pundak. Lahir dari keluarga yang hidupnya pas-pasan membuatnya tidak ingin berpikir yang muluk-muluk. Ayahnya hanya seorang Satpam di sebuah rumah sakit swasta dan ibunya hanya wanita biasa yang hidup di lingkup rumah tangga. Dapat dibayangkan menghidupi tiga orang anak dengan kondisi demikian, bisa makan saja sudah syukur, apalagi mendapat tambahan dari hasil pekerjaan.

Sebagai anak laki satu-satunya dari tiga bersaudara, Muhammad memiliki tanggung jawab yang besar. Meski anak kedua, Ia harus bisa menjadi tulang punggung keluarga. Karenanya apapun pekerjaan tetap dilakoninya asalkan halal, mulai dari penggali pasir hingga menjadi peladen (pembantu tukang batu). Namun demikian, sekolah tetap menjadi nomor satu. Sejak duduk di bangku SD hingga SMA, Muhammad selalu menjadi yang terdepan dalam prestasi. Menurutnya, keterbatasan ekonomi tidak menjadi hambatan untuk berprestasi. Dinilai sebagai siswa yang cerdas, tak heran jika Muhammad mendapat tawaran melanjutkan sekolah ke jenjang kuliah tanpa tes melalui jalur khusus (PMDK). Tawaran itu datang dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta—sebuah perguruan tinggi ternama yang telah melahirkan para tokoh dan pemimpin bangsa. Mengingat kondisi ekonominya pas-pasan, Muhammad mengabaikan undangan tersebut. Karena untuk kuliah, bukan hanya biaya pendidikan yang harus dipikirkan, tapi juga biaya hidup. Ini terasa sangat berat baginya. Tapi Muhammad lebih tertarik untuk mendaftar di AKABRI meski diketahui sangat sulit, selain seleksi ketat, persaingan berat, juga kabarnya harus berduit. Apa salahnya mencoba, katanya. Setelah lulus SMA Tahun 1993, Muhammad mulai mengurus segala persyaratan administrasi seperti KTP, surat keterangan kelakuan baik dan lainnya. Saat itu mendaftar AKABRI di Kodam setempat yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya. Muhammad harus berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk mendapatkan angkot yang mengantarnya ke Kodam. Biasanya Muhammad menumpang sepeda motor rekannya yang berprofesi sebagai loper koran. Kebetulan Loper ini mengambil koran di agennya yang berada dekat Kodam. Tes pertama, Muhammad gagal. Tapi karena tekadnya sudah bulat untuk tetap masuk AKABRI, Muhammad kembali mencoba untuk yang kedua kalinya pada Tahun 1994. Rentang waktu setahun 1993—1994, pasca tidak lulusnya pada tes pertama, Muhammad mengisi waktu dengan menjadi kuli bangunan. Bahkan ketika ada panggilan untuk mengikuti tes, Muhammad sedang menyelesaikan pekerjaan bangunan rumah tetangga di kampungnya dengan menjadi pembantu tukang. Usaha dan doa Muhammad membuahkan hasil, dia diterima dan mengikuti pendidikan hingga akhirnya dinyatakan lulus AKPOL (sebelumnya AKABRI). Dengan pangkat perwira (Inspektur Polisi Dua/IPDA) Muhammad ditugaskan di Medan Sumatera Utara. Katanya, SKEP pertama penempatan adalah yang akan menentukan jodoh. Benar saja, Muhammad ditakdirkan bertemu dengan dara cantik Medan, Viviani Arfah yang kemudian menjadi istrinya dan dikarunai tiga orang anak, dua putri dan satu putra. Kariernya terus menanjak, beberapa kali menjabat Kapolsek, Kabag Ops, hingga Wakapolres. Demikian dengan tempat tugasnya, kerap berpindah-pindah termasuk bertugas di Polda Maluku yang merupakan daerah konflik. Selama 6 tahun bertugas di Maluku, hampir setiap hari menangani konflik. Muhammad melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan lulus Tahun 2006 dengan menyandang gelar SIK (Sarjana Ilmu Kepolisian). Sebagai syarat untuk menjadi Kapolres, Muhammad ikut SESPIM pada Tahun 2012 hingga akhirnya dipindahkan ke Polda NTB menjabat sebagai Kasat PJR selama dua tahun. Jabatan ini sangat berkesan baginya, selain terlama, juga terbaru sekaligus tantangan, karena sebelumnya berlatar belakang Reskrim. “Ini tantangan dan harus bisa, karena polisi ini umum harus bisa menguasai semua fungsi,” ucapnya saat ditemui SAMAWAREA di ruang kerjanya, kemarin.

Baca Juga  Tumbuhkan Jiwa Nasionalisme, Dikpora KSB Gelar Lomba Upacara

Dengan raihan kesuksesan ini, perwira yang hobbi olahraga tersebut mengaku sangat bersyukur jika kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. “Ini patut disyukuri, selain jabatan ini nikmat juga amanah. Jika kita mampu bersyukur dengan nikmat yang diberikan, maka Allah akan melipatgandakan nikmatnya,” ucap Muhammad.

Karenanya Ia selalu mengingatkan jajarannya, bahwa keterbatasan bukan hambatan dalam meraih kesuksesan, dan kesederhanaan bukan hinaan untuk menjadi yang terdepan. Untuk itu sikap sederhana masih membekas pada diri AKBP Muhammad, dan ini akan diterapkan kepada jajarannya. Ia juga selalu mengingatkan kepada para anggotanya untuk tidak hidup berlebih-lebihan, sebagai rasa empati kepada orang lain yang hidupnya kurang beruntung. (Jen/SR)

bankntb DPRD DPRD